Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Ablasio Retina, Jangan Sepelekan Kilatan Cahaya dan Floaters!

Muhamad Busthomi • Sabtu, 12 Juli 2025 | 18:00 WIB
BUTUH PENANGANAN: Artis Dewi Yull yang dikabarkan tengah mengalami ablasio retina pada mata kanannya.
BUTUH PENANGANAN: Artis Dewi Yull yang dikabarkan tengah mengalami ablasio retina pada mata kanannya.

JAGAT hiburan tanah air dikejutkan dengan kabar artis senior Dewi Yull yang secara terbuka mengungkap fakta pahit: ia kini mengalami ablasio retina, sebuah gangguan mata serius yang bisa berujung pada kebutaan. Mata kanannya bahkan kini sudah kehilangan penglihatan. Penyakit ini tak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja, kapan saja.

Ablasio retinaadalah kondisi ketika retina, lapisan tipis nan peka cahaya di bagian belakang mata, mendadak "minggat" dari jaringan pendukungnya.

Padahal, retina ini adalah "jendela" mata kita, fungsinya vital menangkap cahaya dan mengirim sinyal ke otak agar kita bisa melihat.

"Ketika retina terlepas, suplai oksigen dan nutrisi terganggu. Ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan," terang dr. Fahmi Budiman, Direktur Rumah Sakit Mata Pasuruan.

Ia menegaskan, ablasio retinaini adalah kondisi darurat medis yang butuh penanganan super cepat. "Jika tidak segera ditangani, kebutaan bisa terjadi dalam waktu singkat," imbuhnya.

Secara umum, ada tiga jenis utama ablasio retinayang perlu diwaspadai. Pertama, rhegmatogenous: Ini jenis paling umum, terjadi gara-gara robekan pada retina akibat proses penuaan atau perubahan cairan vitreous di mata.

Kedua, traksional: Terjadi karena pertumbuhan jaringan parut yang menarik retina, seringkali menghantui pasien diabetes.

Terakhir, eksudatif: Tipe ini disebabkan penumpukan cairan di bawah retina, bisa akibat peradangan, tumor, atau degenerasi makula.

Beberapa faktor bisa jadi pemicu ablasio retina. Sebut saja usia di atas 40 tahun, rabun jauh berat, riwayat operasi mata seperti katarak, riwayat keluarga dengan ablasio retina, atau cedera mata serius.

Gejala ablasio retinabisa muncul mendadak dan bervariasi, tergantung seberapa luas retina yang terlepas. "Gejala-gejala ini bisa berkembang cepat. Semakin luas retina yang terlepas, semakin besar risiko kehilangan penglihatan permanen," imbuh dr. Fahmi.

Oleh karena itu, penting sekali untuk segera memeriksakan diri ke dokter mata jika mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut.

Gejala ablasio:

Diagnosis Cepat Kunci Penyelamat

Ablasio retina adalah kondisi darurat medis yang butuh diagnosis dan penanganan kilat. Diagnosisnya dilakukan melalui pemeriksaan mata komprehensif. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan mata dilatasi, di mana tetes mata digunakan untuk melebarkan pupil agar retina bisa terlihat lebih jelas.

Setelah pemeriksaan awal, dokter mungkin akan menggunakan beberapa metode tambahan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail.

Salah satunya adalah Optical Coherence Tomography (OCT), sebuah pemindaian non-invasif yang memungkinkan dokter melihat struktur retina secara rinci.

Jika ada kondisi mata yang menghalangi pandangan langsung, seperti perdarahan, ultrasonografi mata akan menjadi pilihan.

Terakhir, ada Fundus imaging, teknik pengambilan gambar retina untuk mengidentifikasi area yang terlepas dengan jelas.

"Semua prosedur ini relatif tidak menimbulkan rasa sakit dan dilakukan secara cepat untuk membantu penegakan diagnosis dan perencanaan pengobatan," jelas dr. Fahmi.

Meski demikian, ablasio retinatetaplah kondisi serius yang bisa menyebabkan kebutaan permanen jika terlambat ditangani. "Pemeriksaan mata secara rutin dan konsultasi segera ke dokter mata saat muncul gejala adalah langkah terbaik untuk mencegah kebutaan," pungkas dr. Fahmi. (tom/fun)

Editor : Abdul Wahid
#ablasio retina #dewi yull #kebutaan