BELAKANGAN masyarakat Indonesia dibuat paranoid dengan merebahnya virus Human Metapneumovirus (HMPV). Dengan pengalaman pandemi Covid-19, masyarakat diminta tidak risau. Tapi cukup terapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Di dunia kesehatan, virus HMPV bukanlah hal baru. HMPV pertama kali ditemukan di Belanda pada tahun 2021 silam.
Namun, publik dibuat geger saat adanya lonjakan kasus terjangkitnya HMPV di sekitar tahun 2023 lalu di Cina utara.
Ketakutan masyarakat bukan tidak berdasar. Pasalnya virus ini memiliki banyak kesamaan dengan dengan Covid-19.
Lantas, apakah virus ini berbahaya? dr. Anung Sri Handayani Sp.P FAPSR dokter Spesialis Paru RSUD dr. Moh Saleh menjelaskan virus HMPV dengan Covid-19 berasal dari genus yang sama. “Virus ini satu genus dengan Covid namun berbeda kelas,” jelasnya.
Sama halnya dengan flu biasa, menurut dr Anung, gejala yang muncul diantaranya adalah demam, linu, batuk dan pilek. Seperti influenza biasa.
Saat ditanya apakah virus ini berbahaya atau tidak itu? Dr Anung menyebutkan, semuanya bergantung pada imunitas tubuh pasien yang terjangkit.
Umumnya, orang yang rentan terkena virus ini adalah yang memiliki komorbid yaitu pasien dengan penyakit bawaan seperti paru-paru, jantung, diabetes. Selain itu lansia dan balita juga menjadi salah satu yang rentan terjangkit virus ini.
Kata dr Anung, sebetulnya hanya 1 persen kemungkinan kasus ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami sakit berat.
Meski begitu virus ini namun dapat menjadi faktor yang memperparah penyakit bawaan yang diderita oleh pasien dengan komorbid.
“Kalau imunitasnya baik kemungkinan tidak sampai menyebabkan sakit parah. Cuma memang memperparah penyakit yang dibawa atau beraksi lebih parah terhadap lansia dan balita yang imunitasnya rendah,” jelasnya.
Sama dengan Covid-19, HPMV ini juga dapat menular melalui droplet. Masa inkubasi virus ini sekitar 3-6 hari untuk akhirnya pasien dapat merasakan gejala awal.
Namun dipastikan virus itu tidak berasal dari hewan (zoonosis) seperti halnya dengan COVID 19. Pasien yang terjangkit virus ini pun tidak perlu melakukan isolasi.
“Social distancing perlu, namun tidak sampai harus isolasi seperti Covid 19,” lanjutnya.
Jangan Panik Berlebihan
DI Indonesia, sementara ini kasus HPMV baru ada 1 kasus. Lokasinya ada di Jakarta. Dengan pengalaman pandemi Covid-19, masyarakat diminta untuk tidak panik berlebihan. Tapi tetap harus waspada.
Meski tidak boleh panik berlebihan, namun dr Anung menyarankan agar masyarakat dapat lebih aware terhadap kasus ini.
Sebab untuk saat ini, belum ditemukan obat pasti dan treatment apakah yang cocok untuk pasien dengan HPMV ini.
“Saat ini belum ada obat pasti atau treatment seperti apa yang bisa dilakukan dokter, sama seperti Covid kan dulu tidak langsung ada vaksin,” jelasnya.
Untuk diagnosisnya pun saat ini hanya menggunakan pemeriksaan Multiplex PCR. Meski begitu, tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut.
“Untuk diagnosanya juga kami belum ada alatnya yang lebih komprehensif seperti misal kalau di Covid-19, ada tes swab. Tapi memang bisa pakai Multiplex PCR,” pungkasnya. (mg/fun)
Hal yang Perlu Dilakukan untuk Antisipasi:
- Usahakan memakai masker
- Memiliki perilaku hidup sehat
- Meningkatkan imunitas tubuh dengan berolahraga dan makan makan bergizi seimbang
- Menjaga etika bersin
- Selalu menjaga kebersihan tangan dan tubuh
Editor : Abdul Wahid