PASURUAN, Radar Bromo - Suasana di Puskesmas Tosari, Kabupaten Pasuruan, tampak berbeda dan jauh lebih semarak pada peringatan Hari Kartini 21 April tahun ini.
Para tenaga kesehatan, mulai dari dokter hingga staf administrasi, menanggalkan seragam medis formal mereka dan berganti busana mengenakan kebaya serta pakaian adat khas Suku Tengger.
Perpaduan warna-warni kain tradisional dan selendang khas pegunungan ini, menciptakan atmosfer pelayanan yang hangat, sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap emansipasi perempuan dan pelestarian budaya lokal di tengah modernisasi layanan kesehatan.
Kepala Puskesmas Tosari, drg. Achmad Murtadho, menegaskan perayaan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk refleksi mendalam terhadap perjuangan R.A. Kartini.
Melalui balutan busana adat, pihak Puskesmas ingin menanamkan kembali semangat juang dan dedikasi bagi para nakes perempuan, agar terus menjadi garda terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Semangat Kartini diharapkan menjadi motor penggerak bagi nakes untuk memberikan pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis dan penuh empati,” ujarnya.
Meski tampil anggun dengan pakaian tradisional, profesionalisme kerja tetap menjadi prioritas utama.
Seluruh alur pelayanan, mulai dari pemeriksaan umum, imunisasi, hingga layanan ibu dan anak, tetap berjalan optimal tanpa hambatan.
Kehadiran para nakes dengan busana adat ini, justru mendapat apresiasi positif dari para pasien yang merasa lebih nyaman dan terhibur.
Suasana kekeluargaan yang kental yang tercipta di ruang tunggu berhasil mengurangi ketegangan pasien, memberikan pengalaman berobat yang unik dan berkesan bagi masyarakat setempat.
Tak hanya fokus pada pelayanan medis, momentum ini juga diisi dengan edukasi kesehatan yang menyasar para ibu dan perempuan di wilayah Tosari.
Para nakes memberikan penyuluhan interaktif mengenai pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pencegahan penyakit tidak menular, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya kemandirian perempuan dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga, sejalan dengan visi Kartini yang menginginkan sosok perempuan Indonesia yang cerdas, kuat, dan peduli terhadap kesejahteraan sesama.
Peringatan Hari Kartini di Puskesmas Tosari ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai tradisional dan semangat pengabdian dapat berjalan beriringan secara harmonis.
Kegiatan ini tidak hanya mempererat solidaritas antarpegawai, tetapi juga memperkuat identitas budaya Suku Tengger di mata publik.
Dengan semangat yang terus berkobar, para "Kartini" di Puskesmas Tosari berkomitmen untuk terus memberikan dedikasi terbaik mereka, memastikan bahwa cahaya perjuangan untuk kesehatan dan kesetaraan akan terus bersinar di lereng Bromo. (one)
Editor : Jawanto Arifin