Sejumlah pekerja dibantu sejumlah warga berusaha membangunkan kembali rumah Hosin (3/12). Namun, bahan yang digunakan sangat sederhana, banyak berbahan bambu dan kayu bekas. Bahkan, tiang utamanya hanya terbuat dari bambu.
Hosin mengatakan, sebelum kejadian, desanya diguyur hujan lebat sejak sore. Awalnya, saat hujan Hosin bersama istri dan tiga anaknya berada di dalam rumah. Sebab, saat hujan rumahnya masih tegak. Namun, sekitar pukul 20.00, petaka menimpanya.
“Sekitar pukul 8 malam hujan sudah reda. Tidak lama kami duduk di ruang tamu. Tiba-tiba ada suara seperti batu diturunkan dari dump truck dari bagian belakang rumah. Saya kaget dan langsung membawa istri dan anak keluar rumah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Hosin mengaku bersyukur bisa kabur sebelum rumahnya rata dengan tanah. Sebab, jika terlambat sedikit saja, dirinya bersama keluarganya bisa menjadi korban dan tertimpa rumah yang ambruk. Sebab, sesaat setelah keluar rumah, rumahnya roboh. “Saya dan keluarga melihat jelas saat rumah kami roboh,” ujarnya.
Rumah Hosin tergolong sangat sederhana. Rumah yang ambruk itu berukuran panjang sekitar 12 meter dan tak begitu lebar. Seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu dan bambu. Dindingnya masih menggunakan gedek.
“Kalau kerugian banyak. Karena rumah hancur, barang-barang dalam rumah, termasuk barang elektronik juga hancur,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto mengaku, telah mendapatkan laporan terkait rumah yang ambruk dampak hujan deras itu. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Probolinggo. “Kejadian itu sudah langsung ditangani. Dinsos yang turun memberikan bantuan,” ujarnya. (mas/rud) Editor : Jawanto Arifin