Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Dampak Penggunaan VR Berlebihan, Begini Cara Terbaik Memanfaatkannya

Fahrizal Firmani • Sabtu, 25 April 2026 | 09:12 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

DI era digital saat ini, penggunaan gadget seperti smartphone, laptop, atau tablet sudah menjadi kebutuhan. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, dewasa ini gadget telah menjadi alat untuk mencari informasi. Kemajuan teknologi ini tentunya ada dampaknya, apalagi jika pemakaian berlebihan.

Salah satu kemajuan teknologi terbaru adalah Virtual Reality (VR) di mana mata kita semakin dekat dengan layar. VR menggunakan layar stereoskopik canggih untuk menciptakan ilusi kedalaman, membuat gambar dua dimensi tampak meyakinkan sebagai gambar tiga dimensi.

VR sudah mulai digunakan untuk sarana hiburan seperti video game. Tidak hanya untuk game saja, VR juga berguna untuk membantu proses kerja manusia di berbagai bidang seperti kesehatan, industri, edukasi, dan masih banyak lagi manfaat VR lainnya.

"Apakah VR berbahaya? VR akan berbahaya jika di gunakan secara berlebihan," kata dokter spesialis mata, dr. Dian Ratna.

Beberapa gejala yang bisa terjadi jika kita terlalu lama menggunakan VR, antara lain mata jarang berkedip, menjadi kering, dan lelah.

Kondisi ini dapat diperburuk saat mata berulang kali menyesuaikan fokus saat menggunakan VR. Karena mata harus terus bekerja untuk menyelaraskan dengan gambar yang ditampilkan.

Kedua, paparan cahaya biru dari layar. Sebenarnya cahaya biru ini tidak berbahaya untuk mata manusia tetapi jika terpapar terlalu lama, siklus tidur akan terganggu karena cahaya biru mirip dengan sinar matahari.

Di mana mata akan memberi sinyal ke otak untuk terjaga padahal sudah waktunya kita tidur.

Ada beberapa langkah untuk mengurangi kelelahan mata saat menggunakan VR. Pertama, melakukan 20-20-20.

Artinya, setiap 20 menit istirahat selama 20 detik, melihat jauh yang berjarak 20 kaki. Cara ini membantu mengurangi kelelahan dan ketegangan otot mata.

Lalu, dengan menurunkan kecerahan layar sesuai dengan kenyamanan mata kita. Pengguna juga bisa membatasi paparan cahaya biru. Gunakan filter cahaya biru saat memakai VR.

Tidak lupa pantau waktu penggunaan VR. Batasi penggunaan VR secara terus menerus, istirahatkan setiap 15 menit.

"Gunakan kalibrasi yang tepat. Pastikan kalibrasi headset VR kita dengan benar sesuai petunjuk pabrikan," tutur Nana, sapaannya.

 

Bisa Timbulkan Gangguan Refraksi

Pemakaian teknologi yang berlebihan tentu tidak baik pada kesehatan mata. Mata bisa terganggu. Penggunaan VR terlalu lama tanpa memperhatikan kenyamanan mata adalah gangguan refraksi.

dokter spesialis mata, dr. Dian Ratna menyebut, dampak jangka panjangnya dapat menyebabkan gangguan refraksi dan mata malas. Mata tidak akan normal seperti dulu. Gangguan ini tidak bisa disembuhkan. Sehari-harinya, penderita harus menggunakan kacamata.

Gangguan refraksi adalah gangguan penglihatan yang terjadi ketika cahaya masuk ke mata, tidak terfokus tepat pada retina, menyebabkan penglihatan kabur atau tidak tajam.

Efek VR bisa terjadi miopia atau rabun jauh. Menyebabkan objek jauh terlihat kabur dan objek dekat tetap jelas.

Mata malas atau amblyophia adalah gangguan perkembangan penglihatan di mana salah satu mata memiliki penglihatan lebih lemah dibandingkan mata lainnya. Ini karena otak tidak memproses sinyal dari mata itu dengan baik. Seringkali penderita harus memicingkan mata saat melihat suatu objek.

"Penderita mata malas jika tidak diobati, dapat menurunkan penglihatan secara permanen. Dan jika mengalami gangguan refraksi, harus memakai kacamata," sebut Nana.

Dokter yang sehari-harinya praktik di RSUD Grati Kabupaten Pasuruan ini menuturkan, jika sudah terkena gangguan refraksi, maka tidak bisa sembuh. Kacamata sebagai alat bantu untuk melihat. Solusi lain agar tidak tergantung pada kacamata dengan melakukan operasi lasik.

Lasik adalah prosedur bedah reaktif populer untuk memperbaiki rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), dan silinder (astigmatisme) menggunakan laser untuk membentuk kembali kornea. Tindakan ini untuk mengurangi atau menghilangkan ketergantungan pada kacamata.

"Tidak bisa menyembuhkan. Lasik hanya agar tidak tergantung kacamata. Namun gangguan refraksi tidak bisa hilang," jelas Nana. (riz/fun)

Editor : Abdul Wahid
#mata #virtual