Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Polisi Akui Kesulitan Ungkap Perampokan di Kedungrejo Winongan Pasuruan

Fuad Alyzen • Selasa, 21 April 2026 | 08:46 WIB
Ilustrasi (gemini ai)
Ilustrasi (gemini ai)

WINONGAN, Radar Bromo - Teka-teki kasus perampokan sadis yang menimpa Hunaina, 30, warga Dusun Sumber Telur, Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, kini menjadi prioritas penyelidikan Kepolisian Sektor Winongan bersama Polres Pasuruan.

Petugas terus bergerak mendalami keterangan saksi-saksi guna memetakan identitas dua terduga pelaku bersarung yang tega melukai korban, di hadapan anaknya yang masih kecil.

Aksi kriminalitas yang terjadi pada Senin (6/4) dini hari tersebut, berlangsung sangat mencekam.

Pelaku menyusup masuk melalui jendela samping rumah, sekitar pukul 02.30, di saat korban tengah terlelap.

Kehadiran orang asing tersebut baru disadari korban, ketika salah satu pelaku mencoba melepas paksa perhiasan anting yang tengah ia kenakan.

Upaya Hunaina untuk mempertahankan diri justru berujung pada tindakan brutal dari para pelaku.

Tanpa ampun, pelaku memukul punggung korban menggunakan senjata tajam jenis wedung hingga mengakibatkan luka cukup dalam.

Belum puas, pelaku menarik paksa anting tersebut hingga menyebabkan telinga kanan korban robek, memaksa korban harus dilarikan ke RSUD Grati untuk mendapatkan perawatan medis serius.

Akibat peristiwa ini, korban harus merelakan kehilangan harta benda dengan total nilai kerugian mencapai Rp 40 juta.

Selain sembilan jenis perhiasan emas yang menjadi sasaran utama, para pelaku juga menggasak dua buah ponsel.

Serta sejumlah uang tunai yang disimpan di dalam lemari plastik dan ruang tamu sebelum akhirnya melarikan diri melalui pintu belakang.

Kapolsek Winongan, AKP Nanang Abidin, mengakui bahwa pengungkapan kasus ini menghadapi tantangan besar, karena minimnya bukti petunjuk di lapangan.

“Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) belum membuahkan hasil signifikan, ditambah lagi dengan nihilnya rekaman CCTV di sekitar lokasi yang mempersulit petugas untuk melacak rute pelarian para pelaku setelah beraksi,” urainya.

Meskipun menghadapi jalan buntu dalam hal jejak digital, polisi terus melakukan sinkronisasi data dengan pemeriksaan kasus ledakan bondet yang terjadi di desa yang sama.

Nanang menegaskan pihaknya tetap berkomitmen penuh untuk memburu pelaku, meski korban mengaku tidak memiliki musuh atau konflik pribadi yang bisa menjadi motif awal dari aksi pencurian dengan kekerasan tersebut. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kejahatan #perampokan #polres pasuruan