CUACA panas menyebabkan tubuh akan memproduksi keringat secara berlebihan. Namun, jika keringat tidak keluar secara maksimal, akan menimbulkan ruam kecil berwarna merah. Rasanya gatal atau sering disebut biang keringat.
Biang keringat atau dalam bahasa medis disebut miliaria muncul dalam kondisi tertentu. Seperti saat cuaca sedang panas atau lembap, kondisi ini akan memicu produksi keringat secara berlebihan.
Jika aliran udara pada kulit terhambat, keringat akan terperangkap. Lalu menyumbat pori-pori. Kemudian mengakibatkan timbulnya ruam dengan bentol kecil.
Dokter Umum di Rumah Sakit Graha Sehat Kraksaan dr. Popy Mega Wati mengatakan, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko munculnya biang keringat. Mulai dari cuaca panas atau lembap. Kemudian, kepanasan karena mengenakan pakaian terlalu tebal. Selanjutnya, aktivitas atau olahraga dengan intensitas tinggi, sehingga membuat tubuh memproduksi keringat secara berlebihan.
“Biang jeringat disebabkan tersumbatnya saluran kelenjar keringat. Akibat produksi keringat tubuh berlebihan. Bisa karena udara panas, aktivitas, atau tubuh lebih lembap,” katanya.
Biang keringat dapat muncul di seluruh bagian tubuh. Khususnya, pada bagian lipatan tubuh. Tetapi, juga sering terkena di area yang mudah berkeringat. Seperti wajah, leher, dan dada. Biang keringat umumnya ditandai dengan bintil kecil berwarna merah, terasa gatal, perih, atau panas.
MENGATASI BIANG KERINGAT
- Efek gatal, perih, atau panas dapat diredakan dengan lotion. Bisa juga dengan menjaga kulit tetap dingin dengan berendam dan mandi.
- Dapat dicegah dengan mengenakan pakaian longgar yang tidak menghambat pengeluaran keringat. Serta, pakaian dengan bahan kain yang mudah menyerap keringat.
- Bagi bayi dan anak-anak, penanganan biang keringat dapat dilakukan dengan cara memakaikan baju yang berbahan katun dan mudah menyerap keringat.
- Membuat kamar bersuhu sejuk dan terjaga sirkulasi udaranya, sehingga tidak memicu produksi keringat berlebihan. Segera mengganti baju yang sudah lembap atau basah karena keringat.
Penyakit ini bisa dialami siapa saja dengan rentang usia balita hingga dewasa. Namun, lebih sering dialami balita karena pengaturan suhu tubuh dan fungsi kelenjar keringat belum sepenuhnya berkembang. Sehingga, membuat kulit belum mampu mengeluarkan keringat dengan baik lalu menimbulkan biang keringat. “Yang paling sering dirasakan oleh bayi dan anak-anak,” tuturnya.
Dokter yang bertugas di unit gawat darurat (UGD) ini menjelaskan, biang keringat umumnya dapat sembuh sendiri dan tidak berbahaya. Sehingga, tidak membutuhkan pertolongan medis khusus. Bahkan, penanganan dapat dilakukan dengan sederhana di rumah.
Bisa dengan mengompres biang keringat kemudian segera dikeringkan. Selanjutnya, membersihkan bagian yang mengalami biang keringat dengan air mengalir dan sabun, kemudian segera keringkan dengan handuk.
Efek gatal, perih, atau panas dapat diredakan dengan lotion. Dapat juga dengan menjaga kulit tetap dingin dengan berendam dan mandi. Biang keringat juga dapat dicegah dengan mengenakan pakaian longgar yang tidak menghambat pengeluaran keringat. Serta, pakaian dengan bahan kain yang mudah menyerap keringat.
Untuk bayi dan anak-anak, penanganan biang keringat dapat dilakukan dengan cara memakaikan baju yang berbahan katun dan mudah menyerap keringat. Membuat kamar bersuhu sejuk dan terjaga sirkulasi udaranya, sehingga tidak memicu produksi keringat berlebihan. Selanjutnya, segera mengganti baju yang sudah lembap atau basah karena keringat.
“Cara terbaik untuk mencegah biang keringat adalah dengan menghindari faktor risiko yang dapat memicu terjadinya penyumbatan kelenjar keringat. Efek yang ditimbulkan bisa diredakan dengan lotion khusus biang keringat yang mengandung calamine. Jika ada gejala penyertaan lain, kami sarankan berkonsultasi dengan dokter,” sarannya. (ar/rud)
Editor : Ronald Fernando