Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Waspada Campak Jerman, Kenali Dampak dan Penyebabnya

Fahrizal Firmani • Sabtu, 27 Desember 2025 | 17:20 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

BANYAK yang menganggap remeh campak sebagai penyakit biasa dan umum terjadi pada anak dan orang dewasa. Tapi faktanya, penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Bahkan bisa menyebabkan kematian janin pada ibu hamil (bumil).

Spesialis kulit, dr. Faradiani Rasyidi menyebut, saat ini ada campak jerman dikenal juga dengan nama rubela.  Ini merupakan penyakit infeksi menular akut yang disebabkan oleh virus RuV (rubella virus). Penyebaran utamanya melalui droplet atau percikan air liur yang keluar saat seseorang yang terinfeksi itu batuk atau bersin.

Percikan ini kemudian terhirup oleh orang-orang di dekatnya. Selain itu, ada jalur penularan lain yang sangat penting untuk diwaspadai. Yaitu, transmisi vertikal (ibu ke janin). Virus dapat menular dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya melalui aliran darah.

Infeksi pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama, berisiko tinggi menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital pada bayi yang dapat menimbulkan cacat lahir serius. Bisa juga menular melalui kontak langsung, seperti menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang benda yang terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita.

"Virus rubela atau campak jerman dapat menyerang siapa saja, dari segala usia, terutama jika orang tersebut belum pernah divaksinasi atau belum pernah terinfeksi sebelumnya, sehingga belum memiliki kekebalan," katanya.

Fara–sapaannya–menyebut, kelompok yang paling berisiko atau yang perlu diwaspadai itu anak-anak. Rubela umumnya menyerang anak-anak, tetapi gejalanya sering kali ringan.

Bisa juga menyerang orang dewasa yang belum diimunisasi. Sebab, orang dewasa yang belum pernah divaksinasi atau belum pernah terinfeksi juga rentan terhadap virus ini. Kelompok yang paling rentan dan perlu diwaspadai secara serius adalah ibu hamil (bumil). Sebab, infeksi rubela pada awal kehamilan (terutama trimester pertama) memiliki risiko tinggi.

"Pada bumil, virus ini bisa menyebabkan komplikasi serius pada janin yang dikenal sebagai Sindrom Rubella Kongenital (SRK)," jelas dokter yang hari-harinya praktik di RSUD Grati, Kabupaten Pasuruan ini.

Fara menyebut, gejala biasanya muncul sekitar 14 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Tanda-tanda umum terkena rubela, muncul ruam kemerahan berupa bintik-bintik kecil berwarna merah atau merah muda. Awalnya muncul di wajah dan kemudian menyebar ke badan, tangan, dan kaki.

Biasanya ruam ini berlangsung selama satu hingga tiga hari dan bisa terasa gatal, tetapi lebih ringan daripada ruam campak biasa. Gejala lainnya, terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening.

Terutama terasa di area belakang telinga dan leher. Gejala lain yang menyertai adalah terpapar demam ringan. Biasanya tidak terlalu tinggi, di bawah 38 derajat.

"Mengalami sakit kepala, pilek atau hidung tersumbat, mata merah (Konjungtivitis), tidak nafsu makan atau rasa tidak nyaman pada tubuh, hingga nyeri sendi dan ini lebih sering terjadi pada remaja wanita dan orang dewasa," sebut Fara. (riz/fun)

Bisa Sebabkan Komplikasi

JANGAN anggap sepele virus Rubella. Bagi yang belum terpapar, sebaiknya segera melakukan pencegahan. Bisa melakukan vaksinasi untuk mencegah. Jika terlambat, virus ini bisa menyebabkan kelainan mata, gangguan pertumbuhan hingga kematian janin pada bumil.

Spesialis kulit, Faradiani Rasyidi menyebut durasi ruam Rubella biasanya berlangsung singkat, yaitu sekitar satu hingga tiga hari. ​Waktu pemulihan total infeksi Rubella secara keseluruhan (dengan semua gejala) biasanya sembuh dalam waktu sekitar lima hingga 10 hari. Meski begitu, virus ini tidak boleh dianggap remeh.

Jika terpapar maka, harus segera mendapatkan pelayanan medis. Dampak Rubella menjadi sangat serius dan berbahaya jika terjadi pada bumi. Terutama pada trimester pertama (12 minggu awal kehamilan).

Ketika virus Rubella menginfeksi ibu hamil, virus dapat menular ke janin melalui aliran darah dan menyebabkan kondisi yang disebut Sindrom Rubella Kongenital  yang dapat mengakibatkan keguguran atau kematian janin (lahir mati/stillbirth). Bisa pula berakibat cacat lahir yang parah pada bayi, yang paling umum meliputi; gangguan pendengaran (tuli), Kelainan mata (seperti katarak, glaukoma, atau kerusakan retina), hingga, penyakit jantung bawaan.

"​Masalah lain yang bisa muncul adalah gangguan pertumbuhan, kerusakan otak (seperti mikrosefali), gangguan pada hati dan limpa. Dan, keterlambatan perkembangan," tutur Fara.

Lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menuturkan virus Rubella ini bisa menyebabkan komplikasi langka jika terpapar pada anak dan dewasa. ​Meskipun jarang terjadi, tapi Rubella pada anak atau dewasa dapat memicu komplikasi seperti, ensefalitis (radang otak), trombositopenia (jumlah keping darah yang rendah).

Saat mengalami gejala Rubella, maka penanganan yang bisa dilakukan di rumah adalah istirahat yang cukup. Ini sangat penting untuk membantu tubuh melawan infeksi virus. Kemudian, mencukupi cairan tubuh dengan minum banyak air putih atau cairan lain (seperti air hangat dengan madu dan lemon) untuk mencegah dehidrasi.

Bisa meminum obat pereda gejala, yakni Paracetamol (Acetaminophen) atau Ibuprofen. Obat ini dapat digunakan untuk meredakan demam dan nyeri sendi atau pegal-pegal. Atau menggunakan krim atau lotion sebagai pengurang gatal jika ruam terasa gatal. Jangan digaruk karena bisa meninggalkan bekas atau menyebabkan infeksi bakteri.

"Lakukan isolasi diri untuk mencegah penularan, terutama kepada bumil. Sebaiknya penderita tidak beraktivitas di luar rumah hingga sembuh total. Biasanya sampai tujuh hari setelah ruam menghilang)," katanya.

Dokter asal Kota Malang ini menyebut walaupun umumnya ringan, ada beberapa kondisi yang memerlukan perhatian medis segera.

Bagi bumil yang mengalami infeksi Rubella, terutama pada trimester pertama kehamilan, segera periksa ke dokter kandungan. Sebab dapat menyebabkan komplikasi serius pada janin.

Untuk semua kasus (anak dan dewasa), saat mengalami gejala Rubella, maka segera hubungi dokter jika mengalami ruam yang disertai demam ringan, mata merah, dan pembengkakan kelenjar getah bening (terutama di belakang telinga dan leher). Terutama jika belum pernah divaksinasi MMR atau Anda mencurigai adanya infeksi.

"Atau saat mengalami gejala yang Memburuk atau tidak kunjung hilang. Jika gejala (seperti demam, ruam, atau nyeri sendi) tidak membaik setelah beberapa hari atau terlihat semakin parah," sebut Fara.

Cara mencegah virus Rubella bisa dengan melakukan vaksinasi (Imunisasi) yaitu vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Vaksin ini melindungi dari Campak, Gondongan, dan Rubella. Dosis pertama untuk usia 12-15 bulan (atau 18 bulan, tergantung jadwal yang digunakan). Dosis kedua (booster): Usia 4-6 tahun (atau 5-7 tahun).

Sementara untuk remaja dan dewasa yang belum pernah divaksinasi atau hanya menerima satu dosis, terutama wanita usia subur yang berencana hamil, sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin satu atau dua dosis (dengan jarak antar dosis minimal satu bulan).

"Vaksin Rubella tidak boleh diberikan saat sedang hamil. Wanita disarankan menunda kehamilan setidaknya 1 bulan setelah menerima vaksin," pungkasnya.

Selain itu dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan karena Rubella menular melalui percikan air liur (droplet) saat batuk atau bersin.

Dianjurkan rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara teratur, terutama setelah batuk atau bersin dan setelah bepergian. Dan hindari kontak langsung dengan penderita. (riz/fun)

Editor : Abdul Wahid
#campak