Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ada Larangan Game Roblox, Begini Ancaman Kesehatan Mental di Balik Layar

Muhamad Busthomi • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 17:40 WIB
BISA BERINTERAKSI: Penggemar game Roblox memainkan game ini di senggang waktu kerja. Inset, Nanik Kholifah, Ketua Program Studi Psikologi di Universitas Yudharta.
BISA BERINTERAKSI: Penggemar game Roblox memainkan game ini di senggang waktu kerja. Inset, Nanik Kholifah, Ketua Program Studi Psikologi di Universitas Yudharta.

SERUAN larangan game online Roblox oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memicu perbincangan di dunia parenting. Bagi sebagian orang tua, game ini dianggap bagian dari perkembangan digital.

Namun, banyak juga yang melihatnya sebagai ancaman bagi kesehatan mental anak. Lantas, seberapa bahaya game yang satu ini?

Pernyataan Abdul Mu’ti yang menilai anak usia SD belum sepenuhnya mampu membedakan mana adegan nyata dan mana yang rekayasa seolah menjadi ”lampu merah” bagi para orang tua. Mereka punya kecenderungan untuk meniru apapun yang mereka tonton.

Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan, sebab game seperti Roblox tidak hanya sekadar permainan, melainkan juga platform sosial terbuka yang mempertemukan anak-anak dengan pengguna lain dari seluruh dunia, dengan risiko yang sangat besar.

Ketua Program Studi Psikologi di Universitas Yudharta Pasuruan Nanik Kholifah, S.Psi. M.Si, menjelaskan, ada beberapa dampak psikologis krusial yang bisa ditimbulkan game online pada anak. Menurutnya, game online dapat memicu dampak psikologis krusial pada anak.

”Permainan yang kompetitif bisa membuat anak frustrasi dan kemarahan yang tidak terkontrol,” tukasnya.

Paparan konten kekerasan atau interaksi negatif berulang, juga dapat menurunkan sensitivitas anak terhadap perasaan orang lain. Ia juga menyebutkan adanya pengaburan realitas yang membuat anak terjebak dalam dunia virtual, menciptakan jurang antara ekspektasi di dunia nyata dan pengalaman digital.

”Selain itu, durasi bermain yang panjang bisa menyebabkan kelelahan mental, sulit fokus, hingga menurunnya prestasi akademik,” jelasnya.

Paling penting, Nanik juga menyoroti potensi paparan konten yang tidak sesuai usia, karena sifatnya yang user-generated. ”Roblox memungkinkan anak terpapar konten yang belum tentu sesuai untuk tahap perkembangan mereka,” bebernya.

Menurut Nanik, orang tua perlu mengenali tanda-tanda bahaya. Perubahan perilaku drastis, seperti mudah marah jika tidak diizinkan bermain, menjadi sinyal pertama. Selain itu, anak juga akan menunjukkan penurunan minat pada aktivitas offline seperti hobi atau bermain dengan teman sebaya. Tanda lainnya adalah sering menunda atau menghindari tanggung jawab sekolah dan rumah tangga, hingga kebohongan soal durasi bermain.

”Gangguan pola tidur, seperti tidur larut malam atau sering mengantuk di siang hari juga jadi alarm penting,” tegas Nanik.

Menurutnya, anak-anak secara alami memiliki kapasitas regulasi emosi yang belum sempurna. Terutama, mereka yag masih di bawah usia 12 tahun. Ada beragam reaksi saat mereka menghadapi kekalahan, ejekan verbal, atau bahkan toxic behavior dalam game. Diantaranya mereka akan menunjukkan reaksi impulsif atau agresif, menyerap kata-kata kasar dan menormalisasikannya, hingga menjadi rendah diri jika sering gagal dalam game.

”Untuk mengetahui sejauh mana kondisi itu terjadi kita bisa mengukur apakah anak mampu move on dari kekalahan dengan tenang? Sejauh mana mereka membedakan antara emosi dalam game dan kenyataan? Lalu, apakah anak bersedia berbicara tentang pengalamannya, termasuk yang negatif?,” kata Nanik.

Jika anak belum bisa menjawab atau merefleksikan emosi tersebut dengan baik, maka ia belum cukup matang untuk menghadapi dinamika game yang kompleks.

 

Bahaya Jika Tak Dikontrol

Di satu sisi, game online memberikan pengalaman sosial digital. Namun jika tidak dikontrol, ini bisa berdampak negatif pada keterampilan sosial di dunia nyata. Inilah dampak negatif dari game online:

Menurunnya empati tatap muka: Anak cenderung lebih nyaman berkomunikasi secara anonim.

Distorsi konsep pertemanan: Anak menganggap “teman online” sama dengan teman nyata tanpa memahami kualitas hubungan sehat.

Risiko kepercayaan berlebihan atau ketakutan sosial: Anak bisa menjadi terlalu terbuka atau justru menarik diri dari dunia nyata.

Anak-anak yang terlanjur kecanduan game tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi dengan pendekatan marah-marah atau ancaman.

Langkah pertama yang disarankan adalah membangun komunikasi yang terbuka dan dialogis.

”Ajak anak berbicara tanpa menyalahkan, dengarkan alasannya bermain, dan jelaskan risiko yang mungkin muncul. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan lebih mau menerima arahan,” saran Nanik Kholifah, S.Psi. M.Si, Ketua Program Studi Psikologi di Universitas Yudharta Pasuruan. 

Tahap berikutnya adalah menerapkan jadwal bermain yang sehat. Tentukan batas waktu penggunaan gawai setiap hari, lalu tegakkan aturan itu secara konsisten. Orang tua perlu menjadi teladan. Jangan sibuk dengan ponsel saat meminta anak berhenti bermain.

”Selain itu, penting untuk mengalihkan perhatian anak ke kegiatan yang lebih menyehatkan, baik secara fisik maupun sosial,” jelasnya.

Ia menyarankan pendekatan dialogis, membangun komunikasi terbuka tanpa menyalahkan. Penerapan jadwal bermain yang sehat dan mengalihkan perhatian anak ke aktivitas sosial atau fisik, seperti olahraga dan hobi kreatif, juga sangat efektif. Aktivitas ini tidak hanya mengisi waktu luang, tapi juga memperkaya pengalaman hidup anak.

Namun, jika gejala kecanduan sudah berat, misalnya anak menunjukkan tanda gaming disorder yang mengganggu sekolah, hubungan sosial, atau keseharian. ”Maka bantuan profesional perlu dilibatkan. Konsultasi dengan psikolog atau terapis bisa membantu menemukan strategi penanganan yang tepat dan berkelanjutan,” bebernya.

Nanik menekankan, kunci utamanya adalah pendampingan aktif. Ia menegaskan, orang tua perlu hadir secara sadar dalam proses tumbuh kembang anak di era digital.

Game online seperti Roblox bukan musuh, tapi juga bukan pengasuh. Ia adalah alat yang bisa menjadi bermanfaat atau merusak tergantung pada bagaimana anak menggunakannya dan bagaimana orang tua membimbing. Orang tua tidak perlu melarang total, tetapi perlu hadir secara sadar dalam proses tumbuh kembang anak di era digital,” pungkasnya. (tom/fun)

Editor : Abdul Wahid
#main hp #Roblox #dampak game online