Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Menumpuk Barang jadi Gangguan Kesehatan Mental, Begini Cara Mengatasi Hoarding Disorder

Achmad Arianto • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 17:05 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

Menumpuk barang kerap dilakukan oleh banyak orang. Rupanya perilaku ini mengarah pada gangguan kesehatan mental. Sebab barang yang ditimbun menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

GANGGUAN penimbunan atau hoarding disorder merupakan kondisi kesehatan mental dimana seseorang mengalami kesulitan luar biasa untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang. Meskipun barang-barang tersebut sudah tidak memiliki nilai guna.

Penderita sering kali merasa bahwa setiap benda yang mereka miliki berpotensi memiliki nilai penting di masa depan. Walaupun tidak jelas kapan atau bagaimana benda tersebut akan digunakan.

Dokter spesialis kedokteran jiwa di RSUD Waluyo Jati dr. Nur Wahyudianto, Sp.KJ mengatakan, gangguan penimbunan mengakibatkan rumah penuh dengan berbagai macam barang.

Mulai dari koran bekas, pakaian usang, hingga benda-benda kecil yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain.

Berbeda dengan kolektor yang biasanya menyimpan barang-barang tertentu dengan rapi dan terorganisir.

Pada penderita hoarding disorder, barang-barang yang mereka simpan sering kali tidak memiliki kategori atau tujuan yang jelas, sehingga rumah mereka menjadi tidak teratur dan penuh sesak.

“Penyebab pasti dari Hoarding Disorder masih belum sepenuhnya dipahami, namun para ahli menyatakan bahwa gangguan ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor genetik, neurologis, dan lingkungan,” katanya.

Secara genetik, gangguan ini cenderung diturunkan dalam keluarga yang menunjukkan adanya komponen bawaan.

Penelitian menunjukkan bahwa penderita hoarding disorder memiliki aktivitas otak yang berbeda dalam hal pengambilan keputusan dan pengelolaan emosi.

Faktor kepribadian juga berperan, di mana penderita sering memiliki sifat perfeksionis, kesulitan dalam mengambil keputusan, serta kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, trauma masa lalu seperti kehilangan orang yang dicintai atau kekurangan di masa kecil dapat memicu perilaku menimbun sebagai mekanisme pertahanan diri.

Faktor eksternal lainnya termasuk pola asuh yang tidak sehat dan tekanan sosial yang mendorong penyimpanan barang sebagai bentuk persiapan atau penghematan.

Yudi sapaan akrab dr. Nur Wahyudianto menerangkan, dampak dari hoarding disorder sangat luas.

Tidak hanya mempengaruhi penderita. Tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Secara fisik, rumah yang penuh sesak dengan barang-barang meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan seperti jatuh atau kebakaran.

Kondisi demikian juga dapat menciptakan masalah sanitasi yang serius, mengingat sulitnya membersihkan rumah yang penuh dengan barang.

Secara emosional, penderita sering kali merasa malu dengan kondisi rumah mereka, yang membuat mereka menarik diri dari interaksi sosial.

Hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial, memperburuk gejala kecemasan dan depresi yang mungkin sudah ada.

Ketegangan dalam hubungan keluarga juga sering terjadi, terutama jika anggota keluarga lain merasa terganggu oleh perilaku menimbun yang tidak terkendali.

“Dalam beberapa kasus, masalah keuangan dan hukum bisa muncul jika perilaku menimbun melanggar peraturan kesehatan dan keselamatan lingkungan setempat,” tandasnya. (ar/fun)

Butuh Penanganan Khusus Bagi Penderita

MENGATASI hoarding disorder tidaklah mudah, karena gangguan ini memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Terapi Kognitif Perilaku (CBT) adalah salah satu metode yang paling umum digunakan oleh psikiater untuk membantu penderita mengatasi gangguan ini.

Terapi ini berfokus pada perubahan pola pikir dan perilaku, membantu penderita untuk belajar bagaimana membuat keputusan yang lebih baik mengenai barang-barang yang mereka simpan.

“Selain CBT, terapi paparan juga digunakan di mana penderita secara bertahap dihadapkan pada situasi yang memicu kecemasan, seperti membuang barang-barang tertentu secara bertahap,” ujar dr. Nur Wahyudianto.

Kemudian obat psikofarmakologi sering diresepkan untuk membantu mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang menyertai gangguan ini. Sementara dukungan keluarga dan kelompok, serta pendekatan multidisipliner yang melibatkan psikiater, pekerja sosial dan ahli penataan ruangan/rumah juga sangat penting dalam proses pemulihan.

Penting untuk diingat bahwa pemulihan dari hoarding disorder adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Setiap penderita membutuhkan dukungan yang konsisten dan berkelanjutan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan mental.

Meskipun kemajuan mungkin tampak lambat, setiap langkah kecil menuju perubahan positif adalah pencapaian yang berarti.

“Dengan pendekatan yang tepat, kualitas hidup penderita dapat ditingkatkan, dan mereka dapat kembali menikmati kehidupan yang lebih teratur dan bermakna” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#hoarding disorder