Nuad Thai Bukan Pijat Biasa, Bukan Semakin Sakit Berarti Semakin Bagus

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 10:30 WIB
DEMI KESEHATAN: Terapis Nuad Thai Fatoni menangani salah satu pasiennya. (Foto: Istimewa)
DEMI KESEHATAN: Terapis Nuad Thai Fatoni menangani salah satu pasiennya. (Foto: Istimewa)

 

TUBUH tidak hanya ditekan. Namun, juga diregangkan, digerakkan, dan diarahkan ke posisi tertentu secara bertahap. Itulah yang membedakan Nuad Thai dari pijat biasa.

Nuad Thai merupakan bagian dari tradisi pengobatan Thailand yang berkembang selama ratusan tahun. UNESCO menetapkannya sebagai warisan budaya takbenda pada 2019.

Dalam praktiknya, terapis menggunakan tangan, ibu jari, siku, lutut, hingga kaki untuk memberikan tekanan dan membantu peregangan.

“Dalam Nuad Thai, tubuh tidak hanya ditekan atau dipijat, tetapi juga diregangkan dan digerakkan secara perlahan. Jadi yang diperhatikan bukan hanya titik yang sakit, tetapi juga kelenturan dan ketegangan tubuh,” ujar Terapis Nuad Thai, Fatoni.

Karena itu, Nuad Thai umumnya dilakukan tanpa banyak minyak. Klien tetap mengenakan pakaian yang nyaman, berbaring di atas matras, lalu menjalani rangkaian tekanan dan peregangan pada jalur yang dalam tradisi Nuad Thai dikenal sebagai ”sen.”

Keluhan yang paling sering menjadi alasan seseorang mencoba Nuad Thai adalah tubuh kaku, pegal setelah aktivitas, otot tegang, dan tubuh yang terasa kurang fleksibel.

“Misalnya, setelah terlalu lama duduk, bekerja di depan komputer, banyak aktivitas fisik, atau kurang bergerak. Kami melihat kondisi tubuhnya dulu sebelum menentukan teknik yang digunakan,” ujar Fatoni.

Tapi, peregangan dalam Nuad Thai bukan berarti tubuh dipaksa. Justru kontrol tekanan dan gerakan menjadi bagian terpenting.

“Yang penting bukan seberapa kuat menekan. Kalau terlalu kuat malah bisa membuat tubuh tidak nyaman. Peregangan dilakukan bertahap, sesuai kondisi dan respons tubuh,” jelasnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan potensi manfaat Nuad Thai terhadap nyeri, ketegangan otot, fleksibilitas, dan kecemasan. Meski penelitian lanjutan masih diperlukan, banyak yang merasakan manfaat paling nyata justru setelah sesi selesai. Tubuh terasa lebih ringan dan rileks.

Satu hal yang Fatoni tekankan, rasa sakit bukan ukuran keberhasilan. “Jangan dikira semakin sakit berarti semakin bagus. Pijat yang baik bukan yang membuat orang tahan sakit, tetapi yang memberikan tekanan sesuai kebutuhan tubuh,” ujar terapis asal Desa Sukorame, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan ini.

Tetap Perlu Kenali Batas Tubuh

TIDAK semua tubuh siap menerima Nuad Thai. Dan, tidak semua terapis otomatis aman dipercaya. Ini yang sering luput dari perhatian orang yang baru pertama kali mencoba pijat Thailand.

Mereka fokus pada sensasinya. Tubuh diregangkan, ditekan, digerakkan. Tapi, lupa bahwa karakter terapi yang cukup aktif ini menuntut skrining yang tepat sebelum sesi dimulai.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Nuad Thai sebagai salah satu bentuk pengobatan tradisional dan manual therapy. WHO juga menekankan pentingnya pelatihan, kualifikasi terapis, serta pemeriksaan kondisi klien sebelum terapi dilakukan.

Terapis Nuad Thai Fatoni mengatakan, langkah pertama yang idealnya dilakukan terapis adalah bertanya sebelum memulai sesi. “Ada keluhan apa, pernah cedera atau tidak, punya penyakit tertentu atau sedang menjalani pengobatan apa. Dari situ baru ditentukan teknik dan tekanan yang aman,” ujarnya.

Skrining itu penting karena tidak semua kondisi cocok menerima pijat. WHO mencatat sejumlah kontraindikasi. Demam tinggi, cedera atau operasi baru, osteoporosis berat, gangguan pembekuan darah, serta kondisi yang menimbulkan nyeri tajam, mati rasa, atau kelemahan anggota tubuh.

“Kalau ada nyeri yang tajam, bengkak, cedera baru, patah tulang, atau penyakit tertentu, jangan langsung dipijat. Lebih baik konsultasi dulu dengan dokter. Kalau memang sudah dinyatakan aman, baru terapis menyesuaikan tekniknya,” kata Fatoni.

Soal frekuensi, Fatoni menegaskan tidak ada patokan yang berlaku untuk semua orang. “Kalau hanya untuk relaksasi atau menjaga kebugaran, tidak harus terlalu sering. Bisa disesuaikan dengan aktivitas dan kondisi tubuh,” ujarnya.

Orang yang banyak bergerak secara fisik punya kebutuhan berbeda dari mereka yang seharian bekerja di depan layar. Karena itu, frekuensi ideal pun berbeda-beda.

Dalam memilih terapis, masyarakat sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga atau seberapa kuat tekanannya. Pengalaman, pelatihan, kebersihan tempat, kemampuan melakukan asesmen awal, dan kesediaan menjelaskan teknik yang digunakan adalah hal yang perlu diperhatikan.

Komunikasi selama sesi juga sama pentingnya. Klien berhak menyampaikan jika tekanan terlalu kuat atau gerakan tertentu menimbulkan rasa tidak nyaman. “Kalau terlalu sakit, sampaikan. Terapis tidak boleh menganggap rasa sakit sebagai tanda, bahwa terapi berhasil,” jelasnya. (tom/rud)

 

Editor : Abdul Wahid
pijat terapis