BEKAM dalam bahasa Arab disebut al-hijamah, merupakan praktik pengobatan alternatif yang juga dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka dapat dikatakan bekam merupakan living sunah untuk hidup sehat.
Terapi bekam merupakan istilah yang diberikan untuk terapi menggunakan cangkir penghisap yang divakumkan pada area kulit. Di Indonesia, bekam diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan 61/2016 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris.
Bekam memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Di antaranya, menurunkan tekanan darah, meningkatkan efektivitas zat makanan dan oksigen, memperbaiki sel darah merah, memperbaiki sistem imun tubuh, meningkatkan antioksidan alami, dan mengurangi radikal bebas.
Salah seorang tenaga medis pemilik terapi bekam adalah Ishak, S.Kep.Ns. Ia mendirikan praktik terapi sejak 2004. Menurutnya, bekam merupakan perawatan holistik dan komplementer serta tradisional.
“Sebelum mendirikan tempat terapi bekam, tentunya harus punya lisensi dulu. Untuk mendapat lisensi itu harus melalui beberapa tahapan. Ada ujiannya,” ujarnya.
Setelah lulus, baru mengajukan izin membuka praktik bekam. Tidak bisa hanya berdasarkan belajar dari internet. “Memang harus ikut pelatihan dan dapat lisensi terlebih dahulu,” ujar Kepala Puskesmas Krucil, Kabupaten Probolinggo ini.
Dalam melakukan proses bekam, peralatan bekam juga patut diperhatikan keamanan dan sterilisasinya. Juga harus bisa mengidentifikasi penyakit yang diderita pasien. “Ada beberapa penyakit yang tidak bisa menggunakan bekam basah, sehingga cukup dibekam kering,” jelasnya.
Dari penggunaan alat mulai dari cupping (mangkok bekam) hingga ke alat gores atau tusuknya harus dipastikan steril. Bagi pemula, mungkin bisa pakai blood lanset, sedangkan untuk yang telah mahir biasa menggunakan mess (sejenis pisau bedah).
“Bekas bekam diberi salep oles agar tidak terjadi iritasi. Sedangkan sampah seperti blood lanset, kami buang sebagai sampah medis yang kemudian akan dihancurkan melalui insinerator,” jelas Ishak.
Proses sterilisasi sangat penting untuk menjaga kehigienisan alat bekam. Apalagi bekam ini menyangkut pengeluaran darah yang notabene sangat mudah menularkan penyakit.
“Setelah digunakan, peralatan yang tidak sekali pakai termasuk cupping harus disterilisasi. Merendamnya dalam cairan Bayclin 0,9 persen,” ujarnya.
Proses perendaman minimal 15 menit untuk bekas pasien yang tidak mengidap penyakit virus. Sedangkan, bagi pasien pengidap penyakit virus minimal 24 jam. “Setelah itu, dicuci dan dikeringkan. Lalu dimasukkan ke sterilisator. Tidak cukup dicuci pakai sabun saja, sebab ada beberapa kuman dan bakteri yang tidak bisa mati hanya dengan sabun,” jelasnya.
Proses ini, kata Ishak, untuk membunuh kuman yang terbawa darah pasien sebelumnya. Makanya dimasukkan ke sterilisator. Baru bisa digunakan kembali. Tujuannya, juga untuk menjaga pasien dari penyakit menular juga.
“Seperti amanat terkait PPI atau Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. Yaitu, upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Katanya, pasien juga harus cermat dalam menentukan lokasi terapi bekam. Mulai dari orang yang membekam harus memiliki lisensi hingga penggunaan alatnya apakah sudah steril? “Jangan sampai akibat alat yang tidak steril, malah mengundang penyakit baru. Bukannya sembuh, malah menambah penyakit,” katanya.
Terapi Tradisional yang Menyehatkan
Bekam banyak diminati warga. Bahkan, banyak yang merasa cocok untuk membuat badan makin terasa sehat dan bugar. Salah satu penikmat bekam adalah Eni Kustianawati, 50.
Warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, ini mengaku mengalami gejala stroke. Melalui terapi bekam, penyakitnya mulai terasa mendingan. “Tangan saya yang sebelah kanan sudah lemas. Sulit digerakkan. Akhirnya dibawa terapi bekam,” ujarnya.
Awalnya, kata Eni, terapinya dilakukan dua hingga tiga kali seminggu. Karena tujuannya untuk pengobatan, kini ia mengaku bersyukur sudah bisa bergerak seperti sedia kala. “Karena sudah masuk tahap perawatan dan pencegahan, sekarang sudah bisa sebulan sekali saja. Tapi, tetap sambil jaga pola makan dan tidur,” katanya.
Tak hanya itu, Eni juga pernah terjatuh dan menyebabkan perutnya sakit berkepanjangan. Penyembuhannya dilakukan dengan cara dibekam. Praktiknya dilakukan dari belakang. Dari punggung.
“Setelah ditelateni dibekam. Sudah tidak sakit lagi. Tidur juga lebih pulas. Tekanan darah saya juga lebih stabil dari yang sebelumnya sering tinggi. Rileks ke badan,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando