Sebelumnya, Pemprov Jatim mewacanakan akan dibangun kereta gantung di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kabarnya, wacana tersebut sudah disampaikan kepada pemerintah pusat. Nanun, hingga kini kelanjutan wacana itu masih belum ada kabar lanjutan.
Meski begitu, PHRI Kabupaten Probolinggo meminta wacana tersebut untuk dikaji ulang. Pasalnya, dari pada membangun sebuah kereta gantung, lebih baik dilakukan pembangunan sarana prasarana.
"Kereta gantung itu kan identik dengan wisata buatan. Sedangkan Bromo identik dengan wisata alam. Melihat dua sisi itu kami meminta jika memang mau diterapkan untuk di kaji ulang,” kata Digdoyo Djamaluddin Ketua PHRI setempat.
Belum lagi melihat para pelaku wisata yang ada di Bromo. Menurut pria yang akrab disapa Yoyok itu, jika nantinya wacana itu terealisasi, dikhawatirkan pelaku wisata akan sepi. Contohnya ojek kuda, jip dan lain sebagainya.
"Otomatis para wisatawan kan akan melihat keindahan Bromo dari kereta gantung. Karena itu, usaha yang dibawa akan sepi,” tuturnya.
Untuk itu, sekali lagi, pihaknya meminta untuk dilakukan pertimbangan. Bila perlu, pemerintah membenahi dulu sarana dan prasarana yang masih banyak kurang. "Kami kira itu yang terbaik. Jadi di kaji lagi baik dan buruknya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo setempat, Yulius Christian mengatakan, pihaknya belum mendengar jelas secara pasti mengenai wacana itu. Menurutnya, jika itu memang akan dilakukan, maka tidak boleh mematikan jasa wisata yang ada. Perlu adanya kajian yang kompleks terhadap dampaknya.
"Kami masih belum mendengar jelas terkait itu. Tetapi, perlu ada kajian jelas mengenai dampak dari adanya kereta gantung itu,” tuturnya.
Yulius menambahkan, keberadaan kereta gantung harus bisa membangkitkan ekonomi pariwisata lokal. Sehingga, tidak malah mematikan tetapi menghidupkan. "Dengan demikian saling ada timbal baliknya,” ungkapnya. (sid/fun) Editor : Jawanto Arifin