BEJI, Radar Bromo - Kesehatan jiwa remaja, kini menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius semua pihak.
Data nasional menunjukkan, satu dari tiga atau sekitar 15,5 juta remaja Indonesia berusia 10-17 tahun, mengalami masalah kesehatan jiwa.
Bahkan, bunuh diri kini bertengger sebagai salah satu, dari lima penyebab utama kematian pada usia remaja.
Merespons kondisi tersebut, Programmer Kesehatan Jiwa Puskesmas Beji bergerak cepat dengan menggandeng Saka Bakti Husada (SBH) Pangkalan Beji.
Kolaborasi ini melahirkan program Mental Health First Aider (Pertolongan Pertama Kesehatan Jiwa) yang menyasar lingkungan sekolah, khususnya jenjang SMA.
Melalui program ini, para kader muda SBH dibekali pengetahuan dan keterampilan, untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada teman sebaya.
Mereka dilatih untuk memberikan dukungan awal, mendengarkan tanpa menghakimi, serta mengarahkan rekan mereka ke guru pembimbing, konselor, atau tenaga medis jika diperlukan.
Kepala Puskesmas Beji, dr. Noer Izza Kusumawardani menjelaskan, program ini menerapkan prinsip dasar Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).
Yaitu Look (mengamati), Listen (mendengar aktif), dan Link (menghubungkan).
"Sebagai makhluk sosial, anak memerlukan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh. Keberadaan teman sebaya di sekolah, tidak serta-merta menggantikan peran orang tua sebagai sahabat utama. Karena itu, prinsip P3LP ini harus dilakukan secara bersinergi antara siswa, teman sebaya, guru, dan orang tua," ujar Dokter Noer Izza-sapaannya.
Ia juga menegaskan, kehadiran Mental Health First Aider ini, tidak bertujuan menggantikan peran tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Melainkan, sebagai langkah preventif dan deteksi dini, untuk mencegah kondisi psikologis remaja memburuk.
Melalui pembinaan intensif dari Puskesmas Beji, anggota SBH diharapkan mampu menjadi agen perubahan di sekolah.
Selain memberikan dukungan emosional, mereka bertugas mengikis stigma, seputar gangguan kesehatan mental serta menciptakan ekosistem sekolah yang aman, sehat, dan saling mendukung. (one)
Editor : Jawanto Arifin