Puskesmas Rembang Sukses Naikkan Deteksi Kasus TBC dengan Terapkan Cetoss Merkes Jaring

Iwan Andrik • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:26 WIB
JEMPUT BOLA: Petugas kesehatan Puskesmas Rembang saat melakukan skrining kesehatan kepada masyarakat. (Puskesmas Rembang for Radar Bromo)
JEMPUT BOLA: Petugas kesehatan Puskesmas Rembang saat melakukan skrining kesehatan kepada masyarakat. (Puskesmas Rembang for Radar Bromo)

REMBANG, Radar Bromo - Penyakit menular Tuberkulosis (TBC), masih menjadi tantangan serius bagi sektor kesehatan masyarakat.

Merespons hal tersebut, Puskesmas Rembang membuat terobosan strategis, melalui inovasi CETOSS MERKES JARING (Cepat Temukan dan Obati Sampai Sembuh melalui Kader Kesehatan dan Jejaring).

Langkah kolaboratif berbasis masyarakat ini, terbukti mendongkrak capaian penemuan.

Serta penuntasan kasus TBC secara signifikan di wilayah kerja Puskesmas Rembang.

Kepala Puskesmas Rembang, dr. I Wayan Suarka, menjelaskan inovasi ini lahir sebagai jawaban atas rendahnya angka deteksi dini, pada tahun 2021.

Saat itu hanya mencakup 50 pasien. Padahal, penyakit TBC membutuhkan penanganan yang cepat dan pengawasan obat secara berkala, agar pasien bisa sembuh total. Sekaligus memutus rantai penularan di lingkungan sekitar.

"Kesehatan adalah fondasi utama mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan produktif. Melalui CETOSS MERKES JARING, kami mengedepankan peran aktif kader kesehatan di garis depan, serta memperkuat lintaskomunitas," ujanya.

Tidak lagi sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Tetapi, pihaknya bergerak aktif menjemput bola, guna mengawasi pengobatan mereka, hingga benar-benar sembuh.

Penerapan sistem kolaboratif ini, membuahkan hasil positif. Pada tahun 2025, jumlah kasus TBC yang berhasil diidentifikasi dan ditangani melonjak tajam, menjadi 151 pasien.

Peningkatan hingga tiga kali lipat ini membuktikan, efektivitas perluasan jangkauan penapisan (screening) di tengah masyarakat.

Memasuki tahun 2026, Puskesmas Rembang semakin memperluas jangkauan operasionalnya.

Menggandeng kader kesehatan setempat dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI)—organisasi kemitraan nasional percepatan eliminasi TBC—tim gabungan sukses menggelar penapisan massal secara masif.

Pemeriksaan kesehatan ini, menyasar warga di 4 desa serta 1 instansi sekolah, dengan total 650 orang yang berhasil diskrining untuk menjaring kasus terduga TBC.

"Sinergi bersama STPI dan para kader di tahun 2026 ini sangat krusial. Dengan semakin banyak warga yang bersedia mengikuti skrining, maka semakin cepat pula kita dapat mendeteksi terduga TBC," lanjut dr. I Wayan Suarka. (one)

Editor : Jawanto Arifin
tbc kabupaten pasuruan rumah sakit rembang puskesmas