Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Strategi Begal-Maling di Balik Aksi Jahat, Tidak Spontan, Persiapan Matang, Pilih Lokasi-Korban

Inneke Agustin • Minggu, 19 April 2026 | 07:49 WIB
Ilustrasi begal (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)
Ilustrasi begal (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

PEMBEGALAN dan pencurian kendaraan bermotor belakangan ini makin marak di Probolinggo. Kondisi ini membuat warga yang biasa bepergian menggunakan kendaraan bermotor, terutama motor, resah.

Anehnya, para pelaku seakan begitu licin. Sulit dibekuk. Ternyata ada sejumlah persiapan yang dilakukan para pelaku sebelum beraksi.

Maraknya kasus pembegalan dan pencurian sepeda motor dalam beberapa waktu terakhir di wilayah Kota-Kabupaten Probolinggo, memicu keresahan masyarakat.

Tak sedikit warga yang kemudian memberi label “darurat begal dan curanmor” bagi dua wilayah ini.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Intensitas kejadian yang meningkat membuat rasa aman masyarakat kian tergerus. Terutama saat beraktivitas pada malam hari.

Dari hasil penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, sejumlah pelaku mengungkap, bahwa aksi kejahatan tersebut tidak dilakukan secara spontan. Para pelaku justru melakukan persiapan matang sebelum beraksi.

Mulai dari pemilihan waktu, lokasi, hingga target korban. Situasi dan kondisi lingkungan menjadi pertimbangan utama demi meminimalkan risiko tertangkap.

Salah satu terpidana kasus begal motor asal Kota Surabaya berinisial GA, 26, mengaku dalam beraksi butuh beberapa modal utama. Selain tekad, juga membawa senjata tajam (sajam). Seperti pisau atau golok untuk berjaga-jaga jika korban melawan.

Sementara, untuk kendaraan operasional, begal yang beraksi kadang berdua dan bertiga ini memilih menggunakan sepeda motor jenis matik. Khususnya Honda Vario. Menurutnya, motor jenis ini lebih stabil saat digunakan dalam kecepatan tinggi, sehingga memudahkan pelarian. “Makanya, begal kebanyakan pakai Vario, ya karena itu,” katanya.

Pemilihan waktu juga bukan tanpa perhitungan. GA dan komplotannya lebih sering beraksi pada malam hingga dini hari. Yakni, selepas pukul 21.00 hingga sekitar pukul 02.00. Pada jam-jam itu, kondisi jalanan cenderung sepi, sehingga memudahkan komplotanya beraksi. Lokasi yang dipilih, umumnya minim penerangan dan jauh dari keramaian.

“Kalau pun dekat permukiman, tapi situasinya aman, tetap kami lakukan. Biasanya korban tidak sempat teriak. Kalau ada yang dengar, sering dikira orang bertengkar. Saat warga sadar, kami sudah jauh,” ujar pria beristri ini.

Dalam menentukan sasaran, GA mengaku lebih memilih anak muda yang terlihat mencolok di jalan. Selain itu, perempuan dan orang tua juga menjadi target alternatif. Meski demikian, ia mengklaim kelompoknya masih memiliki batasan tertentu.

“Kalau perempuan atau orang tua kadang masih kasihan. Tapi, tetap kami siapkan senjata. Kalau korban melawan, baru digunakan,” jelasnya.

Jenis kendaraan yang paling sering menjadi incaran adalah motor matik. Selain jumlahnya yang dominan di jalan, nilai jualnya di pasar gelap juga relatif tinggi. Motor matik keluaran lama, harga jual berkisar Rp 3 hingga Rp 4 juta. Sedangkan, model yang lebih baru, seperti Beat atau Scoopy, nilainya bisa mencapai Rp 8 hingga Rp 9 juta.

Setelah berhasil mendapatkan motor curian, GA langsung membawanya pulang. Keesokan harinya, penadah akan langganan datang mengambilnya. Menurutnya, biasanya motor dijual dalam kondisi apa tanpa modifikasi. Penadah juga tidak mempermasalahkan kelengkapan dokumen kendaraan.

“Dia (penadah) sudah tahu itu motor curian. Jadi, tidak akan tanya STNK atau BPKB. Kalau ada, ya hanya tambahan saja. Nanti dijual lagi dengan harga lebih tinggi ke pembeli,” ujar pria yang kini mendekam di Lapas Kelas IIB Probolinggo, karena kasus pembegalan ini.

Pengakuan ini menjadi gambaran nyata, bahwa aksi begal dan pencurian kendaraan bermotor merupakan kejahatan terorganisir yang melibatkan rantai panjang. Mulai dari pelaku hingga penadah. Kondisi ini sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat beraktivitas di waktu rawan dan di lokasi yang minim pengawasan.

 

Andalkan Ilmu Sirep dan Primbon

Meski sama-sama menyasar sepeda motor, pola kejahatan pencurian memiliki cara kerja berbeda dengan aksi pembegalan di jalanan. Resiko mencuri motor di dalam rumah, lebih minim dibandingkan dengan merampok di jalanan.

Hal ini diungkapkan pelaku spesialis maling motor dalam rumah asal Kabupaten Probolinggo. inisialnya, DI, 50. Menurutnya, mencuri di lingkungan permukiman lebih “aman” dibandingkan harus berhadapan langsung dengan korban di jalanan.

DI mengaku telah lama menjadi maling motor. Ia bahkan terang-terangan menyebut aksi begal membutuhkan usaha dan risiko yang lebih besar. “Kalau begal harus mengejar korban dan setelah itu kabur. Risikonya besar. Kalau mencuri di rumah, lebih jelas dan relatif lebih kecil risikonya,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun menjalani aksi pencurian, DI mengembangkan metode yang menurutnya mampu memperlancar aksinya. Ia mengaku rutin berguru kepada seseorang di wilayah Kabupaten Lumajang selama hampir tiga tahun, dengan intensitas kunjungan sekitar sebulan sekali. Ia mempelajari apa yang disebutnya sebagai ilmu sirep.

“Belajar doa-doa supaya saat kami beraksi, pemilik rumah tidak sadar. Kalaupun terbangun, tidak curiga. Bahkan, kalau ada tetangga yang melihat, mereka seolah tidak bereaksi,” ungkapnya.

Namun, kemampuan ini tidak didapat secara cuma-cuma. DI menyebutkan, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Termasuk menyiapkan sesajen berupa hasil bumi hingga ayam. Ia juga mengandalkan perhitungan waktu berdasarkan primbon sebagai pedoman sebelum beraksi.

“Dari primbon itu kami tentukan jam masuk, kondisi lingkungan, sampai arah pelarian. Semua sudah diperhitungkan. Jadi, tidak asal,” jelasnya.

Dalam menentukan target, DI mengaku tidak selalu mengincar rumah tertentu secara spesifik. Namun, ia tetap melakukan pengamatan awal terhadap kebiasaan penghuni rumah, akses masuk, hingga jalur pelarian. Bahkan, sebelum waktu yang dianggap “tepat,” ia bersama kelompoknya sudah berada di sekitar lokasi.

“Biasanya kami sudah menunggu di belakang rumah. Begitu masuk waktu yang sesuai, baru kami bergerak. Sebelum masuk, ya membaca ajian dulu,” katanya.

Aksi pencurian tersebut dilakukan secara berkelompok dengan pembagian tugas yang jelas. Ada yang bertugas masuk ke dalam rumah untuk mengambil kendaraan, sementara lainnya berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan situasi tetap aman.

Meski terbilang terencana, DI mengakui tidak semua aksinya berjalan mulus. Ia kerap menghadapi kendala di lapangan. Seperti pintu rumah yang sulit dibobol. “Kadang pintu digrendel banyak. Dilinggis pun butuh waktu lama, bisa setengah jam sendiri. Tapi, kalau sudah sampai ke motor, membobolnya cepat, tidak sampai semenit,” terangnya.

Tak jarang pula harus mengurungkan niat dan pulang dengan tangan kosong. Hal itu terjadi jika waktu aksi telah melewati batas yang diyakininya berdasarkan perhitungan primbon. “Kalau sudah lewat waktunya, harus keluar. Barang ditinggal, tidak jadi diambil. Daripada celaka (tertangkap),” ujarnya.

Untuk satu unit motor matik hasil curian, DI mengaku bisa menjualnya kepada penadah dengan harga sekitar Rp 3,5 juta. Hasil penjualan itu kemudian dibagi rata dengan kelompoknya. Penadah yang menjadi mitranya, sudah memahami asal-usul barangnya.

“Penadah tidak akan tanya STNK atau BPKB. Sudah tahu itu motor curian. Paling hanya tanya dapatnya dari mana. Biasanya nanti dijual lagi di luar daerah, misalnya dari selatan dibawa ke utara,” ujar pria yang kini dipenjara di Lapas Kelas IIB Probolinggo ini.

 

Rasa Aman Masyarakat Menipis

Maraknya kasus kriminalitas sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat. Maraknya kasus pembegalan dan pencurian kendaraan bermotor di wilayah Kota-Kabupaten Probolinggo, tak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga mulai menggerus kondisi sosial masyarakat.

Rasa cemas yang meluas, bahkan memicu munculnya informasi keliru atau hoaks, yang semakin memperkeruh situasi. Beberapa peristiwa kecelakaan lalu lintas, misalnya, sempat disalahartikan dan disebarkan sebagai kasus pembegalan, sehingga memperbesar kepanikan publik.

Dampak paling terasa dialami para pekerja sektor informal, salah satunya pengemudi ojek online. Mereka kini harus lebih selektif dalam menerima pesanan demi menjaga keselamatan. Pengemudi ojek online asal Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo Tomy Hariadi mengatakan, sejak maraknya kasus begal, pendapatannya menurun drastis.

“Orderan turun hampir separo dibanding sebelumnya. Sekarang kami banyak menolak pesanan dari daerah rawan atau di atas pukul 23.00,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelum situasi ini terjadi, para pengemudi ojek online biasa beroperasi hingga larut malam, bahkan hingga dini hari. Namun, kini sebagian besar memilih membatasi jam kerja dan menghindari wilayah yang dianggap rawan, seperti Kecamatan Wonoasih, Sepuh Gembol, hingga kawasan Patalan.

“Biasanya sehari bisa dapat 15 orderan, sekarang hanya sekitar 7 sampai 8 saja. Dampaknya juga terasa ke restoran atau tempat makan, karena ikut sepi,” tuturnya.

Tak hanya soal lokasi dan waktu, para abang ojek juga semakin waspada terhadap pola pemesanan yang mencurigakan. Tomy menyebut, pesanan dengan metode pembayaran tunai kerap menjadi pertimbangan untuk ditolak. Terutama jika disertai permintaan pengantaran ke lokasi yang tidak sesuai titik pemesanan.

“Kalau non-tunai relatif lebih aman, karena jelas datanya. Tapi, kalau tunai masih fifty-fifty, apalagi kalau minta diantar ke lokasi yang sepi, seperti dekat persawahan. Lebih baik dibatalkan meski rugi, daripada ambil risiko,” jelasnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan masyarakat umum. Syauban Anas, warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, mengaku kini lebih waspada. Terutama saat anggota keluarganya harus beraktivitas pada malam hari. Ia menerapkan langkah pengawasan ekstra untuk memastikan keselamatan istri dan anaknya. “Kalau istri ada kegiatan malam atau pulang kerja malam, saya minta share location secara live,” katanya.

Dengan fitur berbagi lokasi itu, Anas dapat memantau pergerakan istrinya secara real time. Jika terdapat jeda pergerakan yang mencurigakan, ia segera menghubungi untuk memastikan kondisi.

“Kalau tiba-tiba berhenti lama, langsung saya telepon. Karena kalau terjadi sesuatu seperti begal, biasanya korban tidak bisa komunikasi. Setidaknya saya masih bisa memantau dari rumah,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, Anas dan keluarganya kini membatasi aktivitas di luar rumah pada malam hari. Mereka memilih menunda kegiatan yang tidak mendesak hingga pagi atau siang hari demi mengurangi risiko.

“Sekarang setelah Isya sebisa mungkin sudah di rumah. Kalau memang butuh sesuatu pada malam hari, kami lebih pilih pesan lewat ojek online untuk alasan keamanan,” pungkasnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kejahatan jalanan tidak hanya dirasakan oleh korban langsung. Tetapi juga meluas ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Rasa aman yang menurun, perubahan pola aktivitas, hingga tekanan ekonomi bagi pekerja menjadi konsekuensi nyata yang harus dihadapi di tengah meningkatnya kasus kriminalitas. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#persiapan matang #maling #keamanan #begal #motocross