Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Menghadapi Gangguan Kecemasan Berlebihan

Fahrizal Firmani • Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:55 WIB
ILUSTRASI Sehat Bugar
ILUSTRASI Sehat Bugar

 

SETIAP orang pernah merasa cemas. Perasaan gugup sebelum presentasi, khawatir saat menunggu hasil pemeriksaan kesehatan, atau takut menghadapi masalah kehidupan merupakan hal yang normal. Kecemasan sebenarnya adalah cara tubuh membantu kita tetap waspada terhadap situasi tertentu.

Namun, bagaimana jika rasa cemas muncul hampir setiap hari, terasa berlebihan, sulit dikendalikan? Tentu bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat menjadi tanda suatu gangguan cemas atau gangguan kecemasan.

Spesialis kejiwaan, dr. Lira Riana Septiara Sp.KJ.,M.Med.Sc menuturkan, gangguan cemas adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan rasa takut, khawatir, atau gelisah yang muncul terus-menerus dan berlebihan. Penderitanya sering merasa pikirannya dipenuhi kekhawatiran, bahkan terhadap hal-hal kecil.

"Gangguan cemas bukan sekadar ‘terlalu sensitif atau ‘kurang kuat mental’ Kondisi ini nyata dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang, baik secara emosional maupun fisik," katanya.

Perempuan yang sehari harinya praktik di RSUD Grati Pasuruan ini menyebut, gangguan ini bisa dikenali dengan beberapa gejala.

Baik secara psikologis ataupun fisik. Gejala psikologis yang umum terjadi adalah khawatir berlebihan, sulit merasa tenang, mudah panik, sulit berkonsentrasi dan merasa akan terjadi sesuatu yang buruk.

Sementara gejala fisik yang terjadi pada penderita gangguan cemas meliputi jantung berdebar, sesak napas, keringat dingin, gemetar, tegang pada otot, sulit tidur hingga mual atau sakit perut.

Tidak jarang penderita gangguan cemas awalnya mengira dirinya hanya mengalami gangguan fisik biasa karena keluhan tubuh terasa sangat nyata.

"Saat memeriksakan diri ke dokter, baik pemeriksaan fisik maupun laboratorium, hasilnya seringkali pasien dinyatakan normal atau tidak ada gangguan yang bermakna," sebut Lira.

Ia menyebut, gangguan cemas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tekanan pekerjaan atau sekolah, masalah keluarga atau ekonomi dan trauma atau pengalaman buruk. Bisa juga karena kurang istirahat, stres berkepanjangan hingga Faktor biologis dan ketidakseimbangan zat kimia di otak.

"Pada sebagian orang, kepribadian yang cenderung mudah khawatir juga dapat meningkatkan risiko mengalami gangguan cemas," tuturnya. 

Jangan Abaikan dan Disepelekan

 JANGAN pernah meremehkan kesehatan mental. Gangguan ini bisa terjadi kapan saja dan dialami oleh siapa saja. Gangguan ini lebih rentan dialami oleh pekerja dengan tekanan tinggi, pelajar dan mahasiswa, individu dengan beban pikiran berat, orang yang sulit mengekspresikan emosi atau mereka yang memiliki riwayat gangguan cemas dalam keluarga.

Segera konsultasikan dengan tenaga profesional apabila rasa cemas muncul hampir setiap hari dan mengganggu pekerjaan atau aktivitas.

Atau mengalami sulit tidur berkepanjangan dan sering menghindari aktivitas sosial. Terlebih jika mengalami serangan panik berulang dan keluhan fisik muncul terus, meski pemeriksaan medis normal.

"Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Sama seperti penyakit fisik, kesehatan mental juga membutuhkan perhatian dan penanganan yang tepat. Berkonsultasi masalah kesehatan juga bagian dari merawat tubuh," tutur dr. Lira Riana Septiara, spesialis kejiwaan di RSUD grati.

Ia menjelaskan, beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi kecemasan. Seperti tidur cukup dan teratur, mengurangi konsumsi kafein berlebihan, rutin berolahraga dan melatih teknik relaksasi dan pernapasan. Bisa juga dengan rutin berbicara dengan orang terpercaya serta mengatur waktu istirahat dari tekanan pekerjaan atau media sosial

"Jika keluhan menetap, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu. Penanganan dapat berupa psikoterapi, edukasi, hingga obat-obatan bila diperlukan sesuai anjuran dokter," sebutnya.

Katanya, gangguan cemas dapat ditangani dan kualitas hidup penderita dapat membaik dengan bantuan yang tepat. Dukungan keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat sangat penting agar penderita tidak merasa sendirian menghadapi kondisinya.

"Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mengenali tanda-tanda gangguan cemas sejak dini merupakan langkah awal untuk hidup yang lebih sehat dan produktif," tutur Lira. (riz/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#cemas #berlebih #anxiety #disorder