KELUHAN nyeri tumit kerap dianggap sepele. Tidak sedikit masyarakat yang langsung mengaitkannya dengan kolesterol tinggi atau asam urat. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.
Tumit sakit bisa menjadi salah satu tanda kolesterol tinggi. Kolesterol yang menumpuk (aterosklerosis) dapat menyumbat pembuluh darah di kaki. Menyebabkan sirkulasi darah buruk, kram, atau nyeri pada tumit, terutama ketika malam. Namun kolesterol bukan satu-satunya penyebab nyeri tumit.
Salah satu dokter umum di Kabupaten Probolinggo dr. Beny Rayen Suhendra menjelaskan, nyeri tumit justru sering disebabkan peradangan pada bantalan tumit atau jaringan penyangga telapak kaki. Atau yang dikenal dengan istilah plantar fasciitis.
“Nyeri tumit seperti ini penyebabnya bukan karena kolesterol ataupun asam urat. Penyebabnya karena bantalan tumit mengalami peradangan. Ini yang disebut plantar fasciitis,” ujarnya.
Ada beberapa faktor yang memicu kondisi tersebut. Salah satunya berat badan berlebih yang membuat tekanan pada tumit semakin besar. “Kalau berat badan terlalu berat, otomatis beban di tumit juga meningkat. Lama-lama timbul nyeri,” katanya.
Selain itu, kebiasaan berdiri terlalu lama juga menjadi pemicu utama. Menurutnya, aktivitas rumah tangga yang membuat seseorang berdiri berjam-jam, seperti memasak, dapat memperparah keluhan. “Kalau berdiri terlalu lama, tumit semakin tertekan. Akibatnya rasa nyeri makin terasa,” jelasnya.
Faktor berikutnya adalah penggunaan alas kaki yang keras dan tidak nyaman. Sepatu atau sandal tanpa bantalan empuk membuat tekanan langsung mengenai tumit. “Kalau alas kaki keras, tekanan di tumit meningkat. Akhirnya, jaringan bantalan tumit mengalami peradangan,” ujarnya.
Keluhan plantar fasciitis biasanya paling terasa saat pagi, ketika baru bangun tidur dan mulai menapak. Rasa sakit dapat menusuk di area tumit hingga mengganggu aktivitas harian.
Untuk mengatasinya, dr. Beny menyarankan pengobatan guna meredakan nyeri dan peradangan. Namun perubahan gaya hidup menjadi kunci agar keluhan tidak kambuh kembali. “Yang paling penting kalau bisa menurunkan berat badan. Kemudian hindari berdiri terlalu lama, terutama saat beraktivitas di rumah. Diselingi istirahat,” sarannya.
Ia juga menekankan pentingnya menggunakan alas kaki empuk. Baik di dalam maupun di luar rumah. Lantai keramik atau semen yang keras bisa memperparah tekanan pada tumit jika berjalan tanpa sandal.
“Usahakan di rumah tetap pakai sandal yang empuk. Di luar rumah juga begitu. Supaya ketika nyeri sudah hilang, tidak kambuh lagi,” ujarnya.
Ia berpesan, hendaknya tidak sembarangan menyimpulkan penyebab nyeri tumit. Jika keluhan menetap atau semakin berat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke tenaga medis agar mendapat penanganan tepat. (mu/rud)
FAKTOR PEMICU NYERI TUMIT
· Berat badan berlebih membuat tekanan pada tumit semakin besar. Jika badan terlalu berat, otomatis beban tumit meningkat.
· Bebiasaan berdiri terlalu lama. Aktivitas rumah tangga yang membuat seseorang berdiri berjam-jam, seperti memasak, dapat memperparah keluhan
· Penggunaan alas kaki yang keras dan tidak nyaman. Jika alas kaki keras, tekanan di tumit meningkat. Akhirnya, jaringan bantalan tumit mengalami peradangan.
Editor : Fahreza Nuraga