PAPARAN udara dingin sering memicu keluhan kesehatan bagi sebagian orang. Mulai dari kulit kemerahan, gatal-gatal, hingga bersin dan pilek. Di tengah masyarakat, kondisi ini akrab dikenal dengan istilah “alergi dingin.”
Alergi dingin sama sekali tidak berkaitan dengan infeksi virus. Alergi merupakan bentuk reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat atau kondisi tertentu yang bagi orang lain sebenarnya tidak berbahaya.
“Alergi dingin ini bukan karena virus. Pada kasus ini, justru kondisi suhu lingkungan yang dingin yang menjadi pemicu reaksi berlebihan dari sistem imun kita. Pada kulit, kondisi ini dikenal sebagai urtikaria dingin (cold urticaria). Paparan suhu dingin memicu pelepasan histamin dan zat peradangan lain, sehingga muncullah bentol, kemerahan, dan rasa gatal," ujar praktisi kesehatan asal Kota Probolinggo, dr. Hengky Tri Cahyono Hasan.
Dokter Umum di UPTD Puskesmas Wonoasih Kota Probolinggo, ini mengatakan, jika keluhan yang muncul berupa pilek, bersin, atau hidung tersumbat saat cuaca dingin, kemungkinan besar orang tersebut mengidap rhinitis alergi. “Ini adalah kondisi di mana seseorang sensitif terhadap alergen tertentu yang manifestasi klinisnya membuat hidung mengeluarkan cairan atau sekret, hingga terasa tersumbat," katanya.
Secara umum, kata Hengky, dampak dari alergi dingin bersifat ringan dan sementara. Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena ada potensi reaksi berat yang fatal. Meski mayoritas kasus memang ringan, paling sering muncul bentol atau pembengkakan lokal di area yang terkena dingin.
Jika tubuh terpapar dingin secara luas, bisa terjadi reaksi alergi berat. Gejalanya meliputi pembengkakan bibir atau tenggorokan, sesak napas, pusing, hingga penurunan tekanan darah. Kondisi ini adalah kegawatdaruratan medis yang mengancam nyawa dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Secara umum, penanganan awal bisa dilakukan dengan menghindari zat pemicu. Jika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pemberian obat antihistamin atau anti-alergi dapat dipertimbangkan,” terangnya.
Hengky menerangkan, gejala alergi dingin yang muncul sangat bergantung pada organ tubuh yang bereaksi. Gejala ada dua kelompok klinis. Pertama gejala pada kulit (urtikaria dingin), mulai dari bentol-bentol atau biduran, kulit kemerahan dan terasa gatal hingga pembengkakan pada area yang terpapar suhu dingin. Pada kasus berat, dapat memicu sesak atau bengkak pada tenggorokan.
Sedangkan, gejala pada hidung (rinitis alergi) akan mengalami bersin secara berulang-ulang, hidung berair atau pilek disertai hidung tersumbat, rasa gatal di area hidung dan mata berair atau terasa gatal. “Untuk alergi dingin itu bisa alami gejala dua kelompok klinis itu,” ujarnya.
Namun, kata Hengky, masyarakat sering bingung membedakan antara pilek akibat alergi dengan pilek karena flu atau infeksi. Kunci utamanya terletak pada ada atau tidaknya gejala demam.
Cara membedakannya cukup mudah. Proses yang diakibatkan alergi murni tidak akan menimbulkan respons demam pada tubuh. Sebaliknya, bilamana kondisi pilek atau gangguan kulit tersebut disertai demam, maka patut curiga adanya proses infeksi, baik karena bakteri maupun virus.
“Secara klinis, keluhan kulit berfokus pada bentol dan bengkak setelah terkena dingin. Sementara pada rinitis alergi, pilek dan bersin akan muncul berulang kali hanya ketika pasien terpapar oleh pencetusnya,” katanya.
Hengky menerangkan, langkah paling utama untuk mengatasi alergi dingin adalah memutus kontak dengan pemicunya. Masyarakat diimbau untuk menggunakan pakaian hangat dan tebal yang melindungi bagian tubuh sensitif saat cuaca dingin tiba. Pihak medis juga menyarankan agar menghindari paparan dingin yang terjadi secara langsung dan mendadak.
“Bila seseorang berulang kali mengalami biduran atau bersin-bersin setelah terpapar dingin, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar dipastikan penyebabnya. Dokter nantinya dapat memberikan obat antihistamin yang disesuaikan dengan kondisi pasien,” jelasnya.
Ia juga wanti-wanti untuk tidak menunda evakuasi medis jika pasien menunjukkan tanda kegawatdaruratan. Seperti mengalami gejala muncul sesak napas, pembengkakan pada lidah atau tenggorokan, pusing hebat, atau bahkan penurunan kesadaran setelah terpapar dingin. “Segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut bisa mengancam nyawa,” ungkapnya. (mas/rud)
GEJALA YANG SERING MUNCUL
Gejala biasanya mulai terlihat dalam waktu 5 hingga 10 menit setelah kulit terpapar dingin dan bisa bertahan selama 1 hingga 2 jam:
· Biduran
Bentol kemerahan yang terasa sangat gatal dan hangat saat disentuh.
· Pembengkakan (Angioedema):
Biasanya terjadi pada tangan setelah memegang benda dingin, atau pada bibir dan lidah setelah mengonsumsi makanan atau minuman dingin.
· Masalah pernapasan
Hidung tersumbat, bersin-bersin, atau pilek.
· Tanda Bahaya:
Pada kasus yang langka dan ekstrem, paparan dingin di seluruh tubuh (seperti berenang di air es) bisa memicu anafilaksis - reaksi parah yang menyebabkan sesak napas, penurunan tekanan darah drastis, hingga pingsan. Jika ini terjadi, segera cari bantuan medis darurat di IGD.
Cara Mengatasi saat Gejala Kambuh
· Pindah ke tempat hangat, segera lindungi tubuh dari paparan dingin.
· Minum obat antihistamin, obat seperti cetirizine atau loratadine efektif untuk meredakan bentol dan gatal dengan cara menghambat zat histamin.
· Kompres hangat, menempelkan kain hangat di area kulit yang bentol dapat membantu meredakan bengkak dan gatal.
· Gunakan losion pereda gatal, mengoleskan losion yang mengandung calamine bisa memberikan efek sejuk dan mengurangi keinginan untuk menggaruk.
Mencegah Alergi Dingin Kambuh
· Gunakan pakaian berlapis: Selalu kenakan jaket, kaus kaki tebal, sarung tangan, atau syal saat hendak bepergian ke tempat bersuhu rendah.
· Hindari makanan dan minuman dingin: Kurangi konsumsi es krim atau air es untuk mencegah pembengkakan di area tenggorokan.
· Mandi air hangat: Batasi mandi dengan air dingin, terutama di pagi hari atau saat cuaca mendung.
· Atur suhu AC ruangan: Jangan menyetel pendingin ruangan terlalu rendah, terutama saat tidur malam hari.
Editor : Moch Vikry Romadhoni