SETELAH memutuskan pensiun dini di puncak karirnya, mantan penjaga gawang Timnas Indonesia, Kurnia Meiga Hermansyah menjadi perhatian publik belakangan ini. Bukan karena prestasi gemilang yang pernah diraih. Melainkan, ironi nasib hidupnya yang harus berhadapan dengan penyakit mata. Pandangannya antara gelap dan terang. Terkadang jelas, terkadang tidak jelas. Mantan pemain Arema FC tersebut juga kerap kehilangan pandangan tiba-tiba. Bahkan, juga disertai muntah-muntah. Gejala yang menyerupai papiledema.
Papiledema adalah kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan mata seseorang dengan cara yang serius. Gangguan Kesehatan mata itu terjadi akibat pembengkakan pada papil saraf optik.
Tempat masuknya saraf penglihatan ke mata bagian belakang itu membengkak ketika tekanan dalam tengkorak kepala meningkat.
”Papiledema adalah tanda penting bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem penglihatan. Dan, ini harus segera diidentifikasi dan diatasi,” ujar dr. Ki Ajeng Winda, Sp.M, M.Ked.Klin, dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Pasuruan.
Berbagai kondisi yang mengakibatkan papiledema seperti edema otak, hidrosefalus, atau peningkatan tekanan intrakranial yang tidak diketahui penyebabnya.
Papiledema memiliki berbagai dampak pada kesehatan mata. Termasuk, gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, penurunan persepsi warna, dan bahkan melihat kilatan cahaya.
”Beberapa pasien juga mungkin mengalami fotofobia, nyeri kepala yang berat, dan bahkan mual dan muntah yang parah,” jelas dr Ajeng.
Berbeda dengan papilitis. Dokter Ajeng mengatakan, papiledema terjadi akibat peningkatan tekanan intrakranial. Sedangkan papilitis adalah peradangan pada papil saraf optik.
Meskipun gejalanya serupa, penyebabnya sangat berbeda. Umumnya, diagnosis papiledema melibatkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
”Ini termasuk pemeriksaan tajam penglihatan, lapang pandang, pengukuran tekanan intraokular, serta pemindaian seperti CT scan atau MRI untuk mencari penyebab peningkatan tekanan intrakranial,” ungkap Ajeng.
Langkah pertama setelah diagnosis adalah mengidentifikasi penyebab utama. Papiledema seringkali menjadi gejala dari masalah yang mendasarinya, seperti tumor otak atau infeksi.
Oleh karena itu, penanganannya harus ditargetkan pada penyebab utama. Dokter Ajeng menjelaskan, penanganan papiledema dapat dibagi menjadi dua. Yakni, pengobatan penyebab utama dan pengelolaan tekanan intrakranial.
”Pengobatan penyebab utama akan fokus pada mengatasi kondisi yang mendasarinya, seperti tumor atau infeksi. Pengelolaan tekanan intrakranial dapat melibatkan penggunaan diuretik atau kortikosteroid,” ungkap dia.
Lantas, bagaimana prognosis pasien dengan papiledema? Menurut dokter Ajeng, hal itu sangat tergantung pada penyebabnya, kecepatan diagnosis, dan perawatan yang diberikan.
Komplikasi yang mungkin timbul meliputi penurunan penglihatan hingga kebutaan. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan papiledema meliputi tumor otak, perdarahan otak, infeksi otak, obesitas, trauma kepala, dan kondisi medis lainnya seperti sindrom Cushing.
Karena itu, Dokter Ajeng menekankan pentingnya pencegahan dan kesadaran terhadap kesehatan mata. ”Papiledema adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera. Makanya seseorang dengan gejala seperti penglihatan kabur, nyeri kepala yang berat, atau gangguan penglihatan, dianjurkan segera berkonsultasi untuk evaluasi dan penanganan yang tepat,” terangnya. (tom/mie)
Editor : Jawanto Arifin