GIGI berlubang atau karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan mulut paling sering dialami masyarakat.
Meski terlihat sepele, jika dibiarkan tanpa perawatan, dampaknya bisa sangat serius. Bahkan bisa mengancam kesehatan organ tubuh lain.
Karies terjadi akibat kerusakan lapisan gigi oleh asam yang dihasilkan bakteri dari sisa makanan, terutama makanan manis yang mengandung gula.
“Gigi itu punya beberapa lapisan. Paling luar adalah enamel atau email, di bawahnya dentin, lalu yang paling dalam adalah ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Ketika sisa makanan tidak dibersihkan, bakteri akan menghasilkan asam yang mengikis lapisan terluar gigi secara perlahan,” jelas drg. Kyagus Badius Sani, M.H., CMC.
Proses pengikisan ini disebut demineralisasi. Jika terus berlanjut tanpa perawatan, lubang akan semakin dalam hingga mencapai ruang saraf. Pada tahap inilah, pasien biasanya mulai merasakan nyeri hebat.
“Ciri gigi yang sudah sampai saraf itu nyerinya spontan, berdenyut, berlangsung lama, dan seringkali tidak hilang meski sudah minum obat pereda nyeri,” ujar Kyagus.
Namun, gigi berlubang tidak selalu harus dicabut. Menurut Kyagus, selama sisa struktur gigi masih cukup baik dan bisa dipertahankan, gigi masih dapat diselamatkan melalui perawatan saluran akar atau root canal treatment.
“Pada perawatan saluran akar, jaringan saraf yang sudah mati dan terinfeksi akan dibersihkan menggunakan jarum endodontik sampai ke ujung akar. Setelah itu saluran akar diisi, lalu gigi direstorasi kembali dengan tambalan, mahkota atau crown, inlay, onlay, atau overlay. Dengan begitu, fungsi gigi bisa kembali normal,” terangnya.
Bahaya terbesar terjadi jika gigi yang lubangnya sudah mencapai saraf tidak segera dirawat. Infeksi bisa berkembang menjadi abses gigi, yaitu penumpukan nanah akibat bakteri di ujung akar. Selain menimbulkan bengkak dan nyeri berat, infeksi juga berisiko menyebar ke bagian tubuh lain.
“Infeksi dari gigi itu disebut fokus infeksi. Bisa menyebar ke paru-paru, ke jantung menyebabkan endokarditis, ke sinus, hingga tulang rahang,” ungkapnya.
Selain berdampak pada kesehatan, keterlambatan perawatan juga membuat biaya pengobatan membengkak.
“Kalau masih tahap awal cukup ditambal, biayanya relatif ringan. Tapi kalau sudah sampai saraf, harus perawatan saluran akar yang tentu biayanya jauh lebih besar,” tambahnya.
Untuk mencegah gigi berlubang, Kyagus menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut secara rutin.
Beberapa langkah utama yang perlu dilakukan di antaranya menyikat gigi minimal dua kali sehari, menggunakan benang gigi, serta berkumur dengan obat kumur antiseptik.
Selain itu, masyarakat juga disarankan membatasi konsumsi gula dan minuman manis, memperbanyak minum air putih, serta melakukan kontrol rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali.
“Jika sudah muncul tanda awal karies berupa titik hitam di permukaan gigi, segera periksakan ke dokter gigi untuk dilakukan penambalan. Jangan tunggu sampai lubangnya semakin dalam,” pungkas drg. Kyagus.
Dengan deteksi dini dan perawatan yang tepat, gigi berlubang bukan hanya bisa dicegah, tetapi juga dapat diselamatkan tanpa harus dicabut. Kuncinya ada pada kedisiplinan menjaga kebersihan gigi dan rutin memeriksakan kesehatan mulut. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid