Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petani Kentang Polisikan Perangkat Desa Ngadisari-Probolinggo

Inneke Agustin • Rabu, 1 April 2026 | 16:05 WIB
TERLUKA: Dedi Widianto, terluka setelah diduga dianiaya dua orang Perangkat Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Rabu (25/3). (DEDI WIDIANTO FOR JAWA POS RADAR BROMO)
TERLUKA: Dedi Widianto, terluka setelah diduga dianiaya dua orang Perangkat Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Rabu (25/3). (DEDI WIDIANTO FOR JAWA POS RADAR BROMO)

 

SUKAPURA, Radar Bromo- Dua perangkat desa di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dipolisikan. Laporan dilayangkan seorang petani kentang asal Desa Kedasih, Kecamatan Sukapura, Dedi Widianto, 23. Perangkat desa itu dituding telah menganiayanya.

Dedi mengaku, saat itu, Rabu (25/3) sekitar pukul 20.30, mengambil kentang borongan milik atasannya di sebuah lahan di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura. Setelah seluruh hasil panen selesai dimuat ke truk, tiba-tiba didatangi sejumlah warga.

“Saya ditegur karena mengambil kentang pada malam hari. Katanya, tidak diperbolehkan. Lalu saya dibawa ke Pos Linmas yang tidak jauh dari lokasi,” ujarnya.

Di pos itu, Dedi mengaku menyampaikan permohonan maaf. Karena tidak mengetahui adanya aturan pembatasan aktivitas di lahan pertanian. Ia juga mendapat penjelasan, aturan itu diberlakukan karena maraknya kasus pencurian hasil pertanian.

Namun tidak kunjung kondusif. Dedi kemudian berinisiatif merekam kondisi di lokasi menggunakan ponselnya. Tujuannya, untuk memberi kabar kepada atasannya terkait kendala yang dihadapi.

“Saya hanya ingin memberi informasi kalau truk masih tertahan di atas,” katanya.

Namun suasana justru memanas. Ia mengaku dipukuli oleh dua orang perangkat desa.

“Saya dipukul dengan tangan kosong. Akibatnya, saya mengalami luka di bagian kepala dan pipi. Badan juga terasa sakit semua,” katanya.

Ia baru bisa meninggalkan lokasi dalam kondisi terluka Kamis (26/3) pagi. Karena masih merasa sakit, ia baru melaporkan kejadian ini ke kepolisian Jumat (27/3).

Terpisah, Kepala Desa Ngadisari Sunaryono memberikan penjelasan berbeda terkait kejadian tersebut. Ia mengatakan, peristiwa itu berawal dari keresahan warga akibat maraknya pencurian dan penipuan hasil pertanian. Seperti kentang, kubis, dan bawang.

“Termasuk modus penipuan, barang dibawa tapi pembayarannya tidak lunas. Ini yang membuat masyarakat resah,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa bersama warga menyepakati pembatasan aktivitas di lahan pertanian hingga pukul 17.00. Dengan toleransi maksimal pukul 18.00. Namun menurutnya, Dedi tetap beraktivitas hingga sekitar pukul 20.30. Tindakannya dinilai melanggar aturan.

“Petugas Linmas dan perangkat desa mendatangi lokasi untuk memberikan peringatan. Karena situasi tidak kondusif, yang bersangkutan kami amankan ke Pos Linmas untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Di pos, Dedi diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi. Ia juga ditawari pilihan untuk melanjutkan pengangkutan kentang pada malam hari dengan konsekuensi bila ada laporan kehilangan, siap tanggung jawab atau menundanya hingga pagi.

“Akhirnya, dipilih dilanjutkan pagi,” jelas Sunaryono.

Namun situasi kembali memanas saat Dedi merekam dan mengirim video tanpa izin kepada atasannya. Perbuatannya dianggap seolah-olah menggambarkan adanya aturan baru yang memberatkan.

“Kami mengetahui yang bersangkutan merekam video tanpa izin, kemudian terjadi pemukulan,” akunya.

Meski demikian, pihaknya menyatakan siap bersikap kooperatif dalam menghadapi proses hukum yang berjalan.

“Kami hanya ingin menjaga ketenteraman desa dari gangguan pencurian dan penipuan yang meresahkan warga,” tegasnya.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP I Made Kembar Mertadana mengaku telah menerima laporan Dedi.

“Kasus ini menjadi atensi bersama. Saat ini masih dalam proses,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#probolinggo #Seorang #sukapura