SAMPAI saat ini masih sering diperdebatkan mengenai cara minum obat terutama oleh masyarakat awam. Tata cara minum obat memang beragam. Ada yang suka minum obat dengan air hangat, ada juga yang suka minum obat dengan air dingin.
Bahkan untuk anak kecil, minum obat dilakukan dengan buah pisang. Alasannya agar tidak terlalu pahit dan gampang masuk.
Nah, kalau dari apoteker sendiri. Sebetulnya cara minum obat yang benar itu seperti apa ya?
Dalam hal ini, Apt. Retno Ayu Nitasari, S.Farm mengatakan bahwa sebetulnya obat lebih baik diminum dengan air putih. Dia pun menjabarkan alasan-alasannya. Diantaranya adalah,
- Air putih tidak berinteraksi dengan obat. Sehingga minim risiko efek samping
- Meningkatkan bioavailabilitas obat sehingga obat dapat diserap lebih baik oleh tubuh
- Memudahkan penyerapan ibat dalam tubuh sehingga bekerja lebih efektif.
Jadi, air putih dingin dan air putih suhu ruang, mana yang lebih baik?
Kata Retno, sebetulnya suhu air apapun ketika masuk ke dalam tubuh akan disesuaikan lagi dengan suhu tubuh. Sehingga air dingin atau suhu ruang tak memberi pengaruh apa-apa.
“Usahakan minum obat tetap dengan air putih walaupun pahit. Terkait yang bagus suhu ruang atau air dingin itu sama saja,” katanya.
Di sisi lain, Retno menanggapi banyak kesalahan minum obat yang masih dilakukan oleh masyarakat. Masih ada di sekitar kita yang meminum obat dengan minuman berasa seperti kopi, teh ataupun susu.
Padahal teh sendiri, kata Retno memiliki kandungan kafein sama dengan kopi. Kafein yang terkandung dalam dua jenis minuman itu dapat berinteraksi dengan beberapa kandungan obat yang kemudian menghambat penyerapan obat. Alhasil, obat tak bekerja dengan baik.
Sedangkan susu, memiliki kandungan kasein. Dampaknya jika diminum bersamaan dengan obat adalah, kasein dapat mengikat beberapa jenis obat dan berpengaruh pada efektvitasnya. Kerja obat juga tak maksimal.
Jadi jangan heran jika meminum obat dengan ketiga jenis minuman itu, obat tak bereaksi maksimal. Badan tetap sakit dan tak kunjung sembuh.
“Air putih lebih baik karena dia tidak mengandung hal apapun yang bisa berinteraksi langsung dengan obat,” katanya.
Perempuan 28 tahun asal Kecamatan Leces itu juga menyoroti cara kebanyakan orang tua yang menggunakan pisang agar sang anak mau minum obat. Dalam hal itu, kata Retno sebetulnya juga tak lebih baik dari minum obat dengan air putih biasa.
Buah pisang sendiri, memiliki kandungan serat yang mana juga bisa menghambat penyerapan obat. Terlebih kalium dari pisang juga akan berinteraksi terhadap obat-obat untuk kasus penyakit jantung dan hipertensi.
“Sebetulnya belum ada efek samping yang signifikan tapi untuk obat-obat tertentu perlu diperhatikan,” ujarnya.
Pertanyaan umum lain yang sering ditanyakan oleh masyarakat awam adalah, apakah harus makan sebelum minum obat?
Retno kembali menjelaskan, bahwa makan sebelum minum obat (selain obat maag) lebih dianjurkan. Alasannya adalah untuk mengurangi efek samping obat seperti mual dan muntah.
Selain itu, makan juga dapat meningkatkan penyerapan obat dalam tubuh. Makan sebelum minum obat secara langsung adalah membantu kinerja obat agar bereaksi lebih optimal terutama obat-obat yang larut dalam lemak.
Kandungan obat yang larut dalam lemak contohnya adalah vitamin A, D, E dan K serta obat anti inflamasi contoh yang paling familiar adalah celecoxib.
“Kenapa dianjurkan makan sebelum minum obat secara umum sebetulnya mengurangi risiko efek samping yang tidak diinginkan. Juga untuk membantu mengoptimalkan kinerja obat dalam tubuh,” pungkasnya. (ran/fun)
Editor : Abdul Wahid