Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ini Lho Bahaya Penggunaan Earphone dan Headset Jika Terlalu Berlebihan

Achmad Arianto • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 20:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MENDENGARKAN musik menggunakan earphone dan headset sering dilakukan saat santai. Tapi jangan sepelekan, apalagi jika dalam waktu yang cukup lama.

Jika suara yang dikeluarkan dari alat tersebut melebihi batas normal, dapat menurunkan pendengaran hingga menyebabkan ketulian.

Mendengarkan musik saat santai mungkin menjadi salah satu hobi yang dilakukan oleh banyak orang.

Mendengarkan musik dapat dilakukan secara langsung dengan alat pengeras suara seperti speaker dan soundsistem serta alat bantu dengar earphone dan headset.

Dibalik nyamannya alunan musik yang dihasilkan. Penggunaan alat tersebut rupanya memiliki dampak negatif, khususnya saat menggunakannya dengan volume tinggi dengan waktu yang lama. Dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga ketulian.

Dokter Spesialis THT di RS Graha Sehat dr. Riza Hidayat, Sp.THT-KL mengatakan gangguan telinga yang sering dirasakan oleh masyarakat diantaranya penurunan pendengaran. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal mulai dari gangguan dari luar.

Seperti adanya kotoran di telinga atau infeksi. Gangguan ini berasal dari telinga bagian luar.

Kemudian gangguan telinga bagian tengah dan dalam. Terjadi karena infeksi dan sering mendengarkan bunyi melebihi batas aman kemampuan dengar telinga.

“Berdasarkan identifikasi, gangguan telinga dibagi menjadi dua. Untuk gangguan telinga bagian luar masih bisa disembuhkan. Sementara bagian tengah dan dalam perlu proses yang agak lama sebab berkaitan dengan saraf dengar,” katanya.

Gangguan saraf dengar yang menyebabkan penurunan pendengaran dapat terjadi karena paparan bising yang berlebihan. Salah satunya penggunaan earphone dan headset. Alat bantu dengar ini sering digunakan dan mudah untuk dibawa kemana-mana.

Penggunaan dua alat tersebut nyaris tidak bisa dihindari. Bahkan saat menggunakan HP pasti disertai dengan dua alat tersebut. Alat tersebut banyak digunakan untuk telepon, mendengarkan musik, menonton video, dan bermain game.

Bahkan rapat secara online menggunakan alat tersebut. Penggunaan alat tersebut memang tidak serta merta langsung berdampak pada pendengaran.

Tetapi dalam jangka panjang jika penggunaannya tidak dibatasi akan mempengaruhi pendengaran. Kemampuan dengar telinga memiliki  batasan paparan bising.

Paparan bising tersebut dapat terjadi terus menerus dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan gangguan pendengaran yang merusak sel-sel saraf.

Sehingga perlu dijaga agar pendengaran tetap baik. Paparan bising telinga yang diperbolehkan sekitar 50 – 80 desibel. Paparan bising batas tersebut masih aman untuk didengarkan selama 24 jam.

Sementara diatas batas normal tersebut mulai ada durasi batasan atau pengurangan waktu paparan bising. Paparan bising 81 – 85 desibel hanya bisa dilakukan maksimal 8 jam.

Sementara paparan bising 86 desibel ke atas maka durasinya harus dikurangi setengahnya.

Kalau lebih dari batasan waktu tersebut akan mengakibatkan kerusakan sel saraf. Artinya semakin nyaring paparan bising maka batasan waktunya semakin pendek.

Batasan paparan bising dan batas waktu dengar suara juga berlaku di tempat publik. Terlebih lagi ketika di tempat publik terdapat sound system yang memutar musik dengan suara nyaring.

Jika dipaksakan maka juga akan mengganggu pendengaran. Jika dipaksakan akan menyebabkan gangguan pendengaran bahkan ketulian.

“Penggunaan earphone dan headset bahkan bisa sampai 100 desibel, maka waktu penggunaannya harus pendek. Jika ingin aman maka maksimal 80 desibel. Biasanya saat menaikkan volume sudah ada peringatan. Maka kami sarankan tidak terlalu nyaring,” ucapnya. 

 

Jaga Batasan Paparan Bising

Gangguan pendengaran pada umumnya terjadi karena pola hidup yang tidak dijaga. Menurunnya kemampuan pendengaran dapat terjadi karena tidak memperhatikan batasan paparan bising telinga. Karena itulah perlu ada antisipasi gangguan pendengaran dengan menjaga gaya dan pola hidup sehari-hari.

Dokter Riza mengatakan, dampak menggunakan suara bising dalam jangka waktu lama selain menyebabkan gangguan pendengaran karena kerusakan saraf.

Bahkan tanpa disadari juga kemampuan dengar harus dengan frekuensi tinggi karena saraf tidak lagi sensitif terhadap bunyi.

Dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan gangguan frekuensi bicara. Sebagaimana normalnya antara 500 – 2.000 hertz. Jika frekuensi bicara lebih dari itu dapat dipastikan dampak bising dalam jangka waktu lama.

“Dampak lain dari suara bising selain menurunnya kemampuan pendengaran. Penggunaan earphone dan headset juga akan membuat telinga infeksi. Disamping itu juga nada bicara bisa lebih tinggi baik penderita maupun orang diajak bicara,” tuturnya.

Dokter yang juga praktik di RSUD Waluyo Jati dan RS Rizani menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan atau menurunnya pendengaran.

Mulai dari membiasakan telinga untuk mendengar sesuai dengan batasan pendengaran paparan bising telinga yang diperbolehkan sekitar 50 – 80 desibel.

Paparan bising batas tersebut masih aman untuk didengarkan selama 24 jam. Sementara diatas batas normal tersebut mulai ada durasi batasan atau pengurangan waktu paparan bising.

Jika paparan bising tidak dapat dihindari, seperti bekerja di pabrik dengan suara mesin begitu tinggi dan nyaring, maka bisa dicegah dengan menggunakan alat pelindung dari paparan bising yakni ear plug atau ear muff.

Untuk memastikan kemampuan pendengaran tetap baik harus ada pemeriksaan secara berkala. Dengan demikian organ pendengaran dan kemampuan dengar tetap terjaga.

Apakah ada makanan yang dapat mencegah gangguan pendengaran? Dokter Riza menjelaskan bahwa tidak ada makanan yang khusus untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Pasalnya menurunnya gangguan pendengaran memang karena pola dan gaya hidup yang kurang memperhatikan batasan paparan bising.

“Sehingga perlu lebih diperhatikan paparan bising yang diterima oleh telinga. Kalau pekerja bisa menggunakan alat pelindung telinga. Sementara pengobatan hanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis. Namun perlu dilakukan observasi dan identifikasi gangguan pendengaran. Pengobatan akan menjadi sulit saat gangguan pendengaran sudah menyerang saraf,” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#tht #headset #telinga #earphone