Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Cara Menjaga Mental Health di Tengah Rapuhnya Gen Z

Muhamad Busthomi • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 17:39 WIB
MUMPUNI: Layanan psikiatri di RSUD Bangil untuk anak dan remaja. Inset, Darmi Sapto Kurniawati , Tim Kerja RSUD Bangil,”
MUMPUNI: Layanan psikiatri di RSUD Bangil untuk anak dan remaja. Inset, Darmi Sapto Kurniawati , Tim Kerja RSUD Bangil,”

GENERASI Z, yang lahir di rentang 1997–2012, kini menghadapi tantangan yang tak bisa dianggap remeh. Yakni krisis kesehatan mental.

Fenomena ini ditandai meningkatnya kasus kecemasan, depresi, overthinking, hingga gangguan tidur yang kian marak di kalangan anak muda.

Ada sejumlah faktor yang membuat Gen Z lebih rentan. Kemajuan teknologi dan derasnya arus media sosial memberi dampak ganda.

Di satu sisi, membuka akses informasi tanpa batas. Tapi di sisi lain, menciptakan budaya membandingkan diri yang memicu rasa rendah diri dan cemas.

Belum lagi, tekanan akademik dan kompetisi kerja yang semakin ketat, membuat anak muda merasa hidupnya dipacu tanpa henti.

Di RSUD Bangil misalnya, banyak pasien datang dengan keluhan sulit tidur, sering cemas, hingga kehilangan semangat belajar. Kalau dibiarkan, ini bisa berkembang menjadi depresi.

Bahkan, ada pasien yang datang dengan keluhan tubuh kaku, pegal seluruh badan, dan insomnia akibat penggunaan gadget berlebihan.

“Kalau sudah begitu, otak pun bisa ikut terdampak,” kata dr. Darmi Sapto Kurniawati , Tim Kerja RSUD Bangil.

Tak hanya merusak psikologis, gangguan mental juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Gen Z yang depresi sering kehilangan motivasi, tidak bisa fokus belajar, bahkan mudah putus asa.

Sementara mereka yang mengalami kecemasan berlebih, sering menunjukkan gejala psikosomatis. Seperti pusing, sakit perut, hingga lemas tanpa sebab jelas.

Tanda-tanda awal harus diwaspadai. Perubahan pola makan, mood swing ekstrem, atau insomnia bisa menjadi alarm bahwa kesehatan mental mulai terganggu.

“Kalau gejala ini berlarut-larut, segera konsultasikan. Lebih cepat ditangani, lebih baik hasilnya,” ujarnya.

 

Media Sosial, Bullying, dan Gadget Jadi Pemicu Utama

Apa yang membuat kesehatan mental Gen Z begitu rapuh? Jawabannya berlapis. Media sosial menjadi salah satu pemicu terbesar. Anak muda hampir setiap hari mengakses platform digital, membandingkan hidupnya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, cantik, atau bahagia.

Dengan kata lain, banyak anak muda merasa hidupnya tertinggal hanya karena melihat postingan di Instagram atau TikTok.

Di samping itu, bullying juga masih jadi faktor serius. Kasus perundungan di sekolah, kampus, atau lingkungan pertemanan meninggalkan luka psikis.

Faktor lain yang tak kalah berbahaya adalah penggunaan gadget berlebihan. Bermain gawai tanpa batas tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tapi juga berdampak pada mental. Tubuh pegal, sulit tidur, hingga kecanduan layar bisa memperparah risiko gangguan jiwa.

“Gangguan tidur adalah pintu masuk banyak masalah mental. Begitu pola tidur rusak, mood dan pikiran jadi tidak stabil,” jelas dr. Darmi Sapto Kurniawati , Tim Kerja RSUD Bangil.

Tanpa penanganan tepat, risiko isolasi sosial dan hilangnya semangat hidup makin besar. Ia menekankan pentingnya edukasi mental health agar Gen Z tidak terjebak dalam lingkaran stres.

“Kuncinya ada pada kesadaran diri dan dukungan keluarga. Jangan menunggu parah dulu untuk datang ke layanan kesehatan jiwa,” tegas Darmi.

 

Pentingnya Layanan Psikiatri Anak dan Remaja

Menyikapi maraknya gangguan kesehatan mental di kalangan generasi muda, RSUD Bangil membuka layanan psikiatri anak dan remaja. Layanan tersebut tersedia setiap Senin hingga Sabtu pukul 08.00–13.00.

Dengan mengusung semangat Kesehatan Mental Anak dan Remaja: Ceria, Berkembang, dan Berseri, layanan ini melibatkan kolaborasi lintas profesional.

“Mulai psikiater anak dan remaja, pediatri-neonatologi, psikolog, hingga tim rehabilitasi medik,” kata dr. Darmi Sapto Kurniawati , Tim Kerja RSUD Bangil.

Seluruhnya juga sudah terintegrasi dengan BPJS, sehingga bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. Darmi juga menjelaskan, psikiatri anak berbeda dengan layanan psikiatri umum. Dimana pasien dewasa biasanya lebih mengarah pada depresi, kecemasan berat, hingga skizofrenia.

Sedangkan psikiatri anak menitikberatkan pada aspek tumbuh kembang. Gangguan seperti ADHD, autisme, kecemasan remaja, hingga kasus kongenital ditangani dengan pendekatan khusus.

“Untuk anak tidak bisa dilepaskan dari faktor keluarga. Orang tua harus ikut terlibat dalam terapi,” jelas Darmi.

Kasus kongenital menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan gangguan mental akibat tekanan lingkungan, kondisi bawaan lahir memerlukan terapi jangka panjang.

Penanganannya sering melibatkan kolaborasi dengan tim rehabilitasi medik. Terapi psikologis dipadukan dengan terapi fisik agar anak tetap bisa tumbuh optimal.

Darmi menyebut, RSUD Bangil juga menekankan pentingnya deteksi dini. Orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti mood swing, sulit tidur, pola makan terganggu, hingga menurunnya konsentrasi.

“Kalau ada yang berbeda, segera konsultasi. Jangan menunggu parah dulu,” tegas Darmi.

Pesan serupa juga ditujukan untuk generasi Z. Rasa cemas, insomnia, maupun overthinking tidak boleh diremehkan.

“Itu bisa menjadi gejala awal gangguan mental serius. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang sembuh total,” pungkasnya. (tom/fun)

Editor : Abdul Wahid
#mental health #Keseahatan