Kondisi itu membuat kecewa keluarga jamaah. Salah satunya Badrus Sholeh, putra pasangan suami istri (pasutri) yang ikut menjadi korban. Kepada Jawa Pos Radar Bromo, Badrus mengatakan, total ada 32 orang yang ikut biro travel umrah bernama PT Shabilla Ebaldo Utama. Pihak keluarga juga tak mengetahui darimana keluarga mendaftar. Namun, mereka mendapat informasi bahwa biro umrah tersebut berasal dari Sidoarjo.
Badrus menceritakan awal mula keluarganya yang berangkat. Mereka berangkat bersamaan tanggal 2 Mei kemarin. Namun, ternyata dibagi dua kloter. Kloter pertama 14 orang berangkat tanggal 2 Mei dan kloter dua ada 18 orang berangkat tanggal 6 Mei.
"Adik saya ikut kloter pertama dan orang tua saya kloter ke dua. Harusnya, kloter pertama pulang Kamis (9/5) dan orang tua saya besok (12/5). Tapi, ternyata adik saya tidak bisa pulang. Bapak-ibu saya juga gak bisa pulang karena tidak ada tiket buat pulang," kata Badrus.
Badrus menjelaskan, dirinya sempat menghubungi adik dan orang tuanya di Madinah. Dari pengakuan keluarganya, ternyata pendamping dari pihak biro travel sudah menghilang. Terus, selama ini para jamaah umrah membayar sendiri penginapannya. Karena Kamis lalu sudah waktunya chek out. Bahkan, orang tuanya sempat awal datang ke Madinah harus tidur di depan hotel.
"Keluarga saya ikut paket umrah 9 hari. Kami bayar per orang hanya Rp 6,5 juta karena sisanya gunakan dana talangan dari biro travel. Aslinya paket 9 hari itu bayar Rp 23 juta," terangnya.
Media ini mencoba mencari tahu biro travel PT Shabilla Ebaldo Utama. Namun, tak ada informasi yang bisa dikorek lantaran pihak keluarga juga tak mengetahui secara detail.
Sementara itu, adanya kasus puluhan jamaah umrah asal Desa Ambulu yang masih tertahan di tanah suci, sudah diketahui DPR RI. Salah satunya, H. Hasan Aminuddin, anggota DPR RI Komisi VIII. Lelaki yang pernah menjadi Bupati Probolinggo tersebut mendesak keluarga korban untuk segera melapor ke kepolisian.
Hal itu disampaikan Hasan Aminuddin pada Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (12/5). Saat dihubungi via telepon, Hasan mengaku juga mendapatkan informasi terkait puluhan jamaah umrah yang tidak bisa pulang. ”Semalam saya juga dapat informasi itu. Mereka informasinya orang Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih,” katanya.
Hasan menegaskan, dirinya sudah sering kali mengingatkan pada semua warga Kabupaten Probolinggo agar tidak percaya pada biro travel umrah yang menawarkan harga murah di luar tarif biasanya. Itu, selalu diingatkan dan disampaikan tiap ada pertemuan, pengajian, ataupun kesempatan lainnya.
”Jika memang mereka hanya disuruh bayar Rp 10 juta bisa berangkat umrah, iya benar mereka akan berangkat saja. Tapi, tidak jelas soal penginapan dan proses kepulangannya. Karena bayar Rp 10 juta itu, bisa jadi hanya cukup untuk tiket pesawat berangkatnya,” ungkapnya.
Hasan menambahkan, jika benar merasa ditipu dan kesulitan untuk pulang, maka pihak keluarga diminta segera melapor ke Polres setempat. Karena menurutnya, itu jelas murni tindak pidana penipuan. Selanjutnya, pihak kepolisian untuk segera mengusut dan menangkap para pelaku makelar ataupun PT yang melakukan penipuan tersebut, sesuai MoU Kementerian Agama dengan Kapolri dan Satgas Umrah. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin