Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi mengatakan, empat jembatan darurat semipermanen di Desa Andung Biru telah rampung dibangun. Namun, hanya satu jembatan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.
”Tiga jembatan lainnya itu hanya bisa dilalui pejalan kaki atau sepeda motor. Karena dulunya memang jembatan untuk sepeda motor,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.
Anggit –sapaan akrabnya– menjelaskan, untuk jembatan semipermanen yang bisa dilalui roda empat, dipasang rambu-rambu. Dimana, rabu itu tertulis maksimal beban kendaraan yang melintas jembatan tersebut adalah 3 ton. Karena jembatan tersebut bersifat darurat dan semipermanen.
Dikhawatirkan ada masyarakat beranggapan jembatan itu sudah permanen dan semua kendaraan bisa lewat. “Jembatan darurat semipermanen itu sampai menunggu pembangunan jembatan permanen. Jadi, kalau kendaraan yang beratnya lebih 3 ton, dilarang melintas,” jelasnya.
Seperti truk yang ada muatannya, menurut Anggit, tidak boleh lewat. BPBD pun sudah meminta pada pihak desa untuk mengawasi. Dikhawatirkan, jembatan itu putus sebelum dibangun jembatan permanen karena ada truk muatan yang melintas.
Disinggung soal rencana pembangunan jembatan permanen, Anggit mengaku masih belum dapat memastikan. Dimana, pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mengajukan bantuan ke Kementerian PU untuk dilakukan pembangunan jembatan yang terdampak bencana.
“Kalau jembatan yang ada ini ukuran panjang 14 meter dan lebar 3 meter. Jadi, bisa dilalui kendaraan roda empat. Tapi, jangan melebihi berat 3 ton,” ungkapnya. (mas/rf) Editor : Jawanto Arifin