ARIF MASHUDI, Pajarakan
Sehari setelah upacara serah terima jabatan (sertijab), Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi langsung tancap gas. Memulai dengan menggelar rapat koordinasi dengan seluruh perwira di jajaran Polres Probolinggo untuk penataan di tingkat internal. Hari-hari berikutnya, kesempatan yang dimiliki digunakan untuk silaturahmi dengan ulama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Di antaranya pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya, Ponpes Zainul Hasan Genggong Pajarakan. Kedatangan mantan Kabag Ops Polrestabes Surabaya itu pun disambut dengan hangat oleh para pengasuh pesantren.
Seusai acara silaturahmi, Jawa Pos Radar Bromo berkesempatan untuk berbincang dengan AKBP Eddwi Kurniyanto. Perwira kelahiran Pasuruan, 28 Juli 1977 itu mengaku bersyukur mengemban amanah baru sebagai kapolres. “Wow, Probolinggo. Probolinggo daerah luar biasa,” begitu ekspresinya saat mendapat informasi mutasi tersebut.
Kabupaten Probolinggo menurutnya bukan daerah yang asing baginya. Meskipun tidak pernah berdinas di Polres Probolinggo, dirinya sudah mengetahui secara umum wilayah Probolinggo. Apalagi, Probolinggo merupakan tetangga daerah tempat kelahirannya. Ia lahir di Kejapanan, Gempol, Kabupaten Pasuruan.
“Lepas dari siap ditugaskan dimana saja, saya mengaku ada kebanggaan tersendiri menjadi Kapolres Probolinggo. Karena paling tidak mengabdikan di wilayah provinsi, kampung halaman saya,” terangnya.
Awal dirinya masuk dalam kedinasan di Polres Probolinggo, diakui Eddwi, yang perlu dikenali adalah internal. Sebab, sebelum ke eksternal, dirinya harus mengenal internal jajaran Polres lebih dulu. ”Pertama saya dinas jadi Kapolres, rakor bersama semua perwira di Polres,” ujarya.
Nah, diakuinya, awal dirinya menjabat Kapolres Probolinggo, yang dilakukan memberikan motivasi dan semangat bagi perwira dan jajarannya. Supaya maksimal dan lebih baik dari sebelumnya. Dirinya selalu menanamkan pada anggota bahwa tugas adalah ibadah. Jika dilakukan dengan rasa ikhlas, akan bisa menikmati.
Selain itu, diungkapkan Kapolres, anggotanya harus memiliki tiga kemampuan. Yaitu, kemampuan pengetahuan, dengan tidak meninggalkan perkembangan teknologi dan pengetahuan. Kedua, kemampuan keahlian, karena percuma saat mempunyai kemampuan tapi tidak memiliki keahlian. Terakhir, kemampuan berperilaku baik.
Dua kemampuan awal akan sia-sia, jika tidak memiliki perilaku baik. Perilaku itu bisa ucapan, perilaku, dan ibadah. “Karena itu, saya selalu ingatkan pada anggota 5-S, senyum, sapa, salam, sopan, dan santun,” terangnya.
Setelah mengenal dan gelar rakor bersama internal, baru dirinya silaturahmi ke luar. Mulai dari ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan instansi terkait. Sekaligus meminta doa dan dukungannya dalam mengemban amanah sebagai Kapolres Probolinggo.
“Pertama saya sebagai warga baru, harus kulonuwun dan mohon doa. Terutama pada ulama. Karena panutan bagi umat muslim. Selain itu, kami juga mohon dukungan dalam hal Kamtibmas,” terangnya.
Menjadi polisi diakui Kapolres, awalnya bertentangan dengan keinginan orang tuanya. Ia bercita-cita menjadi polisi saat duduk di bangku kelas II SMA. Yakni, saat melihat sejumlah anggota AKABRI yang berjalan gagah. Nah, sejak itu dirinya ingin menjadi Akpol. Kebetulan ayahnya juga anggota Brimob.
“Tapi, ternyata orang tua itu lebih menginginkan saya menjadi dokter. Karena kerjanya lebih enak dan tidak berat,” ungkapnya. Hingga akhirnya saat lulus SMA, ia diam-diam daftar Akpol. Orang tuanya baru tahu kalau dia mendaftar sebagai polisi tatkala harus memenuhi persyaratan surat keterangan dari orang tua.
Tentu saja sang ayah kaget. Tetapi, dirinya berusaha menjelaskan, bahwa daftar polisi di Akpol. Hingga akhirnya, tahun 2000 ia lulus sebagai Akpol dan pertama dinas di Polrestabes Jogja. ”Alhamdulillah, karena keinginan saya daftar Akpol kuat, akhirnya orang tua mendukung,” tuturnya. (rf) Editor : Jawanto Arifin