DATANG ke gimnasium atau tempat fitness, tentu dambaannya ingin memiliki tubuh indah nan atletis. Selebihnya, ingin berolahraga agar badan sehat.
Berlatih sendiri atau ditemani personal trainer bisa menjadi pilihan. Semuanya punya plus minus. Tetapi, jika ditemani pelatih pribadi, maka akan lebih nyaman.
Matahari baru saja bersinar. Namun, suasana di Suropati Gym yang berlokasi di Pondok Sejati Indah Kota Pasuruan, sudah terlihat ramai. Banyak wanita-wanita yang berdatangan di tempat fitness khusus untuk kaum hawa ini.
Di antara beberapa pengunjung, terlihat Sari Ika Yuniarti melakukan pemanasan. Wanita berjilbab mantan atlet binaraga itu, mengamati sembari menata alat-alat yang ada di dalam.
Dia sedang memiliki jadwal untuk berlatih dengan Ainun Nafisah dan Yusi Kurnia. “Ada empat orang yang mau berlatih pagi ini. Keempatnya punya porsi sendiri-sendiri,” kata perempuan yang sudah beberapa tahun ini menjadi personal trainer.
Selepas pensiun dari atlet binaraga, Sari memang tak meninggalkan dunia cabang olahraga yang berkaitan dengan membentuk tubuh ini.
Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta menjadi pelatih pribadi. Rata-rata wanita yang datang kepadanya, punya tujuan ingin membentuk bodi indah.
“Alasannya, di luar sana banyak wanita yang lebih sexy. He...he...he,” katanya.
Apalagi setelah pandemi. Kata Sari, gym khusus wanita lebih ramai. Saat itulah orang yang ingin menggunakan jasanya, begitu banyak.
Bahkan ada yang dia tolak. Alasannya, sudah terlalu padat. “Sekarang saja saya megang 25 orang. Mereka ada yang berlatih pagi, siang, sore, dan malam,” katanya.
Sari tertarik karena dia punya pengalaman. Meski kebanyakan dia harus menyesuaikan jadwal orang yang dilatihnya.
Karena dia tidak ingin orang yang dilatihnya, tak membuahkan hasil.
“Harus ada golnya. Kalau memang ingin membentuk bodi, ya harus diwujudkan. Ini yang bisa kita motivasi,” bebernya.
Apa yang dikatakan Sari, dibenarkan Ainun Nafisah. Sebelum berlatih dengan Sari, Icha–panggilan akrabnya–punya tubuh yang terbilang over.
Dia sudah sering berlatih di gym. Namun, sebelum berlatih dengan Sari, Icha mengaku tak banyak mengenal teknik.
“Jika berlatih sendirian kan kebanyakan hanya cari keringat. Nah, bila ada personal trainer, mereka paham porsi yang bisa dibebankan ke kami. Alat apa yang harus digunakan untuk melatih tangan dan berapa lama untuk berlatih kaki dan menguruskan pinggul,” beber Icha.
Senada dengan Icha. Yusi juga mengaku, dia mengikuti arahan dari personal trainer karena dirasa efektif. Sehingga, saat pulang latihan, bukan hanya lelah yang dia dapatkan.
“Bahkan, walau terkadang galak dan kami dilatih sampai mau nangis, tapi setelah latihan ada manfaat yang kami dapatkan dan ini tidak bisa didapat jika latihan sendiri,” beber Yusi.
Apa yang disebutkan Icha dan Yusi, dibenarkan Sari. Sebagai personal trainer, dia harus melihat kemampuan orang yang dilatihnya.
Misalnya, Icha yang memiliki tubuh over. Maka latihannya akan berbeda dengan beban yang diberikan kepada Yusi.
Bukan itu saja. Sari juga harus memotivasi jika ada member-nya yang mutung alias kapok untuk latihan. Dia punya cara untuk menyemangati dan bisa mengajak member tersebut latihan rutin lagi.
Sehingga, latihan yang sudah berjalan tak sia-sia. “Membujuk mereka tak hanya lewat WA. Kami punya grup. Terkadang, saya sampai menyusul mereka ke rumah. Dengan begitu, mereka merasa, apa yang sudah dilakukan selama ini harus dilanjut,” beber Sari.
Paling Efektif Latihan Bersama
Sebagai personal trainer, Sari sebenarnya kerap mendapat tawaran untuk melatih di rumah member. Mereka adalah orang-orang kaya yang punya alat mumpuni di rumahnya.
Tetapi, Sari biasanya menolak. Sari lebih senang mengajak mereka latihan di gym saja. Sebab, latihan di gym lebih bisa memotivasi member.
Apalagi, jika bertemu sesama member lainnya. Mereka bisa saling support dan share tentang ilmu yang mereka dapat.
“Setiap member juga bukan hanya sekadar berlatih. Tetapi, pola makan mereka harus dikontrol. Inilah yang diperlukan ketika berkumpul di gym,” beber Sari.
Kapan seorang member dinyatakan lulus? Untuk kesehatan dan kebugaran, Sari tidak pernah menyuruh kapan member dinyatakan berhenti latihan.
Jika member tersebut sudah punya bodi yang indah, Sari tetap menyarankan agar mereka tak berhenti. Karena kesehatan harus tetap dijaga sampai tua nanti.
“Apalagi saat ini banyak produk-produk instan yang sebenarnya justru membahayakan tubuh. Tidak ada bodi indah tanpa olahraga. Kalau badan sehat, aura kecantikan itu pasti akan mengikuti,” kata Sari. (fun)
Editor : Jawanto Arifin