TANTRUM kebanyakan ditemukan pada anak-anak. Ternyata tantrum itu bisa juga terjadi pada orang dewasa.
Bahkan, tantrum pada orang dewasa bukan hanya masalah emosi biasa. Tetapi bisa menjadi tanda adanya gangguan mental tertentu.
Novita Dwi Aryani, Psikolog di Puspaga Kota Probolinggo mengatakan, sebenarnya istilah tantrum itu umumnya digunakan pada anak-anak. Kalau orang dewasa kita biasa menyebutnya emotional outburst.
Apa itu emotional outbourst? Yaitu ledakan emosi yang mengacu pada ekspresi emosi secara tiba-tiba dan penuh semangat karena adanya perasaan kuat dan intens. Sehingga tidak ada kontrol dan tidak terkendali.
”Boomm..Tiba-tiba meledak. Dan perubahan itu terjadi secara cepat. Itu tantrum pada orang dewasa atau biasa disebut emotional outbourst,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.
Novita menerangkan, gejala tantrum pada orang dewasa seperti apa. Biaanya terjadi ledakan emosi pada orang dewasa biasanya merupakan luapan emosi negatif.
Seperti kemarahan, rasa sakit hati atau bahkan kesedihan. Ini bisa terjadi ketika ada suatu kebutuhan dan harapan yang tidak terpenuhi terlalu lama.
”Ini yang membedakan ledakan emosi pada anak-anak dan orang dewasa. Seringkali terjadi ketika kondisi yang sudah ada sebelumnya bertemu dengan situasi stres tinggi,” terangnya.
Tantrum pada orang dewasa, kata Novita, pada dasarnya tidak dapat dicegah. Sebab, tantrum pada orang dewasa itu berhubungan dengan kondisi psikis pribadi (seseorang). Emosi yang memang harus dikeluarkan.
”Ketika ledakan itu sudah terjadi, yang harus dilakukan segera dilakukan penanganan supaya itu tidak terjadi lagi,” terangnya.
Bagaimana cara menangani tantrum pada orang dewasa? Bisa dengan apa saja? Novita mengungkapkan, ada 4 tips menangani ledakan emosi pada orang dewasa.
Pertama, mengidentifikasi insiden internal dan eksternal yang dapat menekan diri sendiri.
Misal, perhatikan kembali kenapa ledakan emosi itu terjadi. Apa berhubungan dengan kurang tidur, pola makan, dan bahkan masalah dengan orang lain.
Kedua, belajar berbicara asertif. Kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi asertif, menyebabkan kekhawatiran dan kesusahan dalam menyampaikan perasaan pada orang lain.
Hal itu dapat memendam emosi dan pemikiran kita menjadi tertekan. Orang tidak akan tahu perasaan orang lain, jika tidak berbicara.
Ketiga, mempraktikan teknik grounding dan relaksasi. Teknik relaksasi dengan mengatur pernapasan dan membayangkan hal-hal menyenangkan juga bisa digunakan untuk menangani tantrum.
Saat dorongan tantrum muncul, tarik napas yang dalam selama beberapa kali, lalu ucapkan kepada diri sendiri kata-kata yang menenangkan, seperti ‘Semua akan baik-baik saja atau ini akan segera berakhir’.
Cara ini juga dapat dikombinasikan dengan membayangkan hal-hal yang paling membuat senang. Sehingga bisa melegakan hati walaupun sifatnya sejenak.
”Terakhir, keempat, mencari dukungan. Mencari teman untuk bercerita, mengeluarkan uneg-uneg. Ini bisa kepada teman, pasangan atau bahkan tenaga profesional,” terangnya.
Adakah dampak lebih buruk jika tantrum itu tidak ditangani? Psikolog lulusan S2 Psikologi klinis di Univeristas Muhammadiah Malang menerangkan, jika perasaan terbiasa dipendam, diabaikan dan akhirnya meledak. Ini berhubungan dengan kemampuan dalam mengatasi masalah (problem solving).
Bila kondisi ini dibiarkan, jelas akan menimbulkan gangguan emosi yang lebih serius. Seperti, gangguan mood, depresi, atau bahkan gangguan kepribadian. Dan, namanya gangguan, itu kecenderungannya menetap.
“Penyebab tantrum pada orang dewasa itu, ledakan emosi umumnya disebabkan adanya emosi yang ditumpuk-tumpuk dan tidak terselesaikan. Sehingga ketika ada situasi stres yang tinggi ini akan meledak sebagai adanya perasaan frustrasi yang tak tertahankan,” ungkapnya. (mas/fun)
Editor : Jawanto Arifin