Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mulai Membatasi Diri dari Nasi Putih jadi Resolusi dalam Menggapai Pola Hidup yang Lebih Sehat

Iwan Andrik • Sabtu, 17 Mei 2025 | 19:25 WIB
TANPA NASI: Makan sore bersama istri di salah satu rumah makan. Ia tak lagi makan nasi, sebagai menu utamanya.
TANPA NASI: Makan sore bersama istri di salah satu rumah makan. Ia tak lagi makan nasi, sebagai menu utamanya.

KONSUMSI nasi putih, garam, gula, tepung-tepungan hingga makanan bersantan secara berlebih, berisiko besar terhadap serangan Penyakit Tidak Menular.

Mulai dari hipertensi, diabetes hingga serangan jantung dan beragam penyakit yang lain, rentan dialami. Pembatasan diri untuk mengkonsumsi “Si Putih” perlu dilakukan, agar kesehatan terjaga dengan baik. 

Kaos berbahan katun yang dikenakan Rachmat Syarifuddin, 53, tampak basah di bagian ketiaknya. Ini menandakan jika ia baru saja selesai berolah raga.

Sembari bersandar di dinding, ia duduk santai di ruang tamu rumahnya. Menghilangkan sisa keringat dan rasa lelah usai aktivitas yang dilakukannya.

“Hampir setiap pagi, saya memang olah raga. Tidak berat-berat. Jalan kaki saja dengan istri atau kadang sendiri,” ungkap lelaki yang tinggal di Perum Serkar Indah, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Sabtu (10/5) lalu tersebut.

Jalan sehat hampir menjadi rutinitasnya setiap pagi. Hal itu dilakukannya demi menjaga kesehatan tubuhnya. Jalan pagi dipilih, lantaran merupakan olah raga yang mudah untuk seusianya. Tidak terlalu berat tapi kaya akan manfaat.

Aktivitas jalan sehat itu hanya satu diantara sederet upayanya dalam menjaga kesehatan. Karena selain jalan sehat, dia sebenarnya juga melakukan pembatasan diri terhadap konsumsi makanan-makanan tertentu.

Khususnya nasi putih, garam, gula dan makanan putih-putihan lainnya. “Bahkan untuk nasi putih, saya sudah tidak mau makan sama sekali,” akunya.

Bukan tanpa alasan, pengendalian diri dari godaan “Si Putih” ia lakukan. Semuanya berawal dari masalah jantung yang dialaminya. Ia didiagnosa mengalami gangguan irama jantung, tiga tahun silam.

Ini diketahui setelah dirinya sempat opname di RSUD Bangil. “Saya sering merasakan detak jantung yang tak beraturan. Berdebar-debar hebat. Tidak nyaman. Dari hasil observasi dokter, saya didiagnosa gangguan irama jantung,” akunya.

Kondisi itu tak lepas dari kesibukannya dalam menjalankan tugas. Apalagi, lelaki yang bekerja sebagai Kepala Inspektorat Kabupaten Pasuruan tersebut, memiliki pola makan yang tak beraturan. Makanan yang disantapnya juga sembarangan.

Hampir tidak ada pantangan. Gorengan, nasi putih hingga makanan berlemak seperti sate dan makanan bersantan, ia lahap. Seolah tubuhnya, tahan dengan semuanya.

“Terlebih dulu itu, saya juga perokok berat. Sehari, bisa habis dua bungkus rokok. Sebungkus filter dan sebungkus kretek. Saya juga jarang berolah raga dan sering begadang hingga larut malam,” sampainya.

JALAN SEHAT: Rachmat Syarifuddin, 53, disela-sela kegiatan jalan sehat bersama istri dan anaknya.
JALAN SEHAT: Rachmat Syarifuddin, 53, disela-sela kegiatan jalan sehat bersama istri dan anaknya.

Hingga diagnosa dokter itu, mengubah gaya hidupnya. Memang, tidak langsung sepenuhnya. Namun, bertahap.  Ia takut, kesehatannya semakin memburuk, jika pola hidupnya tak ia ubah. Karena, dokter sudah memberikan pilihan untuknya. Pemasangan ring pada jantung, jika ia ingin sembuh sepenuhnya.

“Ada gejala jantung koroner. Dokter memberikan pilihan agar dilakukan pemasangan ring, jika saya ingin sembuh total. Saya menolak keras. Karena khawatir efeknya. Karena itu, saya minta kepada dokter agar pemasangan ring jadi alternatif terakhir, jika benar-benar tidak ada cara lain,” kisahnya.

Semenjak itu Rahmat mencoba untuk mengubah pola hidupnya. Khususnya, untuk makanan yang dikonsumsi sehari-harinya. Keinginan kuat bisa berkumpul dengan keluarga adalah motivasinya.

Memang tidak secara langsung pembatasan itu dilakukan. Beberapa kebiasaan yang dianggap buruk, ia batasi perlahan. Hingga akhirnya, sebagian ada yang benar-benar ia hilangkan. 

Seperti dengan kebiasaan memakan nasi putih. Mulanya, ia memberlakukan diet untuk makan nasi.

Namun, sejak awal 2025, ia tak lagi makan nasi putih sama sekali. Begitu juga dengan makanan bersantan maupun makanan asin. Semuanya ia kurangi.

“Motivasi saya adalah keluarga. Makanya, saya berjuang keras untuk menghindari makanan yang beresiko membahayakan kesehatan. Kalau untuk gula, kebetulan saya memang tidak suka. Saya biasanya mengkonsumsi creamer untuk pemanis. Tapi kini, konsumsi creamer juga saya batasi, hingga dalam sehari, terkadang juga tidak mengkonsumsinya,” ungkap lelaki kelahiran Pasuruan, 3 Januari 1972 itu.

Ia membagikan menu harian yang biasa dikonsumsinya. Setelah bangun pagi, ia mengkonsumsi madu racikan sang istri. Madu  yang mengandung campuran bawang putih, jeruk lemon, cuka apel serta jahe. Hal itu dipercaya, bisa berkhasiat untuk melonggarkan pembuluh darah dan menekan kolesterol.

Rahmat mulai “makan besar” ketika memasuki jam 09.00. Beberapa saat setelah dirinya, melakukan jalan sehat. Dan tidak ada nasi. Yang ada hanya sayur-sayuran ditambah dengan dua hingga tiga butir telur ayam kampung.

Pemilik berat badan 117 kilogram ini melanjutkan, makan terakhirnya saat sore hari. Menunya tak jauh berbeda. Sayuran atau sop, menjadi menu utama yang ditambah dengan telur ayam.

Atau diganti dengan ikan sebagai lauknya. Bila bosan, bisa diganti dengan daging sapi atau ayam, agar memperoleh protein sebagai sumber energi. Yang pasti, tidak ada nasi putih untuk dikonsumsi.

“Nasi putih sudah menjadi pantangan bagi saya. Bahkan, saya takut kalau melihat nasi. Pernah mencoba makan, tapi perut saya malah terasa kram,” sampainya.

Awalnya, hal itu memang membuatnya lemas. Namun, lambat laun, sudah menjadi kebiasaan. Untuk mengimbangi kebutuhan nutrisi, biasanya di sela-sela makan berat saat pagi dan sore hari, ia mengkonsumsi camilan.

Mulai dari kukis berbahan oatmel buatan istri, hingga buah-buahan. “Karbo tambahan biasanya memang saya dapatkan dari kukis berbahan oatmel tersebut. Atau roti yang terbuat dari tepung gandum, sebagai camilan,” tuturnya.

Pembatasan diri dari konsumsi “Si Putih”, juga dilakukan Suharwati, 52, warga Bangil, Kabupaten Pasuruan. Memang tidak seekstrem yang dilakukan Rachmat. Karena hanya konsumsi garam dan makanan bersantan yang dikurangi dalam menu makanan sehari-hari.

Ini sudah berlangsung tiga tahun terakhir. Penyebabnya, hipertensi dan kolesterol yang dialami. “Saya membatasi makanan asin agar tekanan darah terjaga. Begitu juga makanan bersantan, biar tidak sampai koleterol kambuh,” timpal dia.

Ia memang tak merinci, seberapa banyak garam yang dikonsumi dalam sehari. Tapi jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya. Bahkan dia tidak lagi makan ikan asin, yang merupakan makanan kesukaannya.

 Lain halnya dengan yang dilakukan Lujeng Sudarto, 52, warga Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Ia membatasi konsumsi “Si Putih” demi investasi kesehatannya di masa depan. “Saya masih ingin hidup lebih panjang, agar bisa menggendong cucu,” tandasnya.

Sejak beberapa bulan terakhir, makanan putih-putihan ia batasi bahkan ia hentikan. Untuk nasi putih misalnya. Ia menggantinya dengan nasi jagung atau ubi ungu. Begitu juga dengan garam, sangat ia batasi. Sementara untuk makanan bersantan dan gula putih, ia hindari.

 Hal itu untuk mencegah ancaman penyakit yang bisa diderita. Darah tinggi, diabetes, kolesterol hingga aneka ragam penyakit lain, yang membahayakan. “Saya mencoba untuk menerapkan pola hidup sehat. Saya juga sudah berhenti total dari aktivitas merokok, sejak enam bulan terakhir,” papar dia.

 

Sejak Meninggalkan Si Putih, Tubuh Terasa Lebih Sehat dan Segar

Istilah belum sarapan jika belum makan nasi, memang menyelimuti banyak orang. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rachmat Syarifuddin. Karena lelaki 53 tahun ini membuktikan, perutnya bisa kenyang, meski sarapan tanpa nasi putih.

Justru, dengan mengurangi nasi atau “Si Putih”, banyak manfaat yang ia rasakan sekarang.

Gangguan irama jantung atau biasa disebut Aritmia, bisa ditekan. Kolesterol yang pernah menghinggapi, sekarang sepertinya tak ia rasakan.

“Dahulu, saya sering merasakan ngilu pada kaki. Tapi sekarang, tidak lagi,” akunya.

Ia merasa, hidupnya lebih sehat. Detak jantung yang semula berdenyut tak beraturan, kini cenderung normal. Dikisaran 90 bpm hingga 100 bpm. Begitu juga dengan tekanan darahnya. Cenderung normal, dikisaran 120/80 mmHG. Padahal sebelumnya, bisa di atasnya.

Semua itu, tak lepas dari pembatasan diri, dalam mengkonsumsi “Si Putih”, seperti nasi, garam hingga gula. Serta, kegiatan olah raga yang kerap dilakoninya. Apalagi, ia tak lagi merokok sama sekali.

“Saya sudah tidak mengkonsumsi rokok, sama sekali. Karena memang, ingin  hidup sehat. Kesehatan itu, benar-benar terasa berharga, ketika anda merasakan sakit yang bisa merenggut nyawa,” sampainya.

Sama halnya dengan Rachmat, dirasakan Lujeng Sudarto. Lelaki yang tinggal di wilayah Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini, merasakan efek dari perubahan pola hidup yang dilakoni saat ini.

Dengan berhenti merokok, membatasi dari dari konsumsi nasi putih, serta menghindari gula dan makanan bersantan, membuat hidupnya terasa lebih sehat.

Ditambah lagi, dengan aktivitas olah raga jalan sehat, ketika pagi. Menambah, rasa segar yang dirasakannya.

Keluhan rasa sakit seperti asam urat, nyaris tak dirasakannya lagi. “Kalau dahulu, saya memang senang mager (malas gerak, red). Tapi sekarang, saya sempatkan waktu, untuk berolah raga. Merasakan mentari pagi, agar hidup lebih sehat,” jelasnya.

Baginya, kesehatan merupakan investasi di masa depan. Apalagi, ia masih ingin bisa beraktivitas saat usia lanjut. Tidak sekedar menghabiskan hari tua, dengan berbaring di rumah sakit. “Dalam tubuh yang sehat, ada raga yang kuat. Dan dalam raga yang kuat, ada semangat yang hebat,” tandasnya.

 

Nasi Boleh Dibatasi Tapi Jangan Terlalu Ekstrem

Banyak penyakit yang bisa ditimbulkan, imbas mengkonsumsi “Si Putih” secara berlebih. Mulai hipertensi, diabetes, gangguan ginjal hingga ancaman penyakit berbahaya lainnya.

Untuk kasus hipertensi misalnya. Ada lebih dari 88 ribu orang yang terjangkit darah tinggi. Jumlah itu merupakan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan, pada tahun 2017 silam.

Belum lagi, untuk kasus diabetes, yang kasusnya mencapai 5.586 penderita pada 2021 lalu. Atau penyakit berbahaya lainnya, yang bisa saja terus bermunculan, menyerang warga.

Kepala Instalasi Gizi RSUD Bangil, Maya Indriany, A.Md.Gz menguraikan, pembatasan dalam mengkonsumsi nasi putih, garam, gula dan Si Putih lainnya, merupakan langkah awal dalam memutus rantai penyakit degeneratif dan obesitas.

Nasi putih dan Si Putih lain seperti tepung, yang mengandung karbohidrat, bisa diubah menjadi gula dalam tubuh. Konsumsi nasi putih berlebihan, bisa menyebabkan kenaikan berat badan dan masalah kesehatan.

Sedangkan konsumsi gula yang berlebihan, dapat menyebabkan diabetes, obesitas dan penyakit yang lain. Begitu juga dengan mengkonsumsi garam yang berlebih. Dapat menyebabkan hipertensi, dehidrasi dan gangguan ginjal.

Maya memaparkan, membatasi nasi putih bermanfaat terutama bagi mereka yang ingin menjaga berat badan, mengontrol gula darah, atau mengurangi alergi dan diabetes. Nasi putih memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat. Terutama jika dikonsumsi dalam porsi besar.

Sementara dengan membatasi konsumsi garam, bisa menurunkan berat badan. Dengan membatasi konsumsi garam, terbukti menjadi cara diet yang paling ampuh karena dapat menyingkirkan lemak lebih cepat.

Serta membantu menghilangkan retensi (kelebihan atau penumpukan) garam atau air dalam jaringan tubuh. Sehingga bobot tubuh dapat berkurang secara alami.

Selain itu, membatasi garam dapat menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Juga dapat menurunkan risiko kanker serta memelihara tulang.

Sedangkan manfaat pembatasan konsumsi gula, bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2. Di mana tubuh tidak dapat memproduksi hormon insulin, untuk memproses glukosa (gula darah). Gejalanya, sering buang air kecil, sering merasa haus, sering merasa lapar dan cepat merasa lelah.

Manfaat lainnya, dapat menghambat perbaikan kolagen pada kulit. Di mana manfaat kolagen, adalah menjaga kekencangan kulit.

“Dan manfaat penting lainnya, bisa menghilangkan lemak di perut. Karena, salah satu faktor yang menyebabkan penumpukan lemak di perut, adalah asupan gula yang tinggi. Lemak perut tidak hanya membuat tubuh lebih berisi, tetapi juga berpotensi obesitas, stroke, kanker, serangan jantung hingga demensia,” papar dia.

Meski begitu, diet superketat terhadap Si Putih, bukannya tanpa risiko bagi kesehatan. Mengingat, tubuh juga butuh nutrisi yang seimbang. Sehingga, gula, lemak ataupun garam sebenarnya juga dibutuhkan tubuh.

“Boleh saja tidak mengkonsumsi nasi putih, karena banyak sumber karbohidrat lain yang juga tinggi serat, sepeti kentang, ubi dan singkong. Begitu juga dengan pembatasan konsumsi gula, garam dan lemak, juga baik untuk kesehatan. Tapi ingat, tubuh juga butuh energi dari gula, garam (natrium), dan lemak sebagai pengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Intinya pada penyesuaian asupannya,” jelas dia.

Pembatasan secara ekstrem terhadap nasi putih, garam, gula dan Si Putih lainnya, bisa memicu gangguan kesehatan dalam tubuh. Mulai dari kekurangan nutrisi, gangguan metabolisme, kelemahan fisik, masalah pencernaan serta masalah kesehatan lain. Seperti gangguan hormon, gangguan suasana hati bahkan masalah kesehatan mental.

Idealnya, tubuh, membutuhkan asupan karbohidrat yang bisa diperoleh dari nasi putih, sebanyak 300 gram hingga 500 gram per hari. Jumlah itu, bisa jadi lebih sedikit bagi mereka yang anak-anak atau usia lanjut.

Sementara untuk konsumsi garam, dibutuhkan setidaknya 5 gram sehari. Sedangkan gula, setidaknya 50 gram per harinya. 

“Membatasi nasi putih, garam, gula dan Si Putih lainnya secara wajar, sangat baik untuk kesehatan. Tetapi membatasinya secara ekstrem dengan tidak mengkonsumsi sama sekali, dapat menimbulkan masalah kesehatan,” bebernya. (one/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Jantungan #beras #hidup sehat #nasi #karbohidrat #gangguan jantung