Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Benarkah Bulu Kucing Sebabkan Kista, Miom hingga Kemandulan? Begini Penjelasan Medis

Inneke Agustin • Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:08 WIB
PERIKSA: Dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Dharma Husada, dr. Vincentius Edwin Pradana Setiawan, Sp.OG saat melakukan pemeriksaan pada pasien
PERIKSA: Dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Dharma Husada, dr. Vincentius Edwin Pradana Setiawan, Sp.OG saat melakukan pemeriksaan pada pasien

PERNAH mendengar larangan bermain dengan kucing karena dianggap dapat menyebabkan kista, miom, bahkan kemandulan? Ujaran semacam itu masih cukup sering berkembang di tengah masyarakat.

Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasa khawatir hanya karena memelihara atau sering berinteraksi dengan kucing.

Dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Dharma Husada, dr. Vincentius Edwin Pradana Setiawan, Sp.OG menegaskan bahwa penyebab miom dan kista tidak berkaitan langsung dengan bulu kucing.

Menurut Edwin, masyarakat perlu memahami terlebih dahulu perbedaan antara kista dan miom. Sebab, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, baik dari lokasi tumbuh maupun jenis jaringannya.

“Kista itu kantung yang tumbuh dan bisa berisi cairan, darah, rambut, bahkan gigi. Biasanya tumbuh di indung telur atau ovarium,” jelasnya.

Kista pun terbagi menjadi kista jinak atua benign dan kista ganas atau malignant. Jenis kista jinak atau benign di antaranya adalah kista dermoid yang berasal dari sel embrionik dan dapat berisi jaringan kulit, rambut, gigi, atau tulang.

Ada pula kista coklat yang terbentuk akibat jaringan endometriosis menempel pada ovarium dan biasanya berisi darah kental berwarna coklat sehingga menimbulkan nyeri hebat.

Selain itu, terdapat kistadenoma yang tumbuh dari permukaan ovarium dan dapat berisi cairan encer maupun lendir kental. Meski jinak, jenis ini berpotensi membesar apabila tidak dipantau.

Sementara untuk kista ganas atau malignant, salah satunya adalah kistadenokarsinoma, yakni perkembangan ganas dari kistadenoma yang ditandai pertumbuhan cepat serta adanya komponen padat. Ada pula kista endometrioid ganas yang sering berkaitan dengan riwayat endometriosis kronis.

Edwin menjelaskan, perbedaan kista jinak dan ganas juga dapat dikenali dari gejalanya. Kista jinak umumnya tumbuh perlahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Bahkan banyak pasien tidak menyadari dirinya memiliki kista karena keluhannya sangat minimal.

Sebaliknya, kista ganas berkembang jauh lebih cepat. Gejalanya dapat berupa perut membesar dalam waktu singkat, rasa begah, sesak napas, sulit buang air kecil maupun besar, nafsu makan menurun, hingga berat badan turun drastis.

“Kalau ganas biasanya cepat menyebar. Bisa sampai ke paru-paru sehingga muncul cairan di paru yang harus disedot,” terangnya.

Selain dari gejala, pemeriksaan medis juga membantu membedakan keduanya. Pada kista ganas biasanya ditemukan ukuran yang besar, bentuk tidak beraturan, serta terdiri dari banyak ruang atau lokus. Sedangkan kista jinak cenderung berbentuk bulat sederhana dan hanya berisi cairan.

Berbeda dengan kista, miom merupakan tumor jinak yang tumbuh di rahim. Miom berasal dari jaringan otot rahim yang berkembang akibat pengaruh hormon. “Jadi lokasi tumbuhnya beda dan jenis selnya juga berbeda. Kalau miom dipastikan jinak, sedangkan kista bisa jinak ataupun ganas,” ujarnya.

Meski berbeda, penyebab utama miom dan kista hampir sama, yakni gangguan keseimbangan hormon. Selain itu, faktor genetik dan lingkungan juga dapat berperan, termasuk paparan mikroplastik maupun pola hidup tidak sehat.

Perempuan dengan obesitas, misalnya, lebih rentan mengalami gangguan hormonal karena sel lemak dapat memproduksi hormon estrogen berlebih. Kondisi tersebut dapat memicu menstruasi tidak teratur hingga memunculkan miom maupun kista.

“Ini bukan penyakit bawaan yang pasti diturunkan. Tapi lebih karena mutasi genetik dan pola hidup yang mengganggu metabolisme hormon,” katanya.

Waspadai Toksoplasma Bisa Ganggu Kesuburan

HAL ini lantas dikaitkan dengan fenomena bulu kucing yang disebut dapat menyebabkan kista, miom, bahkan kemandulan. Padahal tidak demikian.

Dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Dharma Husada, dr. Vincentius Edwin Pradana Setiawan, Sp.OG menegaskan bahwa bulu kucing bukan penyebab langsungnya. “Ini hanya mitos,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ada hal lain yang memang perlu diwaspadai dari kucing, yakni infeksi toksoplasma. Risiko ini terutama berasal dari kucing liar yang sering berkontak dengan lingkungan kotor dan hewan pengerat.

Toksoplasma merupakan parasit yang ditularkan melalui kotoran atau feses. Penularannya terjadi ketika seseorang menyentuh benda atau makanan yang terkontaminasi lalu masuk ke mulut.

“Jadi bukan karena bulunya dihirup. Penularannya lewat fecal oral, yaitu kotoran yang masuk ke mulut melalui makanan atau tangan yang terkontaminasi,” jelas Edwin.

Ia mencontohkan, seseorang bisa tertular ketika membersihkan kotoran kucing lalu langsung makan tanpa mencuci tangan.

Risiko serupa juga dapat berasal dari sayuran yang tidak dicuci bersih maupun daging yang tidak dimasak hingga matang.

Menurut Edwin, toksoplasma memang dapat memengaruhi kesuburan baik pada laki-laki maupun perempuan.

Pada laki-laki, infeksi dapat mengganggu pergerakan dan bentuk sperma. Sedangkan pada perempuan, toksoplasma dapat mengganggu fungsi ovarium dan memicu peradangan saluran reproduksi.

“Kalau terjadi saat hamil juga berisiko pada janin, termasuk menyebabkan cacat bawaan. Jadi yang berbahaya adalah toksoplasmanya, bukan kucing atau bulunya,” ungkapnya.

Untuk penanganan miom maupun kista, Edwin mengatakan terapi bergantung pada ukuran dan tingkat keparahan. Bila ukurannya kecil dan masih jinak, pasien biasanya hanya menjalani observasi rutin.

Namun jika ukurannya membesar, menimbulkan keluhan berat, atau mengarah ke ganas, maka diperlukan pengobatan hormonal, kemoterapi pada kasus tertentu, hingga operasi.

“Kebanyakan kasus terjadi pada usia subur sebelum menopause. Setelah menopause biasanya mengecil sendiri karena produksi hormon dalam tubuh menurun,” katanya.

Ia menambahkan, kasus kista atau miom pada anak-anak maupun perempuan yang sudah menopause justru perlu lebih diwaspadai karena berpotensi ganas.

Sebagai langkah pencegahan, Edwin menyarankan masyarakat menjaga pola hidup sehat. Konsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan vape menjadi kunci penting menjaga keseimbangan hormon.

“Makanan cepat saji, gorengan, dan makanan tinggi tepung sebaiknya dibatasi. Perbanyak buah dan sayur yang kaya antioksidan,” ujarnya.

Untuk mencegah toksoplasma, masyarakat diminta selalu mencuci tangan setelah kontak dengan hewan, membersihkan bahan makanan dengan baik, dan memastikan makanan dimasak hingga matang. “Kalau ada keluhan seperti menstruasi tidak teratur, nyeri perut atau nyeri menstruasi berlebihan, atau perut membesar, segera periksa. Semakin cepat terdeteksi, peluang sembuh juga semakin besar,” pungkasnya. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
#miom #kista #mandul #kucing #cat lover