LEBARAN telah usai. Tapi toples-toples berisi nastar, kastengel, putri salju, dan lidah kucing seringkali masih terisi penuh di meja tamu. Euforia menyantap kue kering khas Lebaran sering membuat kita lupa bahwa makanan ini memiliki masa simpan, dan menyimpan kue terlalu lama dapat membawa risiko kesehatan.
Meskipun kue kering identik dengan daya tahan yang lama karena kadar air yang rendah, menyimpan kue terlalu lama terutama setelah toples sering dibuka-tutup dapat memicu jamur dan penurunan kualitas gizi. Sehingga tetap harus lebih hati-hati dan memperhatikan kue lebaran yang akan dikonsumsi.
”Setelah hari raya Lebaran usai, perlu diwaspadai memang kue lebaran yang masih ada dan tersimpan lama. Karena ada factor dan resiko kue lebaran yang terlalu jika dikonsumsi,” kata Tunik Agustina SKM, Nutrisionis Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) kota Probolinggo.
Mengapa kue Lebaran lama berbahaya? Tunik menerangkan, ada beberapa faktor atau penyebab kue lebaran yang sudah lama menjadi berbahaya.
Pertama tumbuhnya jamur dan bakteri, kue kering yang sudah tidak renyah (melempem) menandakan masuknya udara dan kelembapan. Ini adalah lingkungan ideal bagi jamur untuk tumbuh. Meskipun tidak terlihat secara kasat mata pada awalnya.
Kemudian, oksidasi lemak (tengik). Artinya kue lebaran kaya akan mentega, margarin dan telur.
Penyimpanan jangka panjang menyebabkan oksidasi lemak, membuat kue menjadi tengik. Mengonsumsi makanan tengik dapat menyebabkan sakit perut, mual, dan diare.
”Tentunya, kue lama terjadi penurunan nutrisi dan kualitas rasa. Sebab kue yang sudah lama tidak lagi memberikan nutrisi yang baik dan rasanya pun sudah jauh berkurang. Jadi akhirnya lebih rawan pada dampak tidak sehat,” terangnya.
Periksa setelah Sebulan Dibuat
MOMEN Lebaran memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di Indonesia untuk menghidangkan kue. Jamak yang membuatnya sendiri atau membeli produk jadi dari level UMKM hingga buatan pabrik. Kue-kue itu menjadi sajian khusus untuk tamu-tamu yang datang ke rumah.
Tidak sedikit kue-kue itu jumlahnya berlebihan. Karena tamu-tamu yang dating untuk silaturahmi, terkadang bisa lebih dari sebulan. Nah, di sinilah yang sebenarnya menjadi soal.
Tilik saja yang sering dilakukan Jumaidah, 42. Wanita asal Jrebeng Kulon ini sering membuat kue lebaran hingga bertoples-toples. “Apalagi kastengel dan putri salju. Selalu saya buat lebih karena anak-anak suka. Adonannya saja minimal sampai 5 kilogram,” beber wanita berhijab itu.
Jumaidah biasa membuat kue-kue itu dua sepekan hingga dua pekan sebelum Lebaran. Bila terlah jadi, kue-kue itu disimpan rapi di rak kitchen set di rumahnya. Saat Idul Fitri tiba, kue-kue itu dikeluarkan untuk dihidangkan.
“Tamu saya banyak, terutama dari suami. Karena kerja di luar kota, maka seringkali teman-teman suami bersilaturahmi sebulan setelah Lebaran, karena waktunya memang tak memungkinkan dengan alasan pekerjaan,” kata Jumaidah.
Memang dia akui, saat kue Lebaran yang sudah agak lama disimpan, ada perubahan rasa. Tapi kue-kue buatannya selalu jadi santapan tamu dan terkadang menjadi buah tangan bagi tamu-tamunya.
“Meski rasanya tidak fresh saat hari raya. Tapi biasanya saya siasati dengan menyimpannya di toples yang kedap. Tapi ya tetap saja berubah rasanya,” beber Jumaidah.
Lalu kapan sebenarnya batas maksimal kue Lebaran untuk disajikan? Tunik Agustina SKM, Nutrisionis Dinkes-P2KB Kota Probolinggo mengungkapkan, kue Lebaran jelas punya masa kadaluarsa. Memakannya pun ada batasannya.
Jika dikonsumsi berlebihan juga tidak baik. Baik itu mengonsumsi kue lebaran yang baru apalagi yang lama. Bagi kue lebaran yang lama, resikonya sudah jelas basi. Tapi jika mengonsumsi kue kering secara terus-menerus dalam jumlah banyak memiliki dampak kesehatan serius.
Salah satunya, lonjakan kolesterol. Sebab, kue kering sering menggunakan mentega tinggi lemak jenuh dan banyak menggunakan gula.
”Tingginya kandungan gula dapat membahayakan penderita diabetes atau memicu prediabetes. Risiko dampaknya tentu berat badan naik. Sebab, kue kering adalah makanan tinggi kalori namun rendah serat,” ungkapnya.
Kesimpulannya, segera habiskan kue lebaran dalam satu sampai dua minggu pertama. Jika sudah mendekati satu bulan atau lebih kue lebaran masih ada, periksa kembali kelayakannya sebelum mengonsumsi demi kesehatan keluarga.
Bagaimana cek kue lebaran layak atau tidak dikonsumsi?
1. Uji Organoleptic
2. Rasanya berubah apa tidak
3. Warna apakah mengalami perubahan misalnya mulai tumbuh jamur
4. Aroma apakah masih normal atau mulai tengik
5. Tekstur tetap baik
6. cek kemasan, Tetap bagus atau ada yg penyok
Ciri-ciri Kue Lebaran yang Harus Dibuang
1. Aroma: Tercium bau tengik atau apek.
2. Tekstur: Tidak renyah/melempem, atau terasa lengket.
3. Visual: Terdapat bintik-bintik putih, kehijauan, atau kecoklatan (jamur).
4. Warna: Warna selai atau bahan kue sudah berubah kusam.
Tips Aman Menyimpan Kue Lebaran:
1. Pastikan toples kedap udara.
2. Simpan di tempat kering dan sejuk, hindari sinar matahari langsung.
3. Jangan mencampur kue yang baru dimasak dengan kue lama.
(mas/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni