KRAM otot sering dianggap sepele. Tapi rasa sakitnya dapat membuat penderitanya meringis tak berdaya. Kondisi yang terjadi mendadak dan menyakitkan ini bisa menyerang siapa saja. Mulai dari anak-anak, pekerja kantor, hingga atlet olahraga.
Padahal kram otot yang selama ini dianggap “biasa saja”, jika dibiarkan bisa berbahaya. Bahkan bila tak ditangani, bisa mengancam karir olahragawan.
Ini diungkapkan seorang terapis bersertifikat nasional, Muhammad Irfandi. Kata Irfandi, kram merupakan kontraksi atau ketegangan otot yang tiba-tiba. Didak disengaja dan biasanya menyakitkan, yang bisa berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit.
Ia menjelaskan, kram sering muncul karena otot dan persendian belum siap menerima aktivitas berat.
“Biasanya kurangnya pemanasan sehingga otot-otot dan persendian belum sepenuhnya siap untuk melakukan aktivitas olahraga atau program latihan,” tegasnya.
Irfandi mengingatkan bahwa penyebab kram tidak tunggal. “Kram otot yang sering terjadi disebabkan karena berbagai faktor, seperti dehidrasi, kelelahan otot akibat olahraga berlebihan, ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium dan magnesium, dan kondisi medis tertentu,” jelasnya.
Kram pada perut bahkan lebih kompleks. “Kram perut bisa disebabkan karena kontraksi otot yang berlebihan, gas berlebih, gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar atau keracunan makanan, dehidrasi, serta penyakit seperti infeksi virus atau batu ginjal,” paparnya.
Sementara itu, kram pada paha sering dialami setelah aktivitas berat. “Kram di paha sering terjadi karena dehidrasi, kekurangan mineral seperti kalium dan magnesium, atau kelelahan otot akibat aktivitas berlebihan seperti olahraga,” ujar Irfandi.
Pemulihannya pun tidak instan. “Kram paha biasanya perlu waktu untuk pulih 3 sampai 5 hari jika penanganan tepat,” beber Irfandi.
Untuk kram tangan, faktor ergonomi juga menjadi penyebab besar. “Penggunaan otot berlebihan seperti saat mengetik atau bermain alat musik, dehidrasi, kekurangan elektrolit, serta posisi tangan yang salah atau tidak ergonomis dalam waktu lama merupakan pemicu utamanya,” ungkapnya.
Bahkan kram kaki yang muncul saat tidur pun bukan hal sepele. “Kram kaki saat tidur dapat disebabkan oleh dehidrasi, kekurangan mineral seperti kalium, kalsium atau magnesium, posisi tidur yang salah, atau kelelahan otot akibat aktivitas berat,” tambahnya.
Sebagai terapis profesional, Irfandi memaparkan, teknik yang biasa dia gunakan untuk meredakan berbagai jenis kram. Untuk kram perut, ia menerapkan kompres es, pijatan dengan beberapa teknik massage, peregangan otot, dan teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi.
Ia juga memberi saran tambahan untuk membantu meredakan kram perut. “Mengonsumsi cairan yang cukup, minum teh herbal seperti peppermint atau chamomile, serta makan makanan yang mudah dicerna juga dapat membantu meredakan kram pada perut,” tuturnya.
Untuk kram pada paha atau kaki, Irfandi menegaskan pentingnya teknik pijat yang benar.
“Teknik yang diterapkan untuk mengatasi kram pada bagian paha atau kaki yaitu dengan di-massage atau pijat dengan teknik yang benar, dan dikompres ess,” jelasnya. Pada kram paha, ia biasa menggunakan Teknik Effleurage, Petrissage, dan Shaking.
Sedangkan untuk tangan, ia menganjurkan penanganan yang lembut. “Anda bisa mengistirahatkan tangan, di-massage, serta mengompres area yang kram dengan kompres hangat atau dingin secara bergantian,” sarannya.
Semua itu harus dilakukan sesuai standar. “Sangat efektif jika penanganan sesuai SOP,” tegasnya.
Gaya Hidup Ikut Berpengaruh
Kram yang dialami seseorang juga bisa dipengaruhi oleh gaya hidup. Ini juga menjadi faktor menentukan apakah seseorang mudah mengalami kram atau tidak.
“Faktor gaya hidup yang dapat menyebabkan kram secara berulang meliputi dehidrasi, pola makan tidak seimbang, aktivitas fisik yang berlebihan, dan kurangnya peregangan,” ujar Irfandi.
Ia merinci pentingnya nutrisi. “Nutrisi dan mineral yang dapat mencegah kram otot antara lain kalium, magnesium, dan kalsium, yang dapat ditemukan dalam makanan seperti ubi jalar, bayam, alpukat, kacang-kacangan, dan pisang. Selain itu, vitamin B kompleks, terutama vitamin B12, juga berperan dalam menjaga fungsi saraf yang sehat dan dapat membantu mencegah kram,” jelasnya.
Untuk pencegahan lebih luas, pastikan terhidrasi dengan baik, lakukan pemanasan sebelum olahraga, dan lakukan peregangan setelahnya, serta penuhi asupan nutrisi seperti magnesium dan kalium dari makanan.
"Mengonsumsi makanan bergizi, tidak memaksakan diri dengan olahraga yang terlalu berat, dan istirahat cukup juga dapat membantu mencegah kram otot.”
Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan dalam penanganan justru dapat memperburuk kondisi.
“Kesalahan umum saat menangani kram adalah panik dan langsung melakukan pijatan keras pada otot yang kram. Pijatan yang terlalu kuat justru dapat memperparah kontraksi dan menyebabkan robekan pada serabut otot,” jelasnya.
Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah tidak menghentikan aktivitas, kurang peregangan, dan kurang minum air putih. Hal-hal yang biasanya disepelekan oleh seseorang.
Jika kram terjadi berulang, Irfandi mengingatkan agar tidak dianggap enteng. “Untuk keluhan kram otot yang berulang, prosedur terapi harus mencakup penanganan segera saat kram terjadi, pencegahan agar tidak kambuh, dan identifikasi penyebab mendasarinya. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan diagnosis dan rencana terapi yang tepat, terutama jika kram sering terjadi tanpa penyebab yang jelas,” pesannya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid