Menurut dr Husnul Rofiq, penggunaan kaus kaki pada bayi sebenarnya baik karena bisa bermanfaat untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat. Tapi, tidak boleh sembarangan dalam memasangkan kaus kaki itu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama adalah kelembapan. Bayi cenderung memiliki cairan yang cukup banyak dalam tubuhnya. Sehingga mereka sering berkeringat. Karena itu, kaus kaki yang digunakan harus sering dijaga kebersihannya.
Jika kaus kaki tidak bersih dan tetap dipakai meski sudah kotor, rawan berakibat jamur dan infeksi pada kulit bayi. Jamur ini ditandai dengan munculnya ruam kemerahan dengan gejala yang sangat gatal. Penyebabnya, kaus kaki tidak diganti. Bisa juga mengakibatkan infeksi dengan ditandai munculnya bintik-bintik merah sampai timbul nanah.
”Dan, ini sangat rawan terpapar pada bayi yang jarang diganti kaus kakinya,” ungkap dokter 42 tahun tersebut.
Bagaimana ukuran kaus kaki yang baik? Banyak orang tua yang suka memilihkan kaus kaki pada bayi dengan ukuran yang terlalu ketat. Dampaknya, pembuluh darah terlalu tertekan. Sehingga terjadi proses peradangan pada kaki. Akibatnya, terjadi alergi dan mengakibatkan gatal dan berujung infeksi.
Selain itu, pemilihan bahan kaus kaki. Sering bayi menggunakan bahan yang tidak bagus, seperti bahan nilon yang harganya lebih murah. Jika digunakan dalam waktu cukup lama, kaus kaki ini bisa menimbulkan iritasi karena bahannya tidak bisa menyerap keringat.
Iritasi ini ditandai dengan ruam kemerahan berbentuk mengikuti ukuran kaus kaki. Ruam ini terasa gatal. Kalau digaruk, bisa terjadi infeksi. Kalau tidak segera dibawa ke dokter, dampaknya bisa semakin parah. Kulit kaki bisa mengalami selulitis atau infeksi bakteri di kulit.
”Ruam ini bisa melepuh seperti bekas luka bakar, bengkak, hingga nyeri saat ditekan. Kalau dibiarkan, timbul cedera pada sel yang menyebabkan kematian pada jaringan. Akhirnya harus diamputasi," terang dr Rofiq.
Kulit Kaki Bayi Perlu Istirahat
Penggunaan kaus kaki terlalu lama pada bayi tidaklah baik bagi kesehatan. Sebaiknya, ada jeda waktu yang cukup lama sebelum bayi menggunakan kaus kaki lagi setelah dilepas. ”Kulit perlu ada sirkulasi udara,” kata dr Rofiq.
Dokter umum di Puskesmas Sukabumi, Kota Probolinggo, itu menjelaskan, bayi boleh menggunakan kaus kaki saat tidur untuk menjaga tubuhnya tetap hangat. Tapi, pemakaiannya tidak boleh selama 24 jam. Karena pori-pori kulit bisa terganggu. Kulit kaki harus diistirahatkan dalam waktu yang cukup lama.
Saat musim hujan, ketika suhu udara lebih dingin, orang tua bisa menyiasatinya dengan menggunakan selimut sebagai pengganti kaus kaki. Jadi, pemakaian kaus kaki tetap dalam batas wajar. Selain itu, minyak kayu putih dan mandi air hangat bisa menjadi alternatif lainnya.
"Kalau tetap ingin menggunakan kaus kaki saat tidur, boleh-boleh saja. Tapi, kaus kaki yang digunakan harus longgar. Jangan terlalu ketat," ungkapnya.
Selain itu, sebaiknya orang tua memilih kaus kaki berwarna putih daripada warna gelap. Sehingga kebersihan kaus kaki bisa lebih terjaga. Idealnya kaus kaki itu digunakan dua jam saja dalam sehari. Jika ingin menggunakan lebih dari itu, kaus kaki yang digunakan sebaiknya longgar.
"Pemilihan kaus kaki juga sebaiknya yang dari bahan bambu. Ini bagus untuk kelembapan kulit pada bayi karena bisa menyerap keringat. Tapi, tetap tidak boleh terlalu lama digunakan," jelas dr Rofiq. (riz/far)
Manfaat Kaus Kaki untuk Bayi
- Menjaga suhu tubuh tetap hangat
- Menjaga kelembapan kaki bayi
- Menjaga kebersihan kulit kaki
Menggunakan Kaus Kaki bagi Bayi
- Memasang kaus kaki yang bersih
- Menggantinya agar tidak terlalu lama dipakai
- Memilih ukuran yang tidak terlalu ketat
- Memilih bahan kaus kaki yang lebih sehat
- Memilih warna terang untuk menjaga kebersihan
- Mengoleskan minyak kayu putih dan mandi air hangat
Dampak Pemakaian Kaus Kaki Tidak Sehat
- Muncul jamur dan ruam-ruam di kulit
- Muncul bintik-bintik merah dan infeksi
- Terjadi peradangan jika terlalu ketat
- Berakibat iritasi jika bahan tidak menyerap keringat
- Menyebabkan infeksi bakteri dan merusak jaringan kulit
Sumber: dr Husnul Roffiq Editor : Jawanto Arifin