Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Anggaran Kurang, Tak Mampu Upgrade Alat EWS, BPBD Andalkan Cara Manual

Jawanto Arifin • Senin, 9 Desember 2019 | 16:20 WIB
Photo
Photo
DRINGU, Radar Bromo - Keterbatasan kemampuan APBD Kabupaten Probolinggo, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten setempat harus gigit jari. Pasalnya, pengajuan pengadaan atau upgrade early warning system (EWS) atau alat pantau ketinggian sungai yang rusak, tidak bisa terealisasi di tahun depan.

Untuk upgrade EWS, memang membutuhkan dana yang tak sedikit. Besarnya kebutuhan anggaran untuk pengadaan/upgrade satu alat EWS bisa mencapai sekitar setengah miliar.

Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi saat dikonfirmasi mengatakan, di tahun 2020, tidak ada alokasi anggaran untuk kegiatan pengadaan atau upgrade EWS. Karena mahalnya pengadaan untuk upgrade EWS menjadi kendala. Sedangkan di sisi lain, kemampuan APBD terbatas.

”Mahal, Mas, untuk beli alat EWS itu. Kalau upgrade alat EWS itu perkirakan satu alatnya sekitar Rp 500 juta,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (8/12).

Anggit menjelaskan, anggaran yang melekat di BPBD Kabupaten Probolinggo tahun depan hanya cukup untuk perbaikan. Itu pun hanya berkisar Rp 50 juta. Sedangkan kondisi alat EWS yang sudah rusak, tidak bisa sekadar diperbaiki. Tetapi, dibutuhkan upgrade terbaru atau sama halnya ganti alat baru. Sehingga, anggaran yang dibutuhkan cukup besar.

”Alat EWS itu memang sudah waktunya upgrade. Karena alat itu dibeli sekitar 5 tahun lalu. Nah, aplikasi EWS yang rusak itu, tidak sesuai dengan aplikasi EWS terbaru. Sehingga, dengan upgrade sama halnya pengadaan baru,” terangnya.

EWS, kata Anggit, umumnya dipasang di sungai-sungai. Sebagai antisipasi terjadinya banjir. Sebab, dengan adanya alat EWS itu, saat terjadi kenaikan ketinggian air sungai, langsung terdeteksi. Kemudian, petugas yang mantau alat EWS itu langsung bisa mengimbau pada petugas dan warga sekitar lokasi sungai.

”Menghadapi musim hujan, alat EWS ini sangat dibutuhkan. Karena saat sudah musim hujan, ketinggian air sungai berubah-ubah. Adanya banjir yang akan terjadi bisa dipantau dengan ketinggian air sungai,” terangnya.

Dengan kondisi saat ini, dikatakan Anggit, pihaknya pun tidak bisa andalkan EWS untuk deteksi ketinggian air sungai. Namun, dirinya mengandalkan cara manual, yaitu komunikasi by phone atau HT. ”Nanti andalkan cara manual. Yaitu, komunikasi dari para relawan,” ujarnya.

Kendalanya, pengecekan manual ini memang lebih mengandalkan tenaga manusia. Petugas juga harus semakin waspada, terutama jika hujan mulai intens turun saat musim hujan. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin
#bpbd kabupaten probolinggo #risiko banjir #ews #early warning system