KESEHATAN gigi pada anak begitu penting dalam tumbuh kembangnya. Gigi yang rusak dapat menyebabkan nafsu makan anak menjadi turun. Sebab terasa sakit atau kurang nyaman saat digunakan untuk mengunyah makanan.
Senyum ceria anak tidak hanya membuat hati orang tua menjadi bungah. Hal ini juga menjadi cerminan kesehatan giginya.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap masalah gigi pada anak sebagai hal biasa. Kesehatan gigi anak sering kali menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka, namun justru kerap terabaikan.
Dokter Gigi di Puskesmas Pakuniran, drg. Andina Muzayyanti mengatakan, sampai saat ini masih ditemukan anak-anak yang mengalami sakit gigi. Penyakit gigi yang paling sering terjadi pada anak adalah karies gigi, gigi berlubang atau banyak yang menyebutnya gigis.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi karies nasional mencapai 82,8 persen, sementara pada kelompok anak usia 5-9 tahun angkanya lebih tinggi lagi, yaitu 84,8 persen. Masalah ini bukan sekadar persoalan estetika. Tetapi juga berdampak langsung pada nutrisi, kualitas tidur, kemampuan bicara, hingga kepercayaan diri anak.
“Kondisi ini menandakan bahwa sebagian besar anak Indonesia sudah mengalami gigi berlubang sejak usia dini,” katanya.
Karies gigi atau gigi berlubang tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses bertahap. Penyakit gigi ini terjadi saat anak sering makan makanan manis atau bertepung. Lalu sisa makanan itu akan menempel di permukaan gigi. Bakteri alami di dalam rongga mulut kemudian mengubah sisa makanan tersebut menjadi asam.
Jika gigi jarang dibersihkan, asam akan menumpuk dan perlahan mengikis lapisan pelindung gigi atau email gigi. Lama-kelamaan, terbentuklah lubang kecil yang bisa semakin dalam dan besar hingga mengenai saraf gigi dan menimbulkan rasa sakit.
“Tidak semua gigi sama tingkat kerentanannya terhadap gigi berlubang. Ada beberapa gigi dan bagian tertentu yang lebih mudah berlubang,” terangnya.
Dokter Andina menjelaskan, gigi paling rentan terkena karies pada anak adalah gigi geraham belakang. Baik pada gigi susu maupun gigi permanen pertama.
Sebab permukaan gigi lebih luas dan bergelombang dibandingkan dengan gigi lainnya. Terdapat lekukan dan cekungan pada gigi sehingga sisa makanan mudah terselip dan gigi susu secara umum karena emailnya tipis dan anak sering kesulitan menjaga kebersihan
Ada beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan gigi berlubang diantaranya makanan yang tinggi gula. Seperti permen, cokelat, kue, wafer, biskuit manis, serta minuman manis kemasan.
Lalu susu dengan tambahan gula atau susu formula yang tidak segera dibersihkan setelah diminum juga bisa meninggalkan sisa manis yang merusak gigi.
Selain itu, makanan berbahan tepung seperti roti putih, keripik, mie instan, hingga nasi yang lengket dapat menempel di sela gigi dan menjadi sumber makanan bagi bakteri.
Makanan manis dan lengket, seperti karamel, dodol, permen karet bergula, serta kue basah, juga berbahaya karena sulit dibersihkan dan memberi waktu lebih lama bagi bakteri untuk menghasilkan asam.
“Tidak kalah berisikonya, minuman asam seperti jus buah kemasan, minuman bersoda, atau minuman berenergi dapat langsung mengikis lapisan pelindung gigi (email gigi), apalagi jika dikonsumsi terlalu sering tanpa segera berkumur atau minum air putih,” tandasnya.
Pentingnya Pencegahan Sejak Dini
Agar gigi anak tidak mudah terkena karies atau gigi berlubang, kuncinya ada pada pencegahan sejak dini. Sesuai dengan tren preventive dentistry yang kini semakin berkembang.
Pencegahan dimulai dari rumah dengan membiasakan anak menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
Orang tua juga perlu mengatur pola makan anak dengan membatasi makanan manis, lengket, serta minuman bersoda atau kemasan.
Gantikan dengan camilan sehat. Misalnya seperti buah potong, sayuran segar, yoghurt, kacang-kacangan untuk anak usia lebih besar, dan minuman sehat pendamping seperti air putih dan susu tanpa gula tambahan.
“Anak sebaiknya mulai diperkenalkan pada dokter gigi sejak usia dini. Bahkan begitu gigi pertamanya tumbuh, yaitu sekitar usia 6 bulan hingga 1 tahun,” kata Dokter Andina.
Pada tahap ini, kunjungan bukan hanya untuk memeriksa kondisi gigi, tetapi juga sebagai langkah edukasi bagi orang tua tentang cara merawat gigi susu anak. Setelah itu, pemeriksaan gigi dianjurkan dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali.
Dengan membiasakan anak sejak kecil untuk periksa ke dokter gigi, perawatan gigi bisa dilakukan lebih mudah. Mencegah terbentuknya karies sejak awal, sekaligus membuat anak terbiasa dan tidak takut saat ke dokter gigi di kemudian hari.
Dokter gigi bisa melakukan langkah preventif modern yang semakin populer, seperti aplikasi fluoride untuk memperkuat email gigi, atau dental sealant, yaitu lapisan pelindung tipis yang ditempatkan di permukaan gigi geraham anak agar lebih tahan terhadap serangan asam dan bakteri.
“Pencegahan dan perawatan pada gigi anak begitu penting. Bukan hanya mencegah penyakit pada gigi anak. Juga agar asupan gizi pada makanan bisa terpenuhi. Tanpa takut sakit karena gigi berlubang atau karies gigi,” pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Fandi Armanto