Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kenali Bahaya Kebiasaan Menahan Kencing

Jawanto Arifin • Sabtu, 13 Mei 2023 | 19:46 WIB
Foto ilustrasi: Zainal Arifin/Radar Bromo
Foto ilustrasi: Zainal Arifin/Radar Bromo
SETIAP makhluk hidup, termasuk manusia, perlu melakukan proses ekskresi. Yaitu, proses pembuangan sisa metabolisme dan zat-zat yang tidak dimanfaatkan lagi oleh tubuh.

Alat ekskresi yang terdapat pada manusia terdiri atas ginjal, kulit, paru-paru, dan hati. Ekskresi yang melalui ginjal berupa urine. Dibuang dengan cara buang air kecil (kencing).

Dokter Dicky Febrianto, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam mengatakan, proses pembentukan urine merupakan cara alami yang dilakukan oleh tubuh untuk mengeluarkan racun sisa metabolisme dan kelebihan kadar air. Dengan proses ini, kesehatan tubuh akan tetap terjaga.

 

Mengenal Produksi Urine

Semakin banyak cairan yang dikonsumsi oleh tubuh, akan semakin banyak urine yang dikeluarkan. Ginjal berfungsi sebagai alat ekskresi untuk mengeluarkan zat sisa metabolisme berupa urea, zat sisa empedu dan garam dalam bentuk zat berlarut dalam air.

Nefron ginjal bekerja menyaring darah. Mengambil kembali ke dalam darah bahan-bahan yang masih bermanfaat. Kemudian membuang sisanya berupa urine.

”Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal yang sehat adalah 0,5-1,0 mililiter per kilogram berat badan per jam. Orang dewasa sehat, memproduksi urine sekitar 1-1,5 liter tiap harinya. Setelah melalui proses panjang di ginjal, urine akan menuju ureter untuk kemudian dialirkan ke vesika urinaria atau kandung kemih untuk ditampung sementara waktu,” kata dr Dicky pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Dokter kelahiran Probolinggo, 15 Februari 1988 ini menerangkan, urine dikeluarkn dari kandung kemih diatur oleh otot-otot sfingter. Dikendalikan oleh saraf-saraf di sekitarnya.

Bila kandung kemih sudah terisi penuh, otot-otot dinding kandung kemih akan meregang. Peregangan otot dinding kandung kemih ini menimbulkan refleks berkemih.



Refleks berkemih pada manusia diatur oleh sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi yang bersifat otonom. Meskipun diatur oleh sistem saraf otonom, namun refleks ini dapat ditahan secara sadar.

”Kandung kemih orang dewasa hanya berkapasitas kurang lebih 300 mililiter. Saat volume urine di dalam kandung kemih mencapai 200 mililiter, terjadi peningkatan di dalam kandung kemih yang akan memicu reseptor yang sensitif di otot dinding kandung kemih. Kemudian terkirimlah sinyal ke sistem saraf pusat yang menimbulkan sensasi ingin buang air kecil,” terang Dicky.

 

Dampak Sering Menahan Kencing

Apakah bahaya menahan buang air kecil? Dicky mengungkapkan, menahan buang air kecil sesekali waktu karena kondisi tertentu sebenarnya tidak masalah. Tetapi, jika sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan secara terus-menerus, dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan.

Mulai dari batu kandung kemih, nyeri pinggang, kebocoran urine, dan lain-lain. ”Salah satu akibat menahan buang air kecil adalah timbulnya rasa nyeri dan tidak nyaman di area kandung kemih,” jelas Dicky.

Hal ini terjadi karena kandung kemih memiliki batas dalam menampung urine. Jika urine terus-menerus ditahan, maka kandung kemih akan semakin penuh. “Dan, akhirnya meregang menyebabkan nyeri,” ungkap dokter yang bertugas di Klinik Graha Kumala Kota Probolinggo dan RS Graha Sehat itu.

Jika kondisi itu terjadi secara berkepanjangan, diungkapkan Dicky, maka kandung kemih bisa menjadi longgar permanen dan mempersulit kontraksi. Akibatnya, penderita mengalami keluhan sulit atau bahkan tidak bisa buang air kecil.

Terkadang kondisi ini membuat penderitanya memerlukan kateter untuk mengeluarkan urine.”Kebiasaan menahan buang air kecil juga dapat membuat proses berkemih tidak tuntas dan menyisakan sisa urine di kandung kemih,” bebernya.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut bisa memicu terbentuknya batu ginjal dan batu kandung kemih. “Semakin sering menahan buang air kecil, kemungkinan endapan mineral ini membentuk batu akan semakin besar,” imbuhnya.



Selain itu, akibat menahan buang air kecil, lanjut Dicky, juga bisa terjadi inkontinensia urine. Yaitu, kebocoran urine atau mengompol karena melemahnya otot kandung kemih. Terlalu sering menahan kencing dapat membuat otot kandung kemih mengencang, lama-kelamaan kekuatan otot pun akan mengendur dan elastisitasnya berkurang.

Infeksi saluran kemih (ISK) juga dapat terjadi akibat sering menahan buang air kecil. ISK bisa terjadi karena di dalam urine terdapat kotoran, racun, dan limbah tubuh, termasuk juga bakteri.

”Saat kita sering menahan buang air kecil, bakteri yang terkandung di dalam urine mempunyai banyak waktu untuk berkembang biak dan menimbulkan infeksi. Jika terjadi ISK, kita akan merasakan gejala seperti nyeri di perut bagian bawah, rasa sakit ketika buang air kecil, bahkan urine bercampur darah,” paparnya.

Normalnya buang air kecil setiap 3-4 jam saat terjaga siang hari. Serta, sekali di malam hari ketika tidur. Sebaiknya menahan buang air kecil hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai toilet.

”Sesekali menahan keinginan untuk buang air kecil selama 1 atau 2 jam mungkin tidak akan menyebabkan kerusakan saluran kemih secara permanen. Akan tetapi, menahan keinginan untuk buang air kecil dalam waktu yang terlalu lama dapat mengganggu kerja kandung kemih kita,” tambahnya. (mas/mie) Editor : Jawanto Arifin
#tips kesehatan #info kesehatan