Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Syubbanul Muslimin, Terbentuk Karena Keresahan Melihat Pemuda

Jawanto Arifin • Selasa, 7 Mei 2019 | 19:02 WIB
Photo
Photo
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mensyiarkan agama Islam. Salah satunya berdakwah melalui kesenian. Seperti dilakukan Majelis Salawat Syubbanul Muslimin asal Ponpes Nurul Qodim, Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

-----------------

Di era milenial seperti sekarang, kehidupan bebas terjadi. Mulai dari mabuk-mabukan hingga main perempuan dianggap biasa. Perbuatan buruk ini juga banyak dilakukan para pemuda. Bahkan, mereka yang masih tergolong anak-anak.

Keresahan dan keprihatinan melihat kehidupan para pemuda ini menjadi cikal bakal berdirinya Majelis Salawat Syubbanul Muslimin. K.H. Hafidzul Hakiem Noer pun bertekad untuk terus berdakwah. Digagaslah dakwah yang sekiranya bisa memasuki semua kalangan. Terutama para pemuda.

Karenanya, kemudian timbul untuk memadukan dunia dakwah dengan kesenian. Gus Hafidz -panggilan akrab K.H. Hafidzul Hakiem Noer- mengatakan, awalnya yang tergabung dalam majelisnya hanya sekitar empat puluh pemuda. Namun, kini sudah ribuan.

Apalagi, semakin seringnya ada lagu-lagu salawat yang memang dirancang untuk menggaet para pemuda. “Dakwah kami memang ditujukan untuk anak muda. Anak muda itu kan senang terhadap musik. Sehingga, kemudian kami padukan antara salawat dengan musik. Kami juga teringat pepatah dari Bung Karno, berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncang dunia,” ujarnya.

Ulama muda ini mengatakan, selain dari kata proklamator, ia juga terinspirasi dari ulama. Yaitu, Syubbanul Yaum Rijalul Ghod. Yang artinya, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. “Jika pemudanya bagus, maka pemimpinnya juga akan bagus di masa depan,” ujarnya.

Layaknya seorang ulama ketika berdakwah, Gus Hafidz mengaku, meski punya keinginan memadukan dakwah dengan musik, pihaknya tak langsung mendirikan majelis salawat. Sebelum memutuskan mendirikan majelis ini, pihaknya mengumpulkan sejumlah pemuda. Mereka diminta pendapatnya dan ditawarkan antara kegiatan tahlilan dengan salawatan.

Namun, ternyata para pemuda yang ditawari itu memilih salawatan. Karenanya, pada 2005 lalu berdirilah majelis salawat dengan bendera Syubbanul Muslimin. “Tapi, saya ingin lebih mengena lagi. Apalagi kalau berbahasa Arab mereka tidak mengerti. Sehingga, kemudian timbul lagu-lagu berbahasa Indonesia, Jawa, dan Madura. Metode dakwah inilah yang menyentuh mereka,” ujarnya.

Menurutnya, metode dakwah semacam ini sangat efektif untuk mengingatkan kaum muda. Selain mereka turut larut dalam salawat dan lagu-lagu yang dibawakan, juga langsung meresapi. Ia mencontohkan seperti halnya lagu ibu.

“Tidak terbayang rintihan tangismu, di saat melahirkanku. Itu sepenggal bait lagu. Ketika itu dibawakan, membuat banyak anak muda yang tersentuh. Mereka menangis dan mengingat ibunya,” jelasnya.

Dakwah dengan cara berkesenian ini dilakukan karena tidak terlepas dari kedatangan Islam ke Indonesia. Menurutnya, Islam datang dengan budaya. Sehingga, budaya dan Islam tidak bisa dilepaskan. “Hadrah itu budaya. Para Wali Songo dulu datang mensyiarkan Islam dengan berbudaya. Jadi, budaya tidak bisa lepas di Indonesia,” jelasnya.

Syubbanul Muslimin sendiri telah banyak diundang ke berbagai tempat. Bukan hanya di Indonesia. Melainkan sudah pernah bersalawat di luar negeri. Seperti di Taiwan, China, Hongkok, dan Singapura. “Di Indonesia, alhamdulillah sudah hampir seluruh daerah kami berdakwah. Hanya tinggal di Papua kayaknya yang belum. Jamaah kami bukan hanya di Probolinggo, tapi SyubbanLovers Nusantara juga ada di luar negeri,” ujarnya.

Gus Hafidz mengatakan, Syubbanul Muslimin dibentuk hanya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. “Tujuannya hanya itu. Hanya ingin mengajak para pemuda lebih dekat dan cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Ketika dekat, maka akan cinta. Beribadah pun akan semakin enak,” ujarnya. (sid/rud) Editor : Jawanto Arifin
#ramadan #pejuang kebaikan #seni islami probolinggo