LEBARAN selalu identik dengan meja penuh hidangan. Mulai dari nastar, kastengel, putri salju, hingga sirup berwarna-warni tersaji hampir di setiap rumah. Dalam suasana silaturahmi yang hangat, banyak orang tanpa sadar mengonsumsi gula dalam jumlah cukup besar.
Di tengah limpahan makanan dan minuman manis itu, ada satu hal sederhana yang sering terabaikan: minum air putih.
Padahal, air putih memiliki peran penting dalam menjaga metabolisme tubuh. Ketika asupan gula meningkat, tubuh membutuhkan cairan yang cukup untuk membantu proses pencernaan serta menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.
Praktisi kebugaran Ferdian Yudha Pramana menjelaskan, minuman manis tidak dapat menggantikan fungsi dasar air putih bagi tubuh.
“Banyak orang merasa sudah cukup minum karena mengonsumsi sirup atau teh manis. Padahal fungsi hidrasi terbaik tetap berasal dari air putih. Tubuh membutuhkan cairan murni untuk membantu metabolisme bekerja dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsumsi gula yang tinggi saat Lebaran dapat memicu rasa haus lebih cepat. Hal itu terjadi karena tubuh membutuhkan tambahan cairan untuk membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah.
Karena itu, Ferdian menyarankan masyarakat mulai membangun kebiasaan sederhana saat menikmati sajian Lebaran.
“Cara yang paling mudah adalah minum air putih sebelum menyantap kue atau makanan manis. Kebiasaan kecil itu membantu tubuh tetap terhidrasi sekaligus membuat kita lebih sadar dengan porsi makanan,” jelasnya.
Selain membantu metabolisme, air putih juga membantu tubuh tetap segar di tengah pola makan yang cenderung berubah selama hari raya. Menurut Ferdian, banyak orang baru menyadari kekurangan cairan ketika tubuh sudah terasa tidak nyaman.
“Kalau sudah muncul sakit kepala atau badan terasa tidak segar, itu sering kali tanda tubuh mulai kekurangan cairan. Karena itu jangan menunggu haus untuk minum,” katanya.
Lebaran tidak hanya soal makanan. Hari raya juga identik dengan tradisi silaturahmi. Sejak pagi hingga malam, banyak orang berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk bertemu keluarga dan kerabat.
Aktivitas tersebut sering kali berlangsung berjam-jam. Tanpa disadari, tubuh tetap mengeluarkan energi dan cairan selama perjalanan, terutama ketika cuaca panas atau saat harus berjalan cukup jauh.
Ferdian Yudha Pramana, yang juga personal trainer di pusat kebugaran Fitness Plus mengatakan, aktivitas fisik ringan seperti berjalan, berkendara, atau berpindah tempat tetap membuat tubuh kehilangan cairan.
“Silaturahmi itu kelihatannya santai, tapi sebenarnya tubuh tetap aktif. Kita berjalan, berbicara, bahkan kadang kepanasan di perjalanan. Tubuh tetap mengeluarkan cairan,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini sering tidak disadari karena orang lebih fokus pada kegiatan bertemu keluarga. Akibatnya, sebagian orang mulai merasakan tubuh cepat lelah saat silaturahmi berlangsung lama.
“Kalau tubuh kekurangan cairan, biasanya muncul rasa cepat capek, kepala terasa berat, atau badan kurang bertenaga. Itu bisa terjadi meskipun aktivitasnya tidak terlalu berat,” kata lelaki yang akrab disapa Coach Ferdian itu.
Sebagai personal trainer, ia juga mengingatkan pentingnya tetap menjaga kebiasaan bergerak selama masa libur Lebaran. Menurutnya, banyak orang berhenti berolahraga karena sibuk dengan agenda keluarga dan perjalanan.
Padahal, tubuh justru membutuhkan aktivitas fisik ringan agar tetap bugar setelah mengonsumsi berbagai hidangan khas Lebaran.
“Tidak harus olahraga berat. Jalan kaki pagi hari, stretching ringan, atau sekadar bergerak aktif sudah cukup membantu tubuh tetap segar selama libur Lebaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, kombinasi antara hidrasi yang cukup dan aktivitas fisik ringan akan membantu tubuh menjaga stamina selama rangkaian silaturahmi Lebaran. “Kalau tubuh cukup cairan dan tetap aktif bergerak, biasanya kita tidak mudah lelah meskipun seharian berkeliling,” tambah Ferdian.
Disuguhi Sirup Seringkali Bikin Lupa Minum Air Putih
Bagi banyak keluarga, Lebaran selalu menghadirkan suasana hangat di ruang tamu. Toples kue kering berjajar di meja, sementara minuman manis disiapkan untuk menyambut tamu yang datang silih berganti.
Namun di balik kebiasaan tersebut, tidak sedikit orang yang menyadari bahwa mereka justru jarang minum air putih selama hari raya.
Rina, 34, warga Bangil, mengaku baru menyadari kebiasaan itu setelah beberapa kali merasa tubuhnya cepat lelah saat bersilaturahmi.
“Kalau Lebaran itu rasanya hampir di setiap rumah disuguhi sirup atau minuman manis. Jadi ya otomatis minumnya itu. Kadang baru sadar belum minum air putih ketika sudah sore,” katanya.
Menurutnya, situasi tersebut sering terjadi karena suasana silaturahmi membuat orang lebih fokus pada percakapan dan makanan yang disajikan. Pengalaman serupa juga dialami Arif, 29. Ia biasanya berkeliling bersama keluarga sejak pagi untuk mengunjungi kerabat.
“Kalau sudah beberapa rumah, perut rasanya penuh. Tapi anehnya tetap merasa agak capek,” ujarnya.
Baru belakangan ia menyadari bahwa selama berkeliling ia hampir tidak minum air putih. “Biasanya baru minum air putih ketika sudah pulang ke rumah,” katanya.
Praktisi kebugaran Ferdian Yudha Pramana menilai pengalaman seperti itu cukup umum terjadi saat Lebaran. Menurutnya, suasana hari raya membuat orang tidak terlalu memperhatikan kebiasaan minum.
“Karena suasananya santai dan penuh makanan, orang sering tidak sadar bahwa tubuh tetap membutuhkan air putih,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat mulai membangun kesadaran kecil selama menikmati suasana Lebaran. “Sesekali ingatkan diri sendiri untuk minum air putih. Kebiasaan sederhana itu bisa membantu tubuh tetap nyaman meskipun aktivitas hari raya cukup padat,” ujar Ferdian.
Dengan perhatian kecil terhadap kebutuhan tubuh, suasana Lebaran bisa tetap dinikmati dengan lebih nyaman dan bugar. (tom/fun)
Editor : Abdul Wahid