Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pembunuhan di Penginapan Tongas, Tersangka Bersikukuh Tak Membunuh Istri Sirinya, Bakal Panggil Wali Nikah

Inneke Agustin • Jumat, 9 Agustus 2024 | 05:02 WIB
DIPERIKSA: Tersangka Dedi ketika menjalani periksaan di Mapolres Probolinggo Kota, Rabu (7/8).
DIPERIKSA: Tersangka Dedi ketika menjalani periksaan di Mapolres Probolinggo Kota, Rabu (7/8).

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Dedi, 39, tersangka kasus pembunuhan terhadap istri sirinya Maryam, 36, di penginapan yang ada di Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo masih bersikukuh dengan pengakuannya.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam pembunuhan itu, warga Pohsangit Ngisor, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, ini tetap tak mau mengaku.

Tersangka tetap dengan pengakuan awalnya. Yakni, korban meninggal karena sesak napas setelah tersedak permen.

Kepolisian memastikan akan terus melakukan pemeriksaan meski tersangka dinilai kurang kooperatif.

“Tidak masalah. Kami sudah melengkapi bukti pendukungnya. Mulai dari keterangan beberapa saksi, olah TKP (tempat kejadian perkara), dan hasil otopsi," ujar Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Didik Riyanto.

"Sehingga, sudah cukup kuat untuk menetapkan Ded sebagai tersangka,” imbuh perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.

Ya, hasil otopsi memang menyebutkan korban tewas dibunuh. Diduga dengan dicekik, pada tubuh korban juga terdapat sejumlah luka. 

Didik mengaku juga akan menyelidiki terkait status keduanya yang dikatakan sudah menikah siri.

Kepolisian akan memanggil wali yang menjadi wali nikah Maryam. Meski sejatinya status nikah siri ini tidak berkaitan dengan konstruksi hukum kasus ini.

“Nanti kami akan memastikan status tersangka dan korban apakah benar-benar telah menikah siri. Oleh sebab itu, kami akan memanggil kiai yang telah menikahkan mereka untuk dimintai keterangan,” tuturnya.

Diketahui, Minggu (4/8), Maryam meminggal dunia di salah satu kamar hotel di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Dari hasil penyelidikan kepolisian, korban diduga meninggal dunia karena dibunuh. Polisi pun menetapkan tersangaknya. Yakni, Dedi yang mengaku sudah menikah siri dengan korban.

Kepala Desa Pohsangit Ngisor Nijar mengatakan, setelah diketahui Maryam meninggal di kamar hotel, Dedi panik. “Dia ke rumah meminta bantuan,” ujarnya.

Tersangka memberi tahu jika Maryam meninggal di hotel. Khawatir keluarga korban marah. Mendapati itu, Nijar mengaku menjemput Kepala Pohsangit Tengah dan kemudian menuju lokasi kejadian.

“Saya berpesan kepada Dedi untuk tidak lari. Ia ngomong memang mau bertanggung jawab,” katanya.

Nijar membenarkan jika Dedi dengan Maryam sudah menikah siri. Namun, ia tidak tahu keduanya menikah siri di mana. “Saya juga tahunya dari kabar antartetangga, bahwa Dedi dan Maryam telah menikah siri,” katanya. (gus/rud)

 

Majikan Tak Pernak Lihat Korban Konsumsi Permen

MARYAM, korban pembunuhan suami sirinya, Dedi, 39, dikenal sebagai sosok penyayang di keluarganya. Korban juga cekatan dan supel di tempat kerjanya.

Korban bekerja kepada warga Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Sayap, 69. Menurut Sayap, korban menjadi asisten rumah tangga keluarganya sejak 6 tahun lalu. Selama ini, korban selalu cekatan. “Maryam juga suka menyapa orang-orang sekitar,” ujarnya.

Setiap hari, Maryam bertugas memasak dan membersihkan rumah Sayap. Aktivitas ini biasanya dilakukan sejak selesai salat Subuh. “Biasanya pukul 10.00 sudah selesai. Tergantung banyaknya pekerjaan hari itu. Bila sudah selesai, biasanya dia beristirahat. Kami sediakan kamar untuknya,” katanya.

Maryam pernah berkeluh kesah tentang kisah asmaranya kepada istri Sayap, Umi Sayap, 60. Korban mengaku mencintai seorang lelaki. “Saat curhat, saya pernah bertanya apakah lelaki tersebut telah beristri atau belum. Mar bilang tidak memiliki istri. Mungkin saat itu, juga belum tahu. Saya minta dia memastikan dulu,” ujarnya.

Lambat laun korban mengetahui Dedi telah memiliki istri dan anak. Mendapati itu, Umi Sayap memintanya mencari lelaki single. “Namun, Mar seolah kepalang cinta. Ia menolak,” katanya.

Umi Sayap mengaku tak pernah bertemu dengan tersangka. Ia baru mengetahui Maryam sering berjumpa Dedi, setelah kejadian nahas menimpa Maryam, Minggu (4/8).

“Kami tidak pernah bertanya detail ketika Mar berpamitan pulang. Sebab, kami juga memiliki kesibukan masing-masing. Ketika kami cek pekerjaannya sudah beres, ya kami izinkan,” katanya.

Umi Sayap juga mengatakan, sebelum kejadian, tak ada tanda-tanda Maryam memiliki sebuah masalah percintaan. Tampak normal seperti biasanya.

“Keluarga kami baru tahu setelah kasus ini gempar. Para tetangga seberang toko bercerita bahwa hari itu Mar memang pergi bersama lelaki. Lelaki tersebut menunggu di selatan. Mereka lantas berboncengan,” tuturnya.

Selain itu, Umi Sayap mengatakan, pihaknya tidak pernah melihat Maryam mengonsumsi permen. “Tidak pernah tampak Mar mengonsumsi permen sebetulnya. Apalagi kalau sebanyak itu,” katanya.

Permen menjadi masalah karena disebut-sebut telah “membunuh” Maryam. Kepada penyidik, Dedi mengatakan Maryam meninggal karena sesak napas setelah tersedak permen. Sebelum masuk hotel, kata Dedi, Maryam sempat membeli 2 kantong permen dan membawanya ke kamar. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#tersangka #pembunuhan