Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petani Harus Alih Tanam Demi Produktivitas di Musim Hujan

Jawanto Arifin • Senin, 21 Desember 2020 | 23:30 WIB
PANEN: Lahan pertanian di Desa Prasi, Gading, memanen cabainya, beberapa waktu lalu. Varietas tanam ini mulai mengalami penurunan Produktivitas saat musim hujan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
PANEN: Lahan pertanian di Desa Prasi, Gading, memanen cabainya, beberapa waktu lalu. Varietas tanam ini mulai mengalami penurunan Produktivitas saat musim hujan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
DRINGU, Radar Bromo - Musim hujan yang berlangsung di Kabupaten Probolinggo mempengaruhi produktivitas tanam lahan pertanian. Ada yang mengalami penurunan dan mengalami peningkatan. Contoh peningkatan ini seperti lahan sawah yang ditanami padi.

“Untuk tanaman padi saat ini produktivitasnya mulai naik. Hal itu disebabkan adanya hujan, di mana para petani sudah mulai beralih tanam kepada padi. Utamanya di wilayah yang sebelumnya sulit air. Untuk produktivitasnya bisa sampai 7 ton per hektare,” ujar Kasubbag Perencanaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Murfi Anggoro.

Produktivitas mulai turun terjadi pada varietas tanam cabai kecil dan besar. Saat musim kemarau, produktivitasnya ada pada kisaran 200 ribu kuiintal per hektare untuk cabai kecil. Sedangkan cabai besar ada pada 51 ribu kuintal per hektare.

Nah, saat musim hujan, untuk cabai akan menurun. Berbeda saat musim kemarau. Di samping itu, pada musim hujan para petani juga banyak yang beralih tanam pada padi. Jadi produksinya juga berkurang,” ujarnya.

Meski cuaca berpengaruh pada produktivitas, kata Murfi, petani lebih pentingnya melakukan kontrol pada lahan. Hal terbut agar para petani dapat memaksimalkan hasil panen nantinya. Kontrol tersebut bisa dilakukan jika petani mengecek lahannya secara langsung.

“Kontrol tiap 4 kali seminggu itu perlu dilakukan. Agar petani bisa mengerti sesuatu apa yang ada di lahannya. Sehingga apabila ada kerusakan, bisa cepat diatasi. Jika tak pernah datang ke lahan, maka saya yakin sulit mendeteksi kemudian mencegah apa yang menjadi gangguan pada tanamannya,” ujarnya. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin
#alih tanam musim hujan #pertanian kabupaten probolinggo