KELUHAN lemas, wajah pucat, hingga sering pingsan pada anak kerap kali hanya dianggap sebagai dampak kurang makan atau gejala anemia biasa. Namun, kewaspadaan tinggi harus dipasang jika kondisi tersebut berulang.
Pasalnya, bisa jadi itu adalah tanda Talasemia, kelainan darah genetik yang membuat produksi hemoglobin (Hb) tidak normal.
Penyakit ini memang tidak sepopuler batuk atau pilek yang bisa menyerang siapa saja, namun dampaknya jauh lebih sistemik karena menyerang “pabrik” darah dalam tubuh.
Kepala Puskesmas Pandaan dr. Titin Yuliani mengungkapkan, Talasemia berbeda dengan penyakit menular seperti batuk atau pilek. Karena bersifat genetik atau faktor keturunan, penyakit ini tidak menyerang semua orang, sehingga sering kali kurang familiar di telinga masyarakat.
“Hemoglobin itu fungsinya vital untuk mengangkut oksigen. Normalnya berada di angka 11 hingga 13. Pada penderita Talasemia, produksi Hb ini terganggu sejak dari pabriknya di sumsum tulang,” ujar dr. Titin.
Akibatnya, pasokan oksigen ke organ vital seperti otak akan tersendat, yang memicu efek pening (bliyur), sesak napas, hingga pingsan.
Membedakan Talasemia dengan penyakit jantung pada anak memang butuh ketelitian. dr. Titin menjelaskan, jika jantung berkaitan dengan hambatan aliran oksigen, maka Talasemia terletak pada cacat produksinya.
“Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika gejalanya dianggap sepele. Karena ini gangguan produksi, intensitas gejalanya pasti meningkat seiring waktu. Harus diwaspadai sejak dini melalui pemeriksaan darah laboratorium untuk melihat riwayat penyakit penyerta,” tegasnya.
Strategi Kelola Hidup Jadi Kunci Penyintas
MENJADI penderita Talasemia bukan berarti akhir dari segalanya, meski secara medis penyakit genetik ini tidak bisa sembuh total. Karena akarnya terletak pada gangguan organ tubuh dalam memproduksi darah, langkah yang bisa diambil adalah melalui manajemen hidup yang disiplin.
Bagi penderita Talasemia Mayor, ketergantungan terhadap transfusi darah menjadi keniscayaan. “Bahkan setiap dua hingga empat minggu sekali mereka harus melakukan transfusi. Sebab, dalam jangka waktu tertentu, produksi darah mereka akan menurun drastis lagi,” jelas dr. Titin Yuliani.
Tak hanya soal transfusi, aktivitas fisik pun harus disesuaikan. Penderita dilarang melakukan olahraga ekstrem.
Lari maraton atau olahraga berat sangat tidak dianjurkan karena membutuhkan asupan oksigen yang besar, sedangkan kapasitas Hb mereka terbatas. Olahraga ringan seperti jalan kaki adalah pilihan paling bijak untuk menjaga kebugaran tanpa membebani jantung.
Berbeda dengan penderita tipe Minor, bantuan nutrisi masih bisa menjadi penyelamat. dr. Titin menyarankan konsumsi protein nabati dan makanan tinggi vitamin C.
Uniknya, asupan vitamin C disarankan dikonsumsi terpisah dengan makanan yang mengandung zat besi tinggi. Mengapa? Karena pada penderita Talasemia, penumpukan zat besi berlebih justru bisa membahayakan organ dalam seperti hati dan jantung.
“Tujuannya adalah menjaga agar produksi Hb tetap stabil di tengah keterbatasan fungsi organ,” imbuhnya.
Hindari Daging, Perbanyak Asam Folat
Nutrisi memegang peranan krusial dalam menjaga kualitas hidup penderita Talasemia. Berbeda dengan pengidap anemia biasa yang disarankan mengonsumsi banyak daging merah, penderita Talasemia justru harus membatasi asupan daging secara ekstrem. Hal ini dilakukan untuk mencegah kelebihan zat besi (iron overload) yang tidak bisa dibuang secara alami oleh tubuh mereka.
dr. Titin Yuliani menekankan pentingnya asupan asam folat sebagai bahan bakar utama pembentukan sel darah merah yang lebih sehat. “Asam folat sangat krusial. Konsumsilah pisang, kedelai, gandum, ubi-ubian, telur, hingga ikan untuk asupan proteinnya. Jika gizinya bagus, produksi Hb akan lebih stabil meskipun ada gangguan genetik,” urainya.
Ikan dipilih sebagai sumber protein utama karena mengandung lemak sehat yang lebih ramah bagi metabolisme penderita. Selain itu, ubi-ubian dan gandum memberikan energi jangka panjang yang stabil sehingga penderita tidak mudah merasa lemas di tengah aktivitas harian.
Meski kasus Talasemia di Kabupaten Pasuruan tidak sebanyak penyakit degeneratif lainnya, dr. Titin memandang skrining dini sangatlah vital. Edukasi kepada calon pengantin misalnya melalui pemeriksaan laboratorium bisa menjadi langkah preventif untuk memutus rantai genetik atau setidaknya memberikan arahan penanganan sedini mungkin.
“Skrining itu bukan untuk menakuti, tapi agar ketika muncul gejala mirip, kita bisa langsung memberikan penanganan yang tepat tanpa terlambat,” pungkasnya.
Kenali Gejalanya:
- Lemas dan cepat lelah meski aktivitas minim.
- Bibir, kuku, dan telapak tangan tampak pucat.
- Sering mengeluh pusing atau bliyur.
- Pertumbuhan fisik cenderung lebih lambat dibanding anak seusianya.
Manajemen Nutrisi (Do & Don't):
|
DO (LAKUKAN) |
DON’T (HINDARI) |
|
1. Konsumsi makanan bergizi seimbang |
1. Hindari makanan tinggi zat besi berlebihan |
|
2. Perbanyak vitamin C |
2. Hindari teh, kopi saat makan |
|
3. Cukup minum air putih |
3. Hindari makanan cepat saji & tinggi lemak |
|
4. Pertahankan berat badan ideal |
4. Hindari minuman manis berlebihan |
|
5. Ikuti terapi & suplemen sesuai anjuran dokter |
5. Hindari alkohol & rokok |
|
6. Kontrol kesehatan rutin |
6. Jangan konsumsi suplemen zat besi sembarangan |
ps Olahraga:
- Sangat Dianjurkan: Jalan santai, peregangan ringan.
- Dilarang: Lari cepat (sprint), angkat beban, olahraga kompetisi yang menguras napas.
(tom/fun)
Editor : Abdul Wahid