BANTARAN, Radar Bromo-Suasana duka menyelimuti rumah orang tua SM, 24 korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan di dasar sumur Alassumur Kulon, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Rumah korban SM di Dusun Ra`ab, Desa/ Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo Sabtu (4/7) siang dipenuhi warga. Sejumlah warga dan sanak saudara silih berganti bertakziah, ke rumah duka.
Tetangga korban, Jum`ati, 30, mengatakan, jenazah korban disemayamkan di Makam Tandes, Dusun Ra`ab. Jum mengatakan, kejadian ini bermula saat korban pamit hendak beli ayam geprek di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Sabtu (30/5), sekitar pukul 18.30.
“Dia naik motor milik adiknya, sendirian. Karena memang dia (korban) tidak pernah keluar rumah, akhirnya bingung, katanya di Kanigaran itu,” katanya.
Kala itu, handphone korban masih aktif hingga pukul 22.00. Kemudian, tidak bisa dihubungi. Khawatir, pihak keluarga berupaya menyusul ke Kota Proboligngo, namun tidak ditemukan. Keesokan harinya, Senin (1/6), pihak keluarga melapor ke Polsek Bantaran.
Setalah laporan, pukul 14.20, motor korban ditemukan di Sungai Randumerak, Kecamatan Paiton. Namun, Honda Beat bernopol N 2068 OU itu ditemukan tidak utuh. Sejumlah bodi motor tampak terlepas.
“Sisa hanya kerangkanya dan ATM adik korban juga hilang. Untungnya uang di dalamnya masih sempat diselamatkan. Sudah dipindah ke ATM lainya,” ujarnya.
Tante korban, Nur Hidayah, 30, mengatakan berbekal dari lokasi ditemukannya motor korban, pihak keluarga menduga korban berada di sekitar daerah tersebut.
Pada hari korban ditemukan, ibunda korban, Maryam, 44, melihat informasi adanya sebuah jenazah yang ditemukan di daerah Kecamatan Kraksaan.
“Mungkin karena keluarga, jadi nyambung jiwanya. Dia langsung ngomong mungkin ini anak saya. Jadi, kami langsung ke rumah sakit untuk memastikan dan ternyata benar,” katanya.
Maryam tak kuasa melihat anak pertamanya tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal tak wajar. Ia juga mengenali sang anak dari struktur gigi dan cincin emas yang dipakainya di jari tengah tangan kirinya. “Dia langsung mengenali itu anaknya,” tutur Nur.
Masih merasa janggal, keluarga korban berusaha mencari informasi dari orang-orang terdekat korban, seperti keponakannya yang merupakanw arga Desa Besuk, Kecamatan Bantaran.
“Dia bercerita korban sempat berkenalan dengan seorang lelaki di aplikasi perjodohan. Akhirnya, kami lacak dan rumahnya dekat dengan penemuan motor. Itu akhirnya bisa tertangkap pelaku yang berinisial RF,” terangnya.
Nenek korban, Suhana, 50, mengatakan, korban telah menikah. Namun, sejak sekitar dua bulan lalu korban pulang ke rumah orangtuanya, karena ada perselisihan rumah tangga dengan sang suami. Suami korban diketahui sedang sakit dan baru selesai operasi di Malang.
“Dia juga bawa dua anaknya ke sini. Yang pertama usia 5 tahun dan yang kedua usia 2 tahun. Tapi, memang tidak pernah cerita apa-apa. Mungkin sedih karena hal itu. Sejak mamanya hilang, anaknya cari mamanya terus,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Muhammad Fahmi