BAGI sebagian orang, suara “krek” di leher terasa seperti musik yang menenangkan. Setelahnya, ada yang mengaku badan terasa ringan, kepala plong, dan rasa kaku hilang seketika.
Namun, di balik sensasi lega itu, ternyata ada risiko besar yang mengintai jika dilakukan sembarangan.
Ahmad Kusnadi. seorang masseur atau terapis profesional menegaskan bahwa kebiasaan “kretek leher” atau chiropractic amat berisiko bila dilakukan tanpa pengetahuan anatomi tubuh yang benar.
“Banyak orang mengira suara ‘krek’ itu tanda keberhasilan. Padahal, belum tentu begitu,” ujar pria yang juga seorang guru PJOK di SMAN 2 Kraksaan, Jumat (10/10).
Kusnadi menjelaskan, suara gemeretak yang muncul saat leher dikretek bukanlah tulang yang bergeser atau ‘balik ke posisi semula’.
“Suara itu sebenarnya berasal dari pelepasan gas atau gelembung oksigen di cairan sendi yang disebut cairan sinovial,” terangnya.
Gas tersebut pecah ketika sendi leher mengalami tekanan tertentu. “Efeknya terasa enak, karena tubuh melepaskan endorfin zat alami pereda nyeri. Itu yang bikin orang merasa ringan dan segar,” lanjutnya.
Namun, efek nyaman itu bersifat sementara. Jika dilakukan terlalu sering atau dengan cara yang salah, justru bisa menimbulkan masalah serius.
“Sendi di leher itu kecil, dan di sekitarnya banyak organ vital seperti pembuluh darah besar, saraf, dan trakea. Kalau posisi gerakannya salah sedikit saja, bisa cedera,” ucapnya tegas.
Menurut Kusnadi, bahaya terbesar dari kretek leher sembarangan adalah gangguan sendi dan cedera jaringan lunak.
“Bisa terjadi pergeseran sendi, ketegangan otot, bahkan dalam kasus ekstrem bisa menyebabkan penyempitan aliran darah ke otak,” ujarnya.
Selain itu, pembuluh darah di area leher sangat dekat dengan otak besar dan otak kecil. “Kalau sampai tertekan atau robek karena gerakan mendadak, bisa fatal. Bahkan bisa menyebabkan stroke,” tambahnya.
Kusnadi mengaku sering menangani pasien yang datang dengan keluhan nyeri leher setelah mencoba kretek sendiri.
“Biasanya mereka bilang awalnya enak, tapi setelah beberapa jam malah kaku, pegal, atau pusing. Itu tandanya otot dan ligamennya trauma,” katanya.
Sebagai terapis profesional, Kusnadi menekankan bahwa manipulasi leher tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada prosedur yang harus dilalui agar aman.
“Pertama, posisi duduk harus benar. Lalu, beri pijatan ringan dulu di otot-otot yang berperan di area leher terutama otot trapezius,” jelasnya sambil memperagakan gerakan tangannya.
Setelah itu lakukan stretching atau peregangan. Leher digerakkan ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah secara perlahan.
“Setelah ototnya rileks, baru dilakukan teknik kretek, dengan pandangan mengarah ke depan atau menyamping,” lanjutnya.
Menurutnya, tanpa pemanasan otot, risiko cedera akan meningkat tajam. “Kalau ototnya masih kaku lalu langsung dikretek, bisa robek atau terjepit. Itu yang berbahaya,” ucapnya.
Meski demikian, Kusnadi tidak menolak bahwa kretek leher memiliki banyak manfaat bila dilakukan oleh tangan profesional. “Kalau tekniknya benar, manfaatnya besar, mas,” ujarnya sambil tersenyum.
Salah satunya melancarkan peredaran darah di area leher. Karena di situ dekat sekali dengan otak kecil dan otak besar. Ia menjelaskan, otak kecil berperan dalam sistem gerak tubuh, sedangkan otak besar berfungsi untuk daya ingat.
“Jadi, ketika peredaran darah di leher lancar, otomatis suplai oksigen ke otak juga bagus. Akibatnya tubuh lebih bugar, pikiran lebih fokus,” ujarnya.
Selain itu, efek lain yang sering dirasakan pasiennya adalah kenyamanan dan relaksasi.
“Setelah dikretek dengan teknik yang benar, biasanya rasa kaku hilang, kepala terasa ringan, pandangan lebih jelas, dan kantuk berkurang. Kadang pasien bilang, Wah, enak banget mas, rasanya plong!” tuturnya sambil tertawa kecil.
Kusnadi yang juga sering menangani atlet nasional bahkan internasional ini menuturkan, kretek leher bisa membantu mengurangi kelelahan akibat aktivitas fisik.
“Buat atlet, itu penting. Tapi tetap harus hati-hati. Karena kalau salah sedikit, bisa malah cedera otot,” tegasnya.
Meski begitu ia meminta kepada siapapun agar tidak asal meniru gerakan kretek dari internet. “Sekarang banyak video di media sosial yang menunjukkan orang nge-kretek leher sendiri. Itu bahaya. Setiap orang punya struktur tulang berbeda, tidak bisa disamakan,” ujarnya.
Menurutnya, jika leher terasa kaku atau pegal, sebaiknya istirahat sejenak. Lebih baik lakukan peregangan ringan atau pijatan lembut.
“Kalau belum membaik, barulah datang ke terapis yang benar-benar memahami anatomi tubuh. Jangan asal krek, nanti malah repot sendiri,” ujarnya menutup wawancara. (mu/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni