Kebotakan pada pria dikenal dengan sebutan alopesia androgenetik atau male pattern hair loss atau kerontokan rambut. Kondisi itu bergantung pada hormon androgen yang diproduksi di testis dan berfungsi pada reproduksi pria serta ditentukan secara genetik.
Mereka mengalami kebotakan itu karena hormon androgen berfungsi optimal. Namun, reseptor molekul yang menerima sinyal kimia pada akar rambut bekerja berlebihan, sehingga merusak akar rambut.
”Secara genetik, jika orang tua punya riwayat kebotakan, maka anak mereka juga cenderung mengalami kondisi serupa,” jelas dokter spesialis kulit di Kota Probolinggo dr Brahma.
Kebotakan ini memiliki pola tertentu. Ada yang berpola seperti garis rambut yang semakin melebar. Misalnya, membentuk huruf M. Ada pula rambut menipis pada bagian mahkota.
Namun, yang paling parah adalah kebotakan dengan bagian depan bertemu bagian belakang sehingga menyisakan rambut di tepi dan belakang saja. Tingkat keparahan bisa semakin meningkat seiring bertambahnya usia.
”Memang, lebih dari 50 persen pria yang mengalami kebotakan itu adalah laki-laki di atas usia 50 tahun. Tapi, laki-laki yang baru berusia 18 tahun juga berisiko mengalami ini,” tambah dr Brahma.
Selain faktor genetik, kebotakan juga bisa disebabkan oleh kuman dan jamur. Berbeda dengan kebotakan karena genetik yang membentuk pola, kebotakan ini bisa muncul di mana saja. Bentuknya tidak simetris.
Kebotakan merupakan akibat jamur tinea yang bisa memicu kerontokan rambut. Jamur ini bisa saja berasal dari penularan hewan peliharaan. Dan, biasanya menyerang anak usia antara 6 sampai 14 tahun. Sebab, kelenjar minyak masih belum bekerja optimal.
”Kebotakan akibat kuman bisa terjadi di usia dewasa dan anak-anak. Sama-sama berisiko mengalaminya. Kebotakannya tidak simetris,” terang dr Brahma.
Kebotakan Itu Bisa Disembuhkan
Bisakah kebotakan disembuhkan? ”Bisa,” kata dr Brahma. Syaratnya, kondisinya belum sampai parah. Namun, tentu, pengobatan dilakukan setelah ada pemeriksaan klinis oleh dokter. Obat yang digunakan juga sebaiknya berdasar resep dokter.
Misalnya, kebotakan yang disebabkan oleh jamur bisa disembuhkan dengan memberikan obat antijamur. Lamanya minimal 1,5 bulan. Sementara, botak yang disebabkan oleh kuman, bisa diberi antibiotik selama sebulan.
”Untuk kebotakan oleh kuman dan jamur ini, penyembuhannya memang agak lama. Bisa antara 4 sampai 6 bulan pengobatan,” jelas pria yang tinggal di Jalan Tidar, Kota Probolinggo, ini.
Untuk kebotakan karena genetik atau hormon, tentu harus menggunakan resep dokter. Caranya adalah meningkatkan nutrisi rambut dengan penyubur rambut tertentu. Apabila kondisinya lebih berat, juga butuh obat minum.
”Obat minum ini berfungsi untuk menurunkan reseptor hormon androgen yang bekerja berlebihan. Tentu harus diminum secara rutin agar hasilnya optimal,” jelasnya.
Menurut dr Brahma, obat yang dijual di pasaran sebenarnya aman. Tapi, itu hanya memberikan nutrisi dari luar. Karena itu, lebih bagus bila menggunakan resep dokter. Sebab, ada beberapa efek samping yang harus dijelaskan oleh dokter.
Contohnya, bagi rambut yang sensitif, terkadang timbul ketombe. Jika dipakai berlebihan, bisa berefek pusing. Pengobatan akan lebih sukses jika kebotakannya masih ringan.
”Kalau yang (botak) sedang atau berat, sulit menggunakan obat. Solusinya harus transplantasi rambut. Hasilnya bergantung pada tingkat kesuksesan dokter bedah,” pungkas dr Brahma. (riz/far) Editor : Jawanto Arifin