Mayoritas, sekolah yang mengalami kekurangan guru berada di wilayah dataran tinggi. Yaitu, seperti di daerah Kecamatan Sukapura, Sumber, Tiris, Krucil, dan juga daerah lainnya.
"Kami memang kekurangan guru. Terutama yang ada di daerah pegunungan. Itu, tidak kami pungkiri,” terang Dewi Korina, kepala Dispendik.
Perempuan yang akrab disapa Dewi itu menjelaskan, pihaknya juga tidak menampik dengan adanya rekrutmen CPNS pada tahun lalu itu tidak terlalu membantu mengurangi permasalahan kekurangan jumlah guru. Sebab, menurutnya, minat yang mendaftar CPNS sebagai guru tidak banyak. Itu pun ada yang tidak lulus.
"Begitulah kondisinya. Apa lagi tidak setiap tahun bisa menambah CPNS. Jadi, memang harus memiliki inovasi dan gagasan tersendiri biar bisa mengatasi hal ini,” katanya.
Sejak 2018 lalu, pihaknya sudah menerapkan kelas rangkap. "Jadi, dalam satu ruangan ada dua kelas dan satu guru,” terangnya.
Saat ini yang diberlakukan sekolah rangkap ada 8 sekolah. Semuanya, sekolah itu berada di Kecamatan Sukapura. Kenapa masih satu kecamatan yang diberlakukan sekolah rangkap? Pihak dinas beralasan guru yang ditugaskan mengajar di kelas itu tidak sembarangan. Yaitu, harus memiliki keterampilan tersendiri untuk mengajar dua kelas secara bersamaan.
"Alhamdulillah sudah berjalan. Untuk mengajar di sekolah rangkap itu, gurunya harus memiliki pengetahuan lebih. Sebab, tidak setiap guru bisa mengajar di kelas rangkap," tandasnya.
Tahun ini, kelas rangkap akan merambah ke Kecamatan Sumber. Sebab, di sana juga kekurangan guru. “Semoga saja bisa berjalan seperti halnya di Sukapura. Nantinya, guru yang akan mengajar di kelas rangkap itu akan diberikan pelatihan terlebih dulu," tandasnya. (sid/fun) Editor : Jawanto Arifin