PENGGUNAAN diapers atai popok pada orang dewasa bisa menjadi solusi bagi lanjut usia (lansia) yang tidak bisa menahan buang air kecil atau yang dikenal dengan inkontinensia urine.
Kondisi ini sering terjadi pada manula karena adanya perubahan struktural kandung kemih dan gangguan pada kontrol saraf akibat penuaan.
Penggunaan popok sangat diperlukan untuk mempermudah aktivitas mereka. Apalagi penggunaan popok ini juga bisa mempermudah caregiver dalam merawat mereka.
Namun, pemakaian popok tetap perlu diperhatikan. Penggantian harus dilakukan secara berkala.
Spesialis kulit, dr Faradiani Rasyidi mengungkapkan, pemakaian popok bagi orang dewasa atau bayi, sejatinya sama. Tidak boleh sembarangan.
Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan. Diantaranya, popok yang dipakai harus aman dan nyaman bagi kulit.
Dianjurkan bisa memilih yang berbahan lembut dan mengandung hypoallergenic. Idealnya bahannya harus lembut untuk meminimalkan gesekan pada kulit dan memiliki memiliki label hypoallergenic (aman untuk kulit sensitif) dan bebas dari pewangi, pemutih klorin, atau pewarna berlebihan yang bisa memicu iritasi atau ruam popok.
Popok juga harus memiliki lapisan luar yang memungkinkan adanya sirkulasi udara yang baik.
"Ini penting untuk mencegah kelembapan berlebih dan menjaga kulit tetap kering, sehingga mengurangi risiko ruam," katanya.
Selain itu, popok seyogyanya memiliki daya serap dan anti bocor. Dengan daya serap tinggi, maka popok bisa cepat menyerap dan mampu menampung cairan dalam jumlah besar (biasanya menggunakan bahan penyerap gel seperti SAP/Super Absorbent Polymer).
Popok yang baik akan mengunci cairan di dalamnya agar permukaan yang bersentuhan dengan kulit tetap kering.
Popok yang bagus biasanya juga menggunakan teknologi yang membuat gel penyerap tidak menggumpal setelah terisi cairan. Hal ini menjaga bentuk popok tetap tipis dan nyaman.
"Juga memiliki pelindung anti bocor (leak guard). Harus memiliki karet elastis di pinggang dan pelindung di sekitar paha yang lentur dan kencang (tapi tidak ketat) untuk mencegah kebocoran samping," jelasnya.
Dokter yang kesehariannya berdinas di RSUD Grati Pasuruan ini menyebut, kesesuaian ukuran juga penting. Ukuran popok harus sesuai dengan berat badan, bukan hanya usianya.
Popok yang terlalu ketat dapat menyebabkan iritasi, sementara yang terlalu longgar akan mudah bocor.
Popok bagi bayi dan lansia itu pada prinsipnya kriterianya sama tapi ada sedikit perbedaan. Popok bayi mengutamakan kulit sensitif, sirkulasi udara, dan kenyamanan gerak.
Sementara dewasa mengutamakan kapasitas tampung yang besar, anti-bocor, dan kemudahan bagi caregiver untuk mengganti.
"Sebaiknya tetap memperhatikan penggunaan popok sesuai usia. Namun popok yang baik harus memenuhi kriteria yang seperti itu," kata Fara.
Penggantian popok harus dilakukan berkala. Harus rajin ganti, misal setelah empat sampai enam jam.
Tapi ini juga tergantung pada kotorannya. lebih cepet ganti diapers, maka lebih baik. Jika dibiarkan bisa membahayakan penggunanya. Mereka bisa terkena penyakit kulit.
Bahaya utama yang bisa timbul akibat keterlambatan atau ketidakrutinan dalam mengganti popok, diantaranya bisa menyebabkan ruam popok (diaper rash). Ini adalah bahaya yang paling umum dan cepat terjadi.
Penyebabnya, kulit yang terpapar urin (mengandung urea yang diubah menjadi amonia) dan feses (mengandung enzim pencernaan) terlalu lama. Kombinasi kelembapan, panas, dan bahan kimia ini mengikis lapisan pelindung kulit. Gejala yang timbul adalah kulit kemerahan, iritasi, dan timbul peradangan.
Bisa juga menyebabkan infeksi Jamur (Candidiasis). Ini bisa muncul jika ruam popok diabaikan, maka area yang lembap dan teriritasi menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan jamur, terutama candida albicans.
"Gejalanya, ruam semakin parah, merah menyala, dan terdapat bintik-bintik kecil (satelit) di pinggiran area utama ruam," kata perempuan asal Kota Malang ini.
Selain itu, tidak rutin mengganti popok bisa menimbulkan infeksi saluran kemih (ISK). Ini adalah risiko yang lebih serius, terutama pada anak perempuan dan wanita. Penyebabnya, bakteri dari feses yang menetap lama di popok dapat bergerak ke saluran kemih, terutama uretra, dan menyebabkan infeksi.
Gejala pada orang dewasa adalah demam, sering buang air kecil (atau justru sulit buang air kecil), nyeri, dan urin berbau tidak sedap. Pada bayi, gejalanya sering hanya rewel, malas menyusu, atau demam tanpa sebab jelas.
"Popok yang dibiarkan penuh akan mengeluarkan bau yang tidak sedap, mengganggu kenyamanan bayi/lansia dan kebersihan lingkungan sekitar," tutur Fara. (riz/fun)
Jangan Sepelekan Kebersihan Area Popok
MENJAGA popok tetap bersih sangat penting. Ini untuk memastikan tubuh pengguna tidak terkena penyakit. Prosedur penggantian popok yang tepat diantaranya, selalu cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah mengganti popok.
Dan pastikan semua yang dibutuhkan sudah dijangkau (popok bersih, lap basah/kapas, krim penghalang, tempat sampah).
Lalu, jangan pernah meninggalkan orang yang menggunakan popok tanpa pengawasan, terutama di tempat tinggi seperti meja ganti. Untuk melepas popok yang kotor, bisa dengan membuka perekat popok kotor dan lipat bagian yang kotor ke tengah untuk menahan kotoran (feses).
Dan gunakan bagian popok yang bersih untuk menyeka sebagian besar kotoran dari kulit. Langkah paling krusial, gunakan air dan sabun Lembut.
Idealnya, bersihkan area popok menggunakan air hangat dan sedikit sabun lembut, atau gunakan lap basah/tisu tanpa alkohol dan pewangi.
Cara membersihkan bagi Wanita/Anak Perempuan, selalu bersihkan dari depan ke belakang (dari area kemaluan ke anus). Ini mencegah kuman dari area anus berpindah ke uretra atau vagina. Sementara untuk Pria/Anak Laki-laki bisa dengan membersihkan area kemaluan, skrotum, dan lipatan kulit.
"Perhatikan juga lipatan kulit di selangkangan dan paha, karena kotoran sering terperangkap di sana. Bisa menggunakan sabun, bilas area tersebut dengan air bersih," kata lulusan universitas Brawijaya Malang ini.
Untuk mengeringkan kulit, bisa dilakukan dengan lembut dengan cara menepuk bagian kulit dengan handuk bersih dan lembut atau biarkan mengering sebentar di udara. Terpenting, kulit harus benar-benar kering sebelum memasang popok baru. Kelembapan adalah penyebab utama ruam popok.
Bisa mengaplikasikan krim penghalang (barrier cream) untuk menjaga kulit tidak ruam. Caranya, mengoleskan lapisan tipis krim penghalang (misalnya, yang mengandung zinc oxide atau petroleum jelly) ke seluruh area popok, terutama jika ada tanda-tanda kemerahan atau iritasi. Krim ini berfungsi menciptakan lapisan pelindung antara kulit dan kelembapan urine atau feses.
"Saat memasang popok bersih dengan perekat yang pas, tidak terlalu ketat (untuk mencegah iritasi) dan tidak terlalu longgar (untuk mencegah kebocoran)," tutur Fara.
Memakai popok kain cuci ulang (clodi) bisa menjadi pilihan. Namun ada kelebihan dan kekurangan dibanding popok sekali pakai.
Karena meskipun biaya awal pembelian mungkin lebih besar, clodi dapat dicuci dan dipakai berulang kali. Ini jauh lebih hemat dibandingkan membeli popok sekali pakai secara terus-menerus.
Clodi umumnya terbuat dari bahan kain lembut (seperti katun atau microfiber) yang bebas dari bahan kimia seperti pewarna, pewangi, atau gel penyerap (sodium polyacrylate) yang terkadang dapat memicu alergi atau iritasi pada kulit yang sensitif.
Penggunaannya juga ramah lingkungan. Karena bisa mengurangi jumlah limbah popok sekali pakai yang sulit terurai dan menumpuk di TPA (tempat pemrosesan akhir).
Kekurangan popok kain cuci ulang adalah kurang praktis. Sebab, membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk proses mencuci, mengeringkan, dan merawat popok secara rutin.
Popok jenis ini memiliki daya serap lebih rendah. Meskipun clodi modern sudah dilengkapi lapisan penyerap, daya serapnya mungkin tidak setinggi popok sekali pakai yang mengandung gel penyerap.
"Ini berarti harus lebih sering diganti. Sehingga tidak praktis. Saat bepergian, harus membawa clodi kotor dalam tas khusus (anti air) untuk dicuci," jelas Fara.
Beberapa jenis clodi memiliki aturan khusus saat mencuci (misalnya tidak boleh menggunakan pelembut pakaian, deterjen terlalu banyak, atau sikat keras) agar daya serapnya tidak rusak.
"Kelebihannya, kemungkinan terkena penyakit lebih minim. Tapi ini dikembalikan pada pengguna. Yang terpenting menjaga kebersihan area popok,," pungkasnya. (riz/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni