Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Curhat Warga Andungbiru usai Diterjang Banjir Bandang dan Longsor

Muhammad Fahmi • Kamis, 13 Desember 2018 | 17:48 WIB
Photo
Photo
Sehari pascabencana banjir bandang dan longsor di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, kondisi di lokasi masih tidak banyak berubah. Banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi ke kediaman kerabat atau tetangga. Yang mereka butuhkan saat ini adalah ketersediaan logistik yang cukup.

ARIF MASHUDI, Tiris

AKSES jalan Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, masih terganggu dengan timbunan longsor. Dua alat berat pun diturunkan untuk membersihkan akses utama tersebut. Hanya saja, proses pembersihan timbunan longsor itu belum menyeluruh.

Di sepanjang jalan desa, tampak warga tengah membersihkan rumah-rumahnya. Ada pula rumah yang memang dibiarkan begitu saja karena sisa lumpur begitu tebal dan menempel di tembok rumah. Sehingga, warga pun memilih untuk tidak menempati rumah tersebut.

Bagi warga yang rumahnya tidak terdampak bencana, memberikan bantuan pada warga lainnya. Mulai membersihkan material longsor atau memberikan ruangan untuk ditinggali sementara.

Sejumlah posko sudah berdiri di Dusun Krajan, Desa Andungbiru. Mulai dari posko bantuan BPBD, posko kesehatan, posko TNI. Namun, belum tampak dapur umum yang ada di lokasi terdampak bencana.

”Dapur umum masih perjalanan ke lokasi karena kami masih harus koordinasi dengan kades dan BPBD untuk tempat dapur umumnya. Sebab, mobil dapur umum kami (Dinsos) tinggi, tidak bisa melintas di medan sulit,” kata Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo Retno Ngastiti Djuwitani.

Photo
Photo
RAWAN HANYUT: Rumah warga yang terdampak banjir bandang. (Arif Mashudi/ Radar bromo)

Retno –sapaan akrabnya – menjelaskan, persiapan dapur umum mulai dilakukan kemarin sore. Direncanakan, dapur umum berfungsi untuk bisa mulai melayani warga terdampak bencana hari ini. ”Kemungkinan besar besok mulai aktif dapur umumnya. Tapi, jika memang mungkinkan nanti malam bisa langsung mulai, ya saya minta untuk segera buka dapur umum ini,” terangnya.

Kepala Desa (Kades) Andungbiru Essam mengaku tidak pernah menyangka bakal ada banjir bandang seperti saat ini. Akibatnya, puluhan rumah milik warganya pun rusak dan terhanyut. Bahkan, tidak sedikit warga yang memilih untuk mengungsi ke daerah bawah yang lebih aman. Terutama, warga yang rumahnya rusak total atau terhanyut.

“Sekarang banyak warga yang milih tinggal di rumah saudaranya yang lebih aman. Bagi rumahnya yang rusak dan terhanyut, itu mereka tinggal sementara di rumah tetangga atau saudara lainnya juga,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin.

Kades mengaku, bantuan paling dibutuhkan masyarakat korban terdampak bencana itu adalah bantuan makanan. Banyak warganya yang sudah tidak punya rumah. Jangankan untuk membangun rumah, untuk makan sehari-hari mereka harus bergantung pada tetangga dan saudaranya.

”Sekarang warga yang terdampak langsung bencana, makan sehari-harinya numpang ke saudara-saudaranya. Saya sendiri sudah menghabiskan berapa kuintal untuk makan warga. Malam ini saja, persediaan beras saya sudah habis,” ungkapnya.

Selain makanan, diakui Kades, bantuan untuk warga yang tidak kalah penting adalah pakaian. Sebab, tidak sedikit rumah warganya hanyut beserta isinya. Sehingga, pakaian yang dikenakan mereka pun dapat dari tetangga atau saudaranya. ”Kami berharap, bantuan makanan bisa segera didistribusikan pada warga terdampak banjir,” harapnya.

Tomar, 43, korban bencana banjir mengatakan, rumahnya tidak dapat ditempati lagi. Sebab, bagian rumahnya sudah terhanyut banjir bandang. Sedangkan rumah bagian depannya, sudah berada tepat di tepi aliran sungai. ”Kerugian total bisa sampai Rp 300 juta. Karena isi rumah juga habis,” ujarnya.

Bapak dua anak itu mengaku, dirinya saat ini berpikir bagaimana cara pindah. Tetapi, kebingunan biaya untuk membangun kembali rumah tempat tinggal baru. Sementara itu, dirinya besama istri dan dua anaknya tinggal di rumah Suto, tetangganya.

“Saya mengharapkan bantuan dari pemerintah, supaya saya bisa dirikan tempat tinggal baru meski sederhana,” harapnya. Dua hari kemarin, diakui Tomar, dirinya dan keluarga makan sehari-hari dari tetangganya. Kebetulan, dirinya yang hanya sebagai buruh tani, sudah tidak punya simpanan uang lagi. Isi rumahnya sudah terhanyut semua. Sehingga, dirinya mengandalkan bantuan makanan dari tetangga, saudara, pemerintah, atau lainnya.

”Untungnya, saya utang ke toko masih diberi. Saya saja pakaian dapat diberi, terus sepatu ini dapat utang ke toko. Untungnya masih dikasih utang. Karena saya sudah gak punya apa-apa,” katanya. (rf)

  Editor : Muhammad Fahmi
#pemkab probolinggo #bencana tiris #banjir bandang tiris #banjir bandang #bpbd #longsor