Selasa (30/10), pihak PG Wonolangan melakukan proses pengurukan limbah itu. Hal itu dilakukan agar tidak memakan korban lebih banyak.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo di lokasi, beberapa truk mendatangi lokasi limbah itu. Mereka satu persatu menurunkan muatan tanah yang dibawa. Rencananya, tanah itu akan digunakan untuk memadatkan abu ketel. Sehingga, tidak ada lagi korban yang terkena limbah pabrik gula itu.
Yus Asmoro, Manajer Pengelolaan PG Wonolangan mengatakan, hingga Selasa itu pihaknya masih belum bisa memastikan apakah limbah abu ketel itu merupakan limbah PG Wonolangan. Menurutnya, pihaknya masih akan mencari arsip mengenai pembuangan limba abu ketel itu oleh pihak ketiga.
“Ini kan limbah sudah lama sekitar 2010-an. Jadi, kami tidak tahu siapa yang membuang ke sini. Dan, ini dulu ditangani oleh pihak ketiga. Jadi, kami masih mencari arsipnya. Apakah ini merupakan limbah dari PG Wonolangan atau PG Gending, masih kami cari,” katanya saat ditemui di lokasi.
Yus –sapaan akrabnya- menjelaskan, agar insiden tidak terulang kembali, pihaknya mengambil langkah. Yakni, meratakan lokasi hingga ketebalan sekitar 30 sentimeter. Sebab, dengan ketebalan itulah abu ketel aman dan tidak membahayakan. “Jadi, nanti setelah diratakan akan dilakukan pengurukan dengan tanah. Dengan begitu akan padat dan tidak membahayakan lagi,” terangnya.
Lokasi limbah itu sebenanya jauh dari permukiman penduduk. Di sekitar lokasi hanya ada satu rumah penduduk dengan jarak sekitar 300 meter. Tepatnya kisaran 50 meter dari jalan raya. Sedangkan ke selatan sangat jauh dari permukiman. Hanya saja, di sebalah barat lokasi ada tempat pemancingan. Seperti kejadian Jumat (26/10) lalu yang menimpa dua orang pemancing.
Sarip, 65, warga Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, sang penjaga kolam pancing mengatakan, sebenarnya sudah ada 5 kali kejadian di daerah itu. Namun, mereka tidak melakukan laporan. “Lima kali kejadian, bukan hanya 3 kali,” ujarnya. Sayang, saat dikejar pertanyaan lain ia terdiam.
Untuk yang terakhir itu, yang menimpa Rahmad dan rekannya, ia yang menolong. Menurutnya, saat itu sebenarnya mereka sedang memancing sore. “Beruntung masih tertolong dan langsung dilarikan ke rumah sakit,” tandasnya. Korban sendiri saat ini sudah dipindahkan ke RSUD Wonolangan. Pemindahan itu dilakukan karena permintaan dari pihak PG Wonolangan. “Kami akan tanggung biaya hingga sembuh,” jelasnya. Lebih jauh, jika di lokasi limbah itu tidak dilakukan penanganan yakni dengan diuruk, tanah akan terus membahayakan semasa musim panas. Sebab, akan terus menyimpan panas. Tetapi, jika itu masuk musim hujan, maka lokasi itu akan subur. (sid/rf/mie) Editor : Jawanto Arifin